عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ فَقَدْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم ذَاتَ لَيْلَةٍ فَجَعَلْتُ أَطْلُبُهُ بِيَدِي فَوَقَعَتْ يَدِي عَلَى قَدَمَيْهِ وَهُمَا مَنْصُوبَتَانِ وَهُوَ سَاجِدٌ يَقُولُ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ (رواه النسائ: ١٦٩).
Artinya: hadis dari Aisyah RA, ia berkata: pada suatu malam, aku mencari Nabi SAW, lalu tanganku menyentuh kedua kakinya yang terangkat, dan ia sedang sujud sambil berkata: aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari murka-Mu, dengan ampunan-Mu dari hukuman-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu. Tidak bisa aku menghitung pujian untuk-Mu. Engkau sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri. (HR. An-Nasa’i: 169)
Hadis ini menjelaskan bahwa pada saat Nabi SAW sujud, ia merasakan kedekatan yang sangat dalam dengan Allah. Dalam keadaan sujud, ia memohon perlindungan dari murka Allah dan memohon ampunan dari hukuman-Nya. Sujud menjadi saat yang penuh dengan doa dan permohonan kepada Allah, bahkan Nabi SAW sendiri menghabiskan banyak waktu dalam posisi sujud sebagai bentuk ketundukan dan kedekatannya dengan Tuhan.