Cuka


عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلَ أَهْلَهُ الْأُدُمَ فَقَالُوا مَا عِنْدَنَا إِلَّا خَلٌّ فَدَعَا بِهِ فَجَعَلَ يَأْكُلُ بِهِ وَيَقُولُ نِعْمَ الْأُدُمُ الْخَلُّ نِعْمَ الْأُدُمُ الْخَلُّ ( رواه مسلم:۲٠۲٥)

Artinya :  Hadis dari Jabir bin Abdullah bahwa Nabi Saw bertanya kepada istrinya-istrinya mengenai lauk, lalu mereka menjawab: “Kita tidak punya apa-apa selain cuka.” Beliau menyuruh diambilkan kemudian beliau makan dengan cuka tersebut sambil bersabda: ‘Sebaik-baik lauk adalah cuka, sebaik-baik lauk adalah cuka. (HR. Muslim:2025)

Hadis ini menjelaskan kesederhanaan Nabi  dalam makanan. Ketika hanya ada cuka sebagai lauk, beliau tetap menerimanya dengan senang hati dan bahkan memujinya, “Sebaik-baik lauk adalah cuka,” sebagai bentuk syukur dan teladan qana’ah.Menurut syarah ulama, pujian terhadap cuka bukan hanya karena rasanya, tapi juga karena manfaat dan keberkahannya. Hadis ini mengajarkan agar tidak berlebih-lebihan dalam makanan dan menghargai makanan yang sederhana namun bermanfaat.