{"id":31,"date":"2024-06-26T14:42:55","date_gmt":"2024-06-26T14:42:55","guid":{"rendered":"https:\/\/cmspkh.com\/tanya-jawab-tentang-al-quran-hakim\/sejarah-ilmu-tajwid\/"},"modified":"2024-06-26T14:42:55","modified_gmt":"2024-06-26T14:42:55","slug":"sejarah-ilmu-tajwid","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cmspkh.com\/tanya-jawab-tentang-al-quran-hakim\/sejarah-ilmu-tajwid\/","title":{"rendered":"SEJARAH ILMU TAJWID"},"content":{"rendered":"<p>Sejarah ilmu Tajwid, Asal Usul dan Akar ilmu Tajwid<br \/>\nSejarah ilmu Tajwid, Asal Usul dan Akar ilmu Tajwid, Asal Kata Tajwid yaitu dari kata Bahasa Arab jawwada- yujawwidu- tajwiidan mengikuti wazan taf\u2019iilyang berarti membuat sesuatu menjadibagus. Di dalam beberapa buku tajwid disebutkan bahwa Istilah ini muncul ketika seseorang bertanya kepada khalifah ke-empat, \u2018Ali bin Abi Thalib tentang firman Allah yang berbunyi:<br \/>\n\u0648\u0631\u062a\u0644 \u0627\u0644\u0642\u0631\u0623\u0646 \u062a\u0631\u062a\u064a\u0644\u0627<br \/>\nBeliau menjawab bahwa yang dimaksud dengan kata tartil adalah tajwiidul huruuf wa ma\u2019rifatil wuquuf yang berarti membaca huruf-hurufnya dengan bagus (sesuai dengan makhraj dan shifat) dan tahu tempat-tempat waqaf.<br \/>\nSelama ini memang belum ditemukan musnad tentang perkataan beliau mengenai hal di atas, dan kisah ini hanya terdapat dalam kitab tajwid. Akan tetapi para ulama\u2019 bersepakat bahwa yang dimaksud dengan tartil adalah tajwiidul huruuf wa ma\u2019rifatil wuquuf.<br \/>\nPengertian tajwid<br \/>\nUntuk menghindari kesalahpahaman antara tajwid dan qiraat, maka perlu diketahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan tajwid. Pendapat sebagaian ulama memberikan pengertian tajwid sedikit berbeda namun pada intinya sama. sebagaimana yang dikutip Hasanuddin. AF.<br \/>\nSecara bahasa, tajwid berarti al-tahsin atau membaguskan. Sedangkan menurut istilah yaitu, mengucapkan setiap huruf sesuai dengan makhrajnya menurut sifat-sifat huruf yang mesti diucapkan, baik berdasarkan sifat asalnya maupun berdasarkan sifat-sifatnya yang baru.<br \/>\nSebagian ulama yang lain medefinisikan tajwid sebagai berikut:\u201cTajwid ialah mengucapkan huruf(al-Quran) dengan tertib menurut yang semestinya, sesuai dengan makhraj serta bunyi asalnya, serta melembutkan bacaannya sesempurna mungkin tanpa belebihan ataupun dibuat-buat\u201d.<br \/>\nJika dibincangkan kapan bermulanya ilmu Tajwid, maka kenyataan menunjukkan bahwa ilmu ini telah bermula sejak dari al-Quran itu diturunkan kepada Rasulullah SAW . Ini kerana Rasulullah SAW sendiri diperintah untuk membaca al-Quran dengan tajwid dan tartil seperti yang disebut dalam ayat 4, surah al-Muzammil:<br \/>\n\u0648\u064e\u0631\u064e\u062a\u0651\u0650\u0644\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0642\u064f\u0631\u0652\u0622\u064e\u0646\u064e \u062a\u064e\u0631\u0652\u062a\u0650\u064a\u0644\u064b\u0627 \u2026\u2026<br \/>\n\u201c\u2026..Bacalah al-Quran itu dengan tartil(perlahan-lahan).\u201d Kemudian baginda Saw mengajar ayat-ayat tersebut kepada para sahabat dengan bacaan yang tartil.<br \/>\nSayyidina Ali r.a apabila ditanya tentang apakah maksud bacaan al-Quran secara tartil itu, maka beliau menjawab\u201d adalah membaguskan sebutan atau pelafalan bacaan pada setiap huruf dan berhenti pada tempat yang betul\u201d.<br \/>\nIni menunjukkan bahwa pembacaan al-Quran bukanlah suatu ilmu hasil dari Ijtihad (fatwa) para ulama\u2019 yang diolah berdasarkan dalil-dalil dari al-Quran dan Sunnah, tetapi pembacaan al-Quran adalah suatu yang Taufiqi (diambil terus) melalui riwayat dari sumbernya yang asal yaitu sebutan dan bacaan Rasulullah Saw.<br \/>\nWalau bagaimanapun, apa yang dikira sebagai penulisan ilmu Tajwid yang paling awal ialah apabila bermulanya kesedaran perlunya Mushaf Utsmaniah yang ditulis oleh Sayyidina Utsman itu diletakkan titik-titik kemudiannya baris-baris bagi setiap huruf dan perkataannya. Gerakan ini telah diketuai oleh Abu Aswad Ad-Duali dan Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi, apabila pada masa itu Khalifah umat Islam memikul tugas untuk berbuat demikian ketika umat Islam mula melakukan-kesalaha dalam bacaan.<br \/>\nIni karena semasa Utsman menyiapkan Mushaf al-Quran dalam enam atau tujuh buah itu, beliau telah membiarkannya tanpa titik-titik huruf dan baris-barisnya kerana memberi keluasan kepada para sahabat dan tabi\u2019in pada masa itu untuk membacanya sebagaimana yang mereka telah ambil dari Rasulullah s.a.w sesuai dengan Lahjah (dialek) bangsa Arab yang bermacam-macam.<br \/>\nTetapi setelah berkembang luasnya agama Islam ke seluruh tanah Arab serta jatuhnya Roma dan Parsi ke tangan umat Islam pada tahun pertama dan kedua Hijrah, bahasa Arab mulai bercampur dengan bahasa penduduk-penduduk yang ditaklukkan umat Islam. Ini telah menyebabkan berlakunya kesalahan yang banyak dalam penggunaan bahasa Arab dan begitu juga pembacaan al-Quran.<br \/>\nMaka al-Quran Mushaf Utsmaniah telah diusahakan untuk menghindari kesalahan-kesalahan dalam membacanya dengan penambahan baris dan titik pada huruf-hurufnya bagi Karangan ilmu Qiraat yang paling awal sepakat apa yang diketahui oleh para penyelidik ialah apa yang telah dihimpun oleh Abu \u2018Ubaid Al-Qasim Ibnu Salam dalam kitabnya \u201cAl-Qiraat\u201d pada kurun ke-3 Hijrah. Tetapi ada yang mengatakan apa yang telah disusun oleh Abu \u2018Umar Hafs Ad-Duri dalam ilmu Qiraat adalah lebih awal.<br \/>\nPada kurun ke-4 Hijrah pula, lahir Ibnu Mujahid Al-Baghdadi dengan karangannya \u201cKitabus Sab\u2019ah\u201d, dimana beliau adalah orang yang mula-mula mengasingkan qiraat kepada tujuh imam bersesuaian dengan tujuh perbedaan dan Mushaf Utsmaniah yang berjumlah tujuh naskah kesemuanya pada masa itu karangan ilmu Tajwid yang paling awal, barangkali tulisan Abu Mazahim Al-Haqani dalam bentuk Qasidah (puisi) ilmu Tajwid pada akhir kurun ke-3 Hijrah adalah yang terulung.<br \/>\nSelepas itu lahirlah para ulama yang tampil memelihara kedua-dua ilmu ini dengan karangan-karangan mereka dari masa ke masa seperti Abu \u2018Amr Ad-Dani dengan kitabnya At-Taysir, Imam Asy-Syatibi Tahani dengan kitabnya \u201cHirzul Amani wa Wajhut Tahani\u201d yang menjadi tonggak kepada karangan-karangan tokoh-tokoh lain yang sezaman dan yang setelah mereka. Tetapi yang jelas dari karangan-karangan mereka ialah ilmu Tajwid dan ilmu Qiraat senantiasa bergandengan, ditulis dalam satu kitab tanpa dipisahkan pembahasannya. Penulisan ini juga diajarkan kepada murid-murid mereka.<br \/>\nKemudian lahir pula seorang tokoh yang amat penting dalam ilmu Tajwid dan Qiraat yaitu Imam (ulama) yang lebih terkenal dengan nama Ibnul Jazari dengan karangan beliau yang masyhur yaitu \u201cAn-Nasyr\u201d, \u201cToyyibatun Nasyr\u201d dan \u201cAd-Durratul Mudhiyyah\u201d yang mengatakan ilmu Qiraat adalah sepuluh sebagai pelengkap bagi apa yang telah dinaytakan Imam Asy-Syatibi dalam kitabnya \u201cHirzul Amani\u201d sebagai Qiraat tujuh.<br \/>\nImam Al-Jazari juga telah mengarang karangan yang berasingan bagi ilmu Tajwid dalam kitabnya \u201cAt-Tamhid\u201d dan puisi beliau yang lebih terkenal dengan nama \u201cMatan Al-Jazariah\u201d. Imam Al-Jazari telah mewariskan karangan-karangannya yang begitu banyak berserta bacaannya sekali yang kemudiannya telah menjadi ikutan dan panduan bagi karangan-karangan ilmu Tajwid dan Qiraat serta bacaan al-Quran hingga ke hari ini.<\/p>\n<p>____________<br \/>\nDari Aplikasi: Tanya Jawab Islam<br \/>\nDownload:<br \/>\nhttps:\/\/play.google.com\/store\/apps\/details?id=com.zam.pisslite<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sejarah ilmu Tajwid, Asal Usul dan Akar ilmu Tajwid Sejarah ilmu Tajwid, Asal Usul dan Akar ilmu Tajwid, Asal Kata Tajwid yaitu dari kata Bahasa Arab jawwada- yujawwidu- tajwiidan mengikuti wazan taf\u2019iilyang berarti membuat sesuatu menjadibagus. Di dalam beberapa buku tajwid disebutkan bahwa Istilah ini muncul ketika seseorang bertanya kepada khalifah ke-empat, \u2018Ali bin Abi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1046,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[29],"tags":[],"class_list":["post-31","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sejarah-ilmu-tajwid"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/tanya-jawab-tentang-al-quran-hakim\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/tanya-jawab-tentang-al-quran-hakim\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/tanya-jawab-tentang-al-quran-hakim\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/tanya-jawab-tentang-al-quran-hakim\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1046"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/tanya-jawab-tentang-al-quran-hakim\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=31"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/tanya-jawab-tentang-al-quran-hakim\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cmspkh.com\/tanya-jawab-tentang-al-quran-hakim\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=31"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/tanya-jawab-tentang-al-quran-hakim\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=31"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cmspkh.com\/tanya-jawab-tentang-al-quran-hakim\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=31"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}