عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اشْتَكَى يَقْرَأُ عَلَى نَفْسِهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ وَيَنْفُثُ فَلَمَّا اشْتَدَّ وَجَعُهُ كُنْتُ أَقْرَأُ عَلَيْهِ وَأَمْسَحُ بِيَدِهِ رَجَاءَ بَرَكَتِهَا (رواه البخاري :٤٧۲٨)
Artinya : Hadis dari ‘Aisyah RA bahwasanya:Apabila Rasulullah Saw menderita sakit, maka beliau membacakan Al Mu’awwidzaat untuk dirinya sendiri, lalu beliau meniupkannya. Dan ketika sakitnya parah, maka akulah yang membacakannya pada beliau, lalu mengusapkan dengan menggunakan tangannya guna mengharap keberkahannya. ( HR al-Bukhari : 4728 )
Hadis ini menjelaskan cara Rasulullah Saw ketika mengalami sakit, yaitu dengan membacakan Al-Mu’awwidzaat (Surah al-Falaq dan an-Naas) untuk dirinya sendiri lalu meniupkan bacaan tersebut, sebagai bentuk ruqyah syar’iyyah atau pengobatan dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Ketika beliau sakitnya semakin parah, ‘Aisyah RA membacakan doa tersebut dan mengusapkannya ke tubuh Nabi Saw dengan tangannya sendiri, karena tangan Nabi diyakini membawa keberkahan.
Kandungan utama hadis ini adalah bahwa pengobatan spiritual dengan ayat-ayat Al-Qur’an merupakan sunnah, dan menunjukkan keutamaan membaca doa-doa perlindungan (Al-Mu’awwidzaat) ketika sakit. Hadis ini juga menegaskan bahwa usaha penyembuhan dapat bersifat ruhani, dengan tetap berpegang pada ajaran Nabi Saw. Selain itu, hadis ini mencerminkan kedekatan dan kasih sayang Aisyah kepada Nabi, serta pentingnya keberkahan dalam pengobatan, di samping usaha fisik dan medis.