Syarah Hadits


Dalam hadis ini, Nabi Muhammad saw memerintahkan setiap ummatnya untuk melaksanakan tugasnya terhadap apa yang telah diamanahkan oleh Allah atasnya. Kemudian Nabi menjelaskan bahwa tidak ada seorang muslim di negara ini kecuali mereka memikul tanggung jawab masing-masing. “كُلُّكُمْ رَاعٍ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ” “setiap kamu adalah pemimpin dan bertanggungjawab terhadap yang dan sesuatu memelihara”. Dia adalah penjaga yang dapat dipercaya dan berkomitmen pada kebenaran dari apa yang telah dia bangun, jadi setiap orang yang memiliki sesuatu di bawah pengawasannya dituntut untuk berlaku adil kepadanya di dalam menyelesaikan masalahnya, urusan agamanya, kehidupan duniawi dan harta bendanya.

Jika dia menjalankan tanggung jawab yang dipikulnya dengan baik terhadap apa yang dibebankan kepadanya, maka dia akan menerima lebih banyak keberuntungan dan pahala yang lebih besar. Demikian juga sebaliknya, jika ia melalaikan maka setiap orangnya akan menuntut haknya, dan Allah adalah sebaik-baik pemberi balasan.

Siapa saja yang diberi tanggung jawab oleh Allah untuk mengurus urusan kaum muslimin, tetapi ia tidak memperhatikan kebutuhan mereka dan tidak mempedulikan orang-orang miskin maka Allah juga tidak akan mempedulikan kebutuhannya.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi) “Tidaklah seorang pemimpin atau seorang penguasa menutup pintunya dari orang-orang yang memiliki kebutuhan dan keperluan serta orang-orang fakir, kecuali Allah akan menutup pintu langit dari keperluan, kebutuhan dan hajatnya.” (HR. At-Tirmidzi)

Hadis di atas menunjukkan bahwa seorang yang dibebani tanggung jawab untuk mengurusi hamba Allah, maka ia wajib untuk tidak menutup diri dari mereka. Hendaklah ia mempermudah orang-orang yang memerlukannya dan orang-orang fakir lainnya untuk bertemu dengan dirinya. Dan sabda beliau, “Allah akan menutup diri darinya” adalah ungkapan yang artinya bahwa Allah tidak akan memberinya keutamaan dan rahmat-Nya.

Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa makna tanggung jawab dalam perspektif hadis di atas dijelaskan dengan konsep “مسؤول“, yang diambil dari kata َسأ – َ لاَؤاَ سُ “ yang berarti meminta, menanyakan. “مسؤول“ adalah orang yang ditanya atau diminta pertanggung jawabannya.

Penggunaan kata راع / ra’in dalam hadis di atas sangat tepat mendefinisikan sosok seseorang yang sedang memikul tanggungjawab. Kata راع / ra’in digambarkan sosok tukang gembala. Posisi seorang penggembala akan menyesuaikan dengan gembalaannya kadang ia berada di depan seperti ketika menuntun kuda, kadang ia di belakang seperti disaat menggiring domba atau bebek. Terkadang ia harus di samping mengiringi. Seorang penggembala harus bisa melakoni setiap posisi. Dia tahu kapan harus memberi komando di depan, kapan harus mengawasi dari belakang, dan kapan pula harus mengiringi di samping.