{"id":9,"date":"2024-06-26T13:33:14","date_gmt":"2024-06-26T13:33:14","guid":{"rendered":"https:\/\/cmspkh.com\/tanya-jawab-tentang-al-quran-hakim\/adab-adab-terhadap-al-quran\/"},"modified":"2024-06-26T13:33:14","modified_gmt":"2024-06-26T13:33:14","slug":"adab-adab-terhadap-al-quran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cmspkh.com\/tanya-jawab-tentang-al-quran-hakim\/adab-adab-terhadap-al-quran\/","title":{"rendered":"ADAB ADAB TERHADAP AL-QUR&#8217;AN"},"content":{"rendered":"<p>Setiap muslim harus meyakini kesucian Kalamulloh, keagungannya, dan keutamaannya di atas seluruh kalam (ucapan). Al-Qur\u2019anul Karim itu Kalamulloh yang di dalamnya tidak ada kebatilan. Al-Qur\u2019an memberi petunjuk jalan yang lurus dan memberi bimbingan kepada umat manusia di dalam menempuh perjalanan hidupnya, agar selamat di dunia dan di akhirat, dan dimasukkan dalam golongan orang-orang yang mendapatkan rahmat dari Alloh Ta\u2019ala. Untuk itulah tiada ilmu yang lebih utama dipelajari oleh seorang Muslim melebihi keutamaan mempelajari Al-Qur\u2019an.<\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Sebagaimana sabda Nabi ShallAllohu \u2018alaihi wa sallam, yang artinya: \u201cSebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Al-Qur\u2019an dan mengajarkannya.\u201d (HR. Bukhari).<br \/>\nDalam riwayat Imam Muslim dijelaskan, yang artinya: \u201cBacalah Al-Qur\u2019an, sesungguhnya Al-Qur\u2019an itu akan menjadi syafa\u2019at di hari Qiyamat bagi yang membacanya (ahlinya).\u201d (HR. Muslim).<\/p>\n<p style=\"text-align: left\">Wajib bagi kita menghalalkan apa yang dihalalkan Al-Qur\u2019an dan mengharamkan apa yang diharamkannya. Diwajibkan pula beradab dengannya dan berakhlaq terhadapnya. Untuk mendapatkan kesempurnaan pahala dalam membaca Al-Qur\u2019an, di saat membaca Al-Qur\u2019an seorang Muslim perlu memperhatikan adab-adab yang akan disampaikan pada tulisan berikut ini.<\/p>\n<p style=\"text-align: left\">Agar membacanya dalam keadaan yang sempurna, suci dari najis, dan dengan duduk yang sopan dan tenang. Dalam membaca Al-Qur\u2019an dianjurkan dalam keadaan suci. Namun apabila dia membaca dalam keadaan najis, diperbolehkan dengan Ijma\u2019 umat Islam. Imam Haromain berkata; orang yang membaca Al-Qur\u2019an dalam keadaan najis, dia tidak dikatakan mengerjakan hal yang makruh, akan tetapi dia meninggalkan sesuatu yang utama. (At-Tibyan, hal.58-59).<\/p>\n<p style=\"text-align: left\">Membacanya dengan pelan (tartil) dan tidak cepat, agar dapat menghayati ayat yang dibaca.<\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Rasulullah ShallAllohu \u2018alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: \u201cSiapa saja yang membaca Al-Qur\u2019an (khatam) kurang dari tiga hari, berarti dia tidak memahami\u201d (HR. Ahmad dan para penyusun Kitab-KitabSunan). Dan sebagian kelompok dari generasi pertama membenci pengkhataman Al-Qur\u2019an sehari semalam, dengan dasar hadits di atas. Rasulullah telah memerintahkan Abdullah Ibnu Umar untuk mengkhatamkan Al-Qur\u2019an setiap satu minggu (7 hari). (Muttafaq Alaih). Sebagaimana yang dilakukan Abdullah bin Mas\u2019ud, Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit g, mereka mengkhatamkan Al-Qur\u2019an sekali dalam seminggu.<\/p>\n<p style=\"text-align: left\">Di dalam sebuah ayat Al-Qur\u2019an, Alloh Ta\u2019ala menjelaskan sebagian dari sifat-sifat hambaNya yang shalih, yang artinya:<\/p>\n<p style=\"text-align: center\">\u201cDan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu\u2019 (QS. Al-Isra\u2019: 109). Agar membaguskan suara di dalam membacanya, sebagaimana sabda Rasulullah ShallAllohu \u2018alaihi wa sallam, yang artinya: \u201cHiasilah Al-Qur\u2019an dengan suaramu\u201d (HR Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim). Di dalam hadits lain dijelaskan: \u201cTidak termasuk umatku orang yang tidak melagukan Al-Qur\u2019an\u201d (HR. Al-Bukhari dan Muslim).<\/p>\n<p>Maksud hadits di atas, membaca Al-Qur\u2019an dengan susunan bacaan yang jelas dan terang makhroj huruf nya, panjang pendeknya bacaan, tidak sampai keluar dari ketentuan kaidah Tajwid.<\/p>\n<p>Membaca Al-Qur\u2019an dimulai dengan Isti\u2019adzah.Alloh Subhanahu wa Ta\u2019ala berfirman, yang artinya:<\/p>\n<p style=\"text-align: center\">\u201cDan bila kamu akan membaca Al-Qur\u2019an, maka mintalah perlindungan kepada Alloh dari (godaan-godaan) syaithan yang terkutuk\u201d (QS. An-Nahl: 98).<\/p>\n<p>Apabila ayat yang dibaca dimulai dari awal surat, setelah isti\u2019adzah terus membaca Basmalah, dan apa bila tidak di awal surat cukup membaca isti\u2019adzah. Khusus surat At-Taubah walaupun dibaca mulai awal surat tidak usah membaca Basmalah, cukup dengan membaca isti\u2019adzah saja.<\/p>\n<p>Membaca Al-Qur\u2019an dengan berusaha mengetahui artinya dan memahami inti dari ayat yang dibaca dengan beberapa kandungan ilmu yang ada di dalam nya. Firman Alloh Ta\u2019ala, yang artinya:<\/p>\n<p>\u201cMaka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur\u2019an, ataukah hati mereka terkunci? (QS. Muhammad: 24).<\/p>\n<p>Membaca Al-Qur\u2019an dengan tidak mengganggu orang yang sedang shalat, dan tidak perlu membacanya dengan suara yang terlalu keras atau di tempat yang banyak orang. Bacalah dengan suara yang lirih atau dalam hati secara khusyu\u2019. Rasulullah ShallAllohu \u2018alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:<\/p>\n<p style=\"text-align: center\">\u201cOrang yang terang-terangan (di tempat orang banyak) membaca Al-Qur\u2019an, sama dengan orang yang terang-terangan dalam shadaqah\u201d (HR. Tirmidzi, Nasa\u2019i, dan Ahmad).<\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Dalam hadits lain dijelaskan, yang artinya: \u201cIngatlah bahwasanya setiap hari dari kamu munajat kepada Rabbnya, maka janganlah salah satu dari kamu mengganggu yang lain, dan salah satu dari kamu tidak boleh mengangkat suara atas yang lain di dalam membaca (Al-Qur\u2019an)\u201d (HR. Abu Dawud, Nasa\u2019i, Bai haqi dan Hakim), ini hadits shahih dengan syarat Shaikhani (Bukhari-Muslim).<\/p>\n<p>Jadi jangan sampai ibadah yang kita lakukan tersebut sia-sia karena kita tidak mengindahkan sunnah Rasulullah dalam melaksanakan ibadah membaca Al-Qur\u2019an. Misalnya, dengan suara yang keras pada larut malam, yang akhirnya mengganggu orang yang istirahat dan orang yang shalat malam. Dengarkan bacaan Al-Qur\u2019an. Jika ada yang membaca Al-Qur\u2019an, maka dengarkanlah bacaannya itu dengan tenang, Alloh Ta\u2019ala berfirman, yang artinya: \u201cDan tatkala dibacakan Al-Qur\u2019an, maka dengar kanlah dan diamlah, semoga kamu diberi rahmat\u201d (QS. Al-A\u2019raaf: 204).<\/p>\n<p>Membaca Al-Qur\u2019an dengan saling bergantian yang bertujuan untuk pendidikan atau mempelajari Al Qur\u2019an. Yang mendengarkannya harus dengan khusyu\u2019 dan tenang. Rasulullah bersabda, yang artinya:<\/p>\n<p style=\"text-align: center\">\u201cTidaklah berkumpul suatu kaum di dalam rumah-rumah Alloh, mereka membaca Al-Qur\u2019an dan saling mempelajarinya kecuali akan turun atas mereka ketenangan, dan mereka diliputi oleh rahmat (Alloh), para malaikat menyertai mereka, dan Alloh membang-ga-banggakan mereka di kalangan (malaikat) yang ada di sisiNya.\u201d (HR. AbuDawud).<\/p>\n<p>Setiap orang Islam wajib mengatur hidupnya sesuai dengan tuntunan Al-Qur\u2019an dan harus dipelihara kesucian dan kemuliaannya, serta dipelajari ayat-ayatnya, dipahami dan dilaksanakan sebagai konse kuensi kita beriman ke-pada Al-Qur\u2019an. (Minhajul Muslim,<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setiap muslim harus meyakini kesucian Kalamulloh, keagungannya, dan keutamaannya di atas seluruh kalam (ucapan). Al-Qur\u2019anul Karim itu Kalamulloh yang di dalamnya tidak ada kebatilan. Al-Qur\u2019an memberi petunjuk jalan yang lurus dan memberi bimbingan kepada umat manusia di dalam menempuh perjalanan hidupnya, agar selamat di dunia dan di akhirat, dan dimasukkan dalam golongan orang-orang yang mendapatkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1046,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-9","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-adab-adab-terhadap-al-quran"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/tanya-jawab-tentang-al-quran-hakim\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/tanya-jawab-tentang-al-quran-hakim\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/tanya-jawab-tentang-al-quran-hakim\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/tanya-jawab-tentang-al-quran-hakim\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1046"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/tanya-jawab-tentang-al-quran-hakim\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=9"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/tanya-jawab-tentang-al-quran-hakim\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/9\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/tanya-jawab-tentang-al-quran-hakim\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=9"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/tanya-jawab-tentang-al-quran-hakim\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=9"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/tanya-jawab-tentang-al-quran-hakim\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=9"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}