Mengembalikan segala resah pada sang pencipta berarti
mengakui keterbatasan diri. Tidak ada manusia yang mampu
sepenuhnya mengendalikan hidupnya, sebab segala sesuatu
berada dalam kuasanya. Kerap kali manusia mengira ia dapat
mengatasi segalanya dengan usaha sendiri, namun semakin keras
ia mencoba, semakin tampak kelemahannya. Menyerahkan
keresahan kepada Tuhan bukanlah tanda kelemahan kita,
melainkan sebuah pengakuan bahwa manusia hanyalah makhluk
dengan segala keterbatasan. Pengakuan itu justru menjadi
kekuatan, karena darinya tumbuh kesadaran bahwa selalu ada
tempat untuk bergantung, selalu ada sumber kasih yang tidak
pernah meninggalkan.
Di dalam do’a, keluh kesah berubah menjadi pengakuan
jujur tentang kondisi diri kepada Tuhan, manusia dapat
menyampaikan semua perasaan yang tidak mampu ia ceritakan
kepada siapa pun, karena sang pencipta selalu mendengar tanpa
menghakimi, dan selelu mendengar tanpa mengumbarkannya.
Dengan demikian, do’a menjadi ruang aman yang menghadirkan
rasa lega, segala keresahan yang dipendam, yang semula terasa
menghimpit, perlahan menemukan jalannya untuk dilepaskan.
Do’a tidak selalu mengubah keadaan secara langsung, tetapi do’a
mengubah hati orang yang berdo’a, hati yang semula penuh
resah menjadi lebih sabar, hati yang semula penuh cemas
menjadi lebih tenang, hati yang semula goyah menjadi lebih
kuat