عَنْ أَبِي سَعِيدٍ أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَخِي يَشْتَكِي بَطْنَهُ فَقَالَ اسْقِهِ عَسَلًا ثُمَّ أَتَى الثَّانِيَةَ فَقَالَ اسْقِهِ عَسَلًا ثُمَّ أَتَاهُ الثَّالِثَةَ فَقَالَ اسْقِهِ عَسَلًا ثُمَّ أَتَاهُ فَقَالَ قَدْ فَعَلْتُ فَقَالَ صَدَقَ اللَّهُ وَكَذَبَ بَطْنُ أَخِيكَ اسْقِهِ عَسَلًا فَسَقَاهُ فَبَرَأَ (رواه البخاري:٥٣٦٠)
Artinya : Hadis dari Abu Sa’id bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil berkata: “Saudaraku sedang menderita sakit perut.” Beliau bersabda: “Minumilah madu.” Kemudian laki-laki itu datang kedua kalinya, lalu beliau tetap bersabda: “Minumilah madu.” Kemudian laki-laki itu datang yang ketiga kalinya, beliau bersabda: “Minumilah madu.” Kemudian dia datang lagi sambil berkata: “Aku telah melakukannya.” Maka beliau bersabda: “Maha benar Allah, dan perut saudaramulah yang berdusta, berilah minum madu.” Lalu ia pun meminuminya madu dan akhirnya sembuh.( HR al-Bukhari:5360)
Hadis ini menjelaskan bahwa Nabi saw menganjurkan madu sebagai obat alami untuk sakit perut. Meski awalnya belum sembuh, beliau tetap menyarankan madu hingga akhirnya orang tersebut sembuh, menunjukkan pentingnya kesabaran dalam pengobatan. Kandungan hadis ini menegaskan khasiat madu sebagai obat, sesuai dengan Al-Qur’an. Sabda Nabi saw juga mengajarkan bahwa terkadang bukan obatnya yang salah, tapi kondisi tubuh yang belum sesuai. Ini menunjukkan pentingnya percaya pada petunjuk syariat dan terus berikhtiar.