عَنْ أُمِّ قَيْسٍ بِنْتِ مِحْصَنٍ قَالَتْ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْعُودِ الْهِنْدِيِّ فَإِنَّ فِيهِ سَبْعَةَ أَشْفِيَةٍ يُسْتَعَطُ بِهِ مِنْ الْعُذْرَةِ وَيُلَدُّ بِهِ مِنْ ذَاتِ الْجَنْبِ وَدَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِابْنٍ لِي لَمْ يَأْكُلْ الطَّعَامَ فَبَالَ عَلَيْهِ فَدَعَا بِمَاءٍ فَرَشَّ عَلَيْهِ (رواه البخاري:٥٣٦٨)
Artinya : Hadis dari Ummu Qais binti Mihshan berkata: saya mendengar Nabi Saw bersabda: “Gunakanlah dahan kayu India, karena didalamnya terdapat tujuh macam penyembuh, dan dapat menghilangkan penyakit (racun) di antaranya adalah radang penyakit paru.’ Ibnu Sam’an berkata dalam haditsnya: “Karena sesungguhnya padanya terdapat obat dari tujuh macam jenis penyakit, di antaranya adalah radang penyakit paru (dada). Lalu aku menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil membawa bayiku yang belum makan makanan, lalu bayiku mengencingi beliau, maka beliau meminta air dan memercikinya.”( HR al-Bukhari: 5368)
Hadis ini menjelaskan bahwa Nabi Saw menganjurkan kayu India sebagai obat alami yang bermanfaat untuk tujuh jenis penyakit, termasuk radang paru-paru. Ini menegaskan pentingnya pengobatan herbal dalam Islam.Hadis ini juga menggambarkan kelembutan Nabi Saw, ketika seorang bayi mengencingi beliau, beliau tidak marah, tapi cukup membersihkannya dengan memercikkan air. Ini mengajarkan kasih sayang dan kebersihan.