11. Sujud dalam Salat Gerhana


عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّهُ قَالَ لَمَّا كَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم نُودِىَ إِنَّ الصَّلاَةَ جَامِعَةٌ فَرَكَعَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم رَكْعَتَيْنِ فِى سَجْدَةٍ ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ فِى سَجْدَةٍ ، ثُمَّ جَلَسَ ، ثُمَّ جُلِّىَ عَنِ الشَّمْسِ (رواه البخاري: ١٠٠٣).

Artinya: hadis dari Abdullah bin Amr berkata: saat terjadi gerhana matahari di zaman Rasulullah SAW, maka diserukan dengan panggilan ash shalaatul jaami’ah (Marilah mendirikan salat secara bersama-sama). Nabi SAW lalu rukuk dua kali dalam satu kali sujud, kemudian berdiri kembali dan rukuk dua kali dengan satu kali sujud. Kemudian ia duduk sementara matahari telah nampak kembali. (HR. al-Bukhari: 1003)

 

Hadis ini menjelaskan bahwa Abdullah bin Amr pernah diimami nabi ketika terjadi gerhana matahari. Nabi mengimami salat dua rakaat dengan satu sujud dalam setiap rakaat. Hal ini menunjukkan tata cara salat gerhana yang dilakukan oleh Nabi dengan rukuk dan sujud, yang dapat menjadi panduan bagi umat Islam dalam melaksanakan salat gerhana.