عَنْ الْأَسْوَدِ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِاللَّيْلِ قَالَتْ كَانَ يَنَامُ أَوَّلَهُ وَيَقُومُ آخِرَهُ فَيُصَلِّي ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى فِرَاشِهِ فَإِذَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ وَثَبَ فَإِنْ كَانَ بِهِ حَاجَةٌ اغْتَسَلَ وَإِلَّا تَوَضَّأَ وَخَرَجَ (رواه البخاري:۱١٤٦)
Artinya : hadis dari Abu Ishaq dari Al Aswa, ia berkata:Aku bertanya kepada ‘Aisyah radliyallahu ‘anha tentang cara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat malam. Ia menjawab: “Beliau tidur di awal malam dan bangun untuk shalat di akhir malam dan shalat, lalu beliau kembali ke tempat tidurnya. Bila mu’adzin sudah mengumandangkan adzan, maka Beliau bersegera. Bila saat itu Beliau punya hajat (kepada isterinya), maka Beliau mandi. Bila tidak, maka Beliau hanya berwudlu’ lalu keluar untuk shalat.”(HR. al-Bukhari:1136)
Hadis ini menjelaskan kebiasaan Nabi Saw dalam shalat malam. Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan bahwa Nabi tidur di awal malam, bangun di akhir malam untuk tahajud, lalu tidur sebentar hingga Subuh. Saat adzan berkumandang, beliau segera bersiap: mandi jika junub atau berwudhu jika tidak, kemudian shalat Subuh. Pola ini menunjukkan keseimbangan sempurna antara ibadah dan istirahat. Nabi mengajarkan pentingnya qiyamullail tanpa mengabaikan kebutuhan tubuh, serta kesegeraan memenuhi panggilan shalat dengan menjaga kesucian. Dengan meneladani kebiasaan ini, muslim dapat mengoptimalkan ibadah malam sekaligus menjaga kesehatan.