حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ قَالَ سَمِعْتُ مَنْصُورًا عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَيْدَةَ قَالَ حَدَّثَنِي الْبَرَاءُ بْنُ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وَضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الْأَيْمَنِ وَقُلْ اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَهْبَةً وَرَغْبَةً إِلَيْكَ لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ فَإِنْ مُتَّ مُتَّ عَلَى الْفِطْرَةِ فَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَقُولُ فَقُلْتُ أَسْتَذْكِرُهُنَّ وَبِرَسُولِكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ قَالَ لَا وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ (رواه البخاري :۲٤٤)
Artinya : Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Mu’tamir dia berkata: saya mendengar Manshur dari Sa’d bin Ubaidah dia berkata: telah menceritakan kepadaku Al Barra` bin ‘Azib radliallahu ‘anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku: “Apabila kamu hendak tidur, maka berwudlulah sebagaimana kamu berwudlu untuk shalat. Setelah itu berbaringlah dengan miring ke kanan, dan ucapkanlah: ‘ALLAHUMMA ASLAMTU NAFSI ILAIKA WAFAWADLTU AMRII ILAIKA WA ALJA`TU ZHAHRI ILAIKA RAHBATAN WA RAGHBATAN ILAIKA LAA MALJA`A WALAA MANJAA MINKA ILLA ILAIKA AMANTU BIKITAABIKA ALLADZII ANZALTA WA BINABIYYIKA ALLADZII ARSALTA (Ya AIlah ya Tuhanku, aku berserah diri kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu dan aku berlindung kepada-Mu dalam keadaan harap dan cemas, karena tidak ada tempat berlindung dan tempat yang aman dari adzab-Mu kecuali dengan berlindung kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan aku beriman kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus).’ Apabila kamu meninggal (pada malam itu) maka kamu mati dalam keadaan fitrah (suci). Dan jadikan bacaan tersebut sebagai penutup ucapanmu (menjelang tidur).’ Maka aku berkata: ‘Apakah saya menyebutkan: ‘Saya beriman kepada Rasul-Mu yang telah Engkau utus? ‘ Beliau menjawab: ‘Tidak, namun saya beriman kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus.'( HR.al-Bukhari:244)
Hadis ini menjelaskan tata cara tidur yang sempurna menurut ajaran Islam, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk berwudhu terlebih dahulu seperti wudhu shalat, kemudian tidur dengan posisi miring ke kanan sambil membaca doa penyerahan diri yang mengandung pengakuan ketergantungan mutlak kepada Allah, permohonan perlindungan, serta pernyataan iman kepada kitab dan nabi-Nya. Doa khusus ini – yang menggunakan lafal “nabiyyika” (nabi-Mu) bukan “rasulika” (rasul-Mu) – jika dibaca sebelum tidur akan membuat seseorang yang meninggal pada malam itu dalam keadaan suci (fitrah), sekaligus berfungsi sebagai perlindungan spiritual selama tidur. Sunnah ini tidak hanya menunjukkan kesempurnaan ajaran Islam yang mengatur seluruh aspek kehidupan hingga hal terkecil seperti tidur, tetapi juga mengandung hikmah kesehatan melalui posisi tidur yang benar dan manfaat spiritual melalui zikir sebelum beristirahat, sehingga dapat diajarkan sebagai kebiasaan baik kepada seluruh anggota keluarga dalam kehidupan modern sekalipun.