عَنْ أَبِيهِ قَالَخَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي إِحْدَى صَلَاتَيِ العِشَاءِ وَهُوَ حَامِلٌ حَسَنًا أَوْ حُسَيْنًا، فَتَقَدَّمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَوَضَعَهُ، ثُمَّ كَبَّرَ لِلصَّلَاةِ فَصَلَّى، فَسَجَدَ بَيْنَ ظَهْرَانَيِ صَلَاتِهِ سَجْدَةً أَطَالَهَا قَالَ أَبِي: فَرَفَعْتُ رَأْسِي وَإِذَا الصَّبِيُّ عَلَى ظَهْرِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ سَاجِدٌ، فَرَجَعْتُ إِلَى سُجُودِي فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم الصَّلَاةَ، قَالَ النَّاسُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّكَ سَجَدْتَ بَيْنَ ظَهْرَانَيِ صَلَاتِكَ سَجْدَةًأَطَلْتَهَا حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ قَدْ حَدَثَ أَمْرٌ، أَوْ أَنَّهُ يُوحَى إِلَيْكَ؟ قَالَ: “كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ، وَلَكِنِ ابْنِي ارْتَحَلَنِي، فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ (رواه النسائ: ١١٤١).
Artinya: hadis dari ayahnya Abdullah bin Syaddad, ia berkata: Rasulullah SAW keluar kepada kami pada salah satu waktu salat Isya, dan ia membawa Hasan atau Husain. Rasulullah SAW maju, meletakkannya, kemudian mengangkat takbir untuk memulai salat. Ia pun salat, dan ketika berada di tengah-tengah salat, ia sujud lama. Kata ayahku: aku mengangkat kepalaku, dan tiba-tiba melihat anak kecil tersebut berada di atas punggung Rasulullah SAW saat ia sujud. Maka aku kembali ke dalam sujudku. Ketika Rasulullah SAW selesai salat, orang-orang berkata: wahai Rasulullah, engkau sujud begitu lama di tengah salat hingga kami kira ada sesuatu yang terjadi, atau wahyu diturunkan kepadamu? Rasulullah SAW menjawab: semua itu tidak terjadi, tetapi anakku telah naik ke atas punggungku, dan aku tidak ingin terburu-buru menyingkirkannya hingga ia menyelesaikan kebutuhannya. (HR. al-Nasa’i: 1141)
Hadis ini menjelaskan bahwa pada suatu waktu, Rasulullah SAW sujud lebih lama dalam salatnya karena putra ia, Hasan atau Husain, naik ke punggung ia. Ia tidak ingin terburu-buru dalam mengangkat kepalanya agar anak ia bisa menyelesaikan kebutuhannya. Ini menunjukkan kelembutan dan kasih sayang Nabi SAW terhadap anak-anaknya, serta bagaimana ia memberi perhatian pada mereka bahkan dalam situasi yang tampaknya lebih mendesak. Hal ini juga mengajarkan kepada umatnya untuk sabar dan penuh perhatian terhadap orang yang kita cintai, termasuk dalam beribadah.