Zainab binti Jahsy berkata kepada Rasulullah saw: “Ya Rasulullah, aku tidak seperti istri-istrimu yang lain, di mana tidak seorangpun di antara mereka yang tidak dinikahkan ayahnya, saudaranya atau kaum kerabatnya kecuali aku sendiri yang dinikahkan oleh Allah swt kepadamu dari langit”. Zainab binti Jahsy berbangga kepada ummahat al-Mukminin atas proses pernikahannya dengan Rasul yang dinikahkan oleh Allah swt. Dia berkata kepada mereka: “Kamu dinikahkan kaum kerabatmu sementara aku dinikahkan oleh Allah swt dari atas tujuh lapis langit.” Dia juga berkata: “Sesungguhnya Allah swt menikahkan aku di langit”. Zainab adalah penghulu para wanita ditinjau dari segi keagamaan, kewarakan, kelemah lembutannya dan kebaikan hatinya. Bagaimanakah kisah Ummul Mukminin yang dinikahkan oleh Allah swt kepada Rasul-Nya? Mengapa pernikahan atas perintah dari langit? Apakah yang terjadi ketika wanita mulia ini digolongkan kepada Ummahat al-Mukminin? Bagaimanakah kisah hidupnya dengan Zaid bin Haritsah, hamba yang dimerdekakan oleh Rasulullah saw? Dan Bagaimanakah kisah peernikahannya dengan Zaid? Berikut ini kisah Zainab binti Jahsy. Zainab binti Jahsy bin Diyab adalah anak bunde Rasulullah as. Ibunya ialah Umaimah binti Abdul Muttalib bin Hasyim. Sebagaimana Rasulullah saw cucu kepada Abdul Muttalib bin Hasyim begitu juga dengan Zainab. Oleh, Zainab adalah sepupu Rasulullah saw, dan dia adalah termasuk orang yang terdahulu berhijrah ke al-Madinah. Setelah Zainab bercerai dengan Zaid bin Haritsah dan iddahnya telah habis, dia menikah dengan Rasulullah saw. Pernikahannya dengan Rasulullah saw menimbulkan masalah di kalangan penduduk al-Madinah ketika itu. Sebelum menghuraikan pernikahan Baginda Rasulullah saw dengan Zainab secara lebih lanjut, mari kita semak terlebih dahulu kisah pernikahan Zainab dengan Zaid bin Haritsah pada masa Rasulullah saw belum diangkat menjadi Rasul. Pada suatu hari ibu Zaid, Sua’di binti Tha’labah membawa Zaid bin Haritsah menziarahi keluarganya Bani Mu’an bin Tai’. Dalam perjalanan Zaid ditangkap oleh qabilah Banu al-Qain bin Jisr, lalu mereka menjualnya di Pajak ‘Ukaz kepada Hakim bin Hizam dengan harga empat ratus dirham. Kemudian Hakim bin Hizam bin Khualid al-Asadi membawa Zaid dan beberapa orang hamba yang lain pulang ke tempatnya. Sebenarnya Zaid bukanlah seorang hamba yang pernah diperhambakan. Dia adalah Zaid bin Haritsah bin Syarahil bin Ka’bah al-Kalbi al-Qahtani dari Bani Zaid al-Lata. Pada suatu hari Khadijah istri Rasulullah saw pergi menziarahi anak saudaranya Hakim bin Hizam. Kemudian Hakim menyuruhnya memilih salah seorang dari hamba-hambanya untuk menolongnya dalam mengurus keperluannya sehari-hari. Khadijah memilih Zaid lalu dihadiahkannya pula kepada Rasulullah saw untuk membantu Baginda dalam menyelesaikan keperluannya. Bapak Zaid sangat berdukacita atas kehilangan anaknya, lalu dia pergi bersama saudaranya Ka’ab ke Makkah untuk mencari anaknya Zaid bin Haritsah. Tatkala mereka mengetahui Zaid ada bersama Rasulullah saw, mereka pergi menemui Baginda Rasul. Ketika mereka sampai di depan Baginda, mereka berkata: “Hai anak Abdul Muttalib, hai anak pemimpin, sesungguhnya kamu adalah tetangga Allah swt, kamu menolong orang yang menderita dan kamu memberi makan orang yang lapar. Sesungguhnya kedatangan kami ke mari adalah karena anak kami. Berbuat baiklah kepada kami (dengan menyerahkannya kepada kami), kami akan menebusnya.” Rasulullah saw bersabda: “Aku ada tawaran yang lebih baik dari itu.” Keduanya bertanya: “Apakah itu?” Rasulullah saw menjawab: “Sekarang mari kita panggil dia, biar aku suruh dia membuat pilihan. Jika dia memilih kamu, kamu bawalah dia. Tetapi jika dia memilih aku, demi Allah swt aku tidak akan memaksa orang yang memilihku.” Keduanya berkata: “Ya, kami setuju.
Kemudian Zaid dipanggil. Zaid mengenal bapak dan pamannya. Kemudian Rasulullah saw mengajukan dua pilihan kepada Zaid yaitu pergi bersama bapaknya atau tinggal bersama Rasulullah saw. Zaid memilih tuannya Rasulullah saw. oleh sebab itu, bapaknya merayu dan berkata kepada Zaid: “Hai Zaid, apakah engkau mengutamakan penghambaan dari bapa, ibu, keluarga dan tanah airmu?” Zaid menjawab: “Wahai bapakku, sesungguhnya aku telah melihat sesuatu pada diri laki-laki ini, sebab itu aku tidak akan meninggalkannya buat selamanya.” Setelah itu Rasulullah saw menjadikannya anak angkat. Baginda berdiri di depan orang-orang Quraisy untuk menyatakan kepada mereka bahwa Zaid anaknya yang akan mewarisi dan diwarisi. Sejak itu Zaid dikenal dan dipanggil orang dengan nama Zaid bin Muhammad. Zaid adalah orang yang terdahulu memeluk agama Islam setelah Ali bin Abu Talib. Apabila Zaid telah dewasa dan layak mendirikan rumahtangga, Rasulullah saw memilih Zainab binti Jahsy yaitu anak bunde Rasulullah saw Umaimah untuk dinikahkan dengan Zaid. Pada mulanya Zainab dan saudaranya Abdullah bin Jahsy tidak setuju atas pilihan Rasulullah saw. Bahkan Zainab pernah berkata: “Aku tidak akan menikah dengannya.”Mereka berpendapat bahwa kedudukan sosial Zainab lebih tinggi dari Zaid yang bekas hamba. Berhubung karena Rasulullah saw turut berpartisipasi dalam urusan pernikahan Zaid, maka Baginda berhasil meyakinkan Zainab dan saudaranya bahwa Zaid adalah seorang Muslim yang baik dan kedua ibu bapaknya adalah keturunan Arab. Oleh itu, mereka menyetujui kehendak Rasulullah saw yang didukung oleh al-Qur’an sebagaimana dalam firman Allah swt:
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang Mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang Mukmin, apabila Allah swt dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah swt dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. (QS.Al-Ahzab:36)
Akhirnya Zainab menikah dengan Zaid demi menjunjung dan mentaati perintah Allah swt dan Rasul-Nya, dan mengamalkan sunnah Rasulullah saw:
“Tidak ada kelebihan orang Arab dengan orang selain Arab, tidak orang selain Arab dengan orang Arab, tidak orang berkulit hitam dengan orang berkulit merah dan tidak orang berkulit merah dengan orang berkulit hitam kecuali ketakwaan ….”(HR.Ahmad No 22978)
Dengan karunia dan taufik Allah swt Zaid dan Zainab hidup dalam rumahtangga yang penuh dengan kebahagiaan dan ketenteraman, di mana Allah swt menganugerahi keduanya rezeki yang luas. Tetapi kebahagiaan yang mereka nikmati tidak berkepanjangan, karena jika Allah swt menghendaki sesuatu perkara, tidak ada seorangpun yang dapat menolaknya. Bahkan jika allah swt menghendaki suatu perkara menjadi syariat bagi manusia, maka tidak ada seorangpun yang dapat menolaknya. Dalam hal ini Allah swt bertujuan untuk menghilangkan kekeliruan hukum yang terdapat dalam masyarakat dan meyakinkan mereka dengan kebenaran syariat Islam. Dalam masa singkat, kasih sayang yang bersemi dalam hati keduanya telah pudar, dan cinta yang menyatukan mereka telah hancur sehingga Zaid tidak sanggup lagi hidup bersama Zainab. Maka Zaid pergi mengadu kepada Rasulullah saw dengan harapan Rasulullah saw dapat meringankan penderitaannya. Saat itu, Rasulullah saw berkata kepada Zaid: “Peganglah istrimu, karena engkau telah bersusah payah untuk mendapatkannya, dan Allah swt telah memudahkan pernikahan kamu berdua. Berdoalah kepada Allah swt, semoga Allah swt memperbaiki prilakunya terhadapmu. Takutlah kepada Allah swt dalam kehidupanmu bersama Zainab, dan gunakan akal pikiranmu dalam menimbang masalah ini.” Sungguhpun Zaid mempergauli Zainab dengan baik, namun Zainab tetap membenci Zaid, dan Zainab senantiasa membanggakan kecantikan dan kekeluargannya dengan Rasulullah saw, sehingga Zaid bosan dengan kesombongan istrinya itu, dan dia tidak memperoleh ketenangan dan ketenteraman hidup bersama Zainab, karena Zainab tidak mau mematuhi perintahnya dan tidak rela hidup bersamanya. Kemudian Zaid pergi menjumpai Rasulullah saw dan membuat dakwaannya. Dia berkata: “Wahai Rasulullah, aku akan menceraikannya.” Rasulullah saw bertanya: “Mengapa engkau menceraikannya? Apakah engkau lihat sesuatu yang smbang pada dirinya?” Zaid menjawab: “Demi Allah, aku tidak melihatnya, wahai Rasulullah. Aku tidak meraguinya dan tidak melihat sesuatu yang tidak baik pada dirinya, tetapi dia senantiasa menyombongkan diri dengan membangga-banggakan kedudukan sosialnya dan senantiasa menyakiti hatiku dengan kata-katanya”. Sekali lagi Rasulullah saw menasehatinya: “Peganglah istrimu.” Dan Rasulullah sa bersungguh-sungguh menasehati Zaid sambil berdoa kepada Allah swt dengan harapan syafaatnya dapat memberi manfaat. Tetapi usahanya tidak memberi kesan yang baik, karena Allah swt telah menurukan wahyu kepada Baginda bahwa tiada sesiapapun yang dapat menolak keputusan dan perintah-Nya, seterusnya perkara ini telah ditetapkan dari langit sebagai syariat Islam, dan Rasulullah saw jangan mempedulikan cercaan dan cacian orang. Allah swt mewahyukan kepada Rasul-Nya dalam firman-Nya:
“Dan kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah swt menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah swt yang lebih berhak untuk kamu takuti”(QS.al-Ahzab:37)
Setelah ayat ini turun, tibalah saatnya Zaid mengakhiri hubungannya dengan Zainab, maka Zaid menceraikannya. Setelah iddahnya habis, Allah swt menikahkannya dengan Rasulullah saw. Zainab berani berdepan dengan Rasulullah saw disebabkan tiga faktor berikut ini: 1) Bahwa kakeknya dan kakek Rasulullah saw sama yaitu Abdul Muttalib bin Hasyim 2) Bahwa yang menikahkannya kepada Rasulullah saw adalah Allah swt. 3) Bahwa yang berperan menjadi pengantara di antara keduanya adalah Jibril as. Disebabkan ketiga-tiga faktor ini, Zainab berbangga menjadi istri Rasulullah saw. Bahkan dia berbangga di depan istri-istri Rasulullah saw. Dia berkata:“Yang menikahkan kamu adalah keluarga kamu sendiri, sedangkan yang menikahkan aku adalah Allah swt Ta’ala dari atas langit yang jauh”. Pada suatu hari Rasulullah saw sedang bercerita tentang Aisyah, tiba-tiba Rasulullah saw tertidur, kemudian Baginda terbangun dalam keadaan tersenyum seraya berkata: “Siapa yang bisa menyampaikan kabar gembira kepada Zainab?” Baginda Rasul membaca firman Allah swt:
“Dan (ingatlah) ketika kamu berkata kepada orang yang telah Allah melimpahkan nikmat kepadanya, peganglah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah swt”. (QS.al-Ahzab:37)
Pembantu Rasulullah saw yang bernama Salma menyampaikan berita itu kepada Zainab. Ketika Zainab mendengar berita itu, secara spontan dia melepaskan semua yang ada di tangannya, lalu dia pergi melaksanakan shalat sebagai tanda syukurnya kepada Allah swt. Pada acara walimatul ‘urus, Rasulullah memerintahkan Anas bin Malik ra untuk menyembelih kambing untuk dihidangkan kepada para tamu yang datang. Para tamu datang berbondongbondong dan berrombongan. Setelah para tamu selesai makan, Rasulullah saw berkata: “Hai Anas, angkatlah makanan itu” Pada ketika itu, dua orang pengunjung masih duduk beercerita di rumah Rasulullah saw, sementara Rasulullah saw dan istrinya sedang duduk bersandar di dinding. Sikap mereka yamg masih bertahan di rumah Rasulullah saw tidak disenangi oleh Rasulullah saw, maka Rasulullah saw dan Zainab keluar dari rumah untuk mengucapkan salam kepada semua istrinya. Rasulullah saw berkata kepada mereka: “Kesejahteraan ke atas kamu. Apa kabar kamu?” Mereka menjawab: “Baik, ya Rasulullah. Apa kabar keluargamu (istrimu)?” Rasulullah saw menjawab: “Baik.” Apabila Rasulullah saw selesai menziarahi semua istrinya, Rasulullah saw dan Zainab pulang ke rumah mereka. Ketika mereka sampai di pintu, Baginda dapati dua orang laki-laki tadi masih bercerita di rumah Rasulullah saw, kemudian mereka keluar. Sebab kejadian ini Allah swt menurunkan firman Allah swt:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumahrumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan jika kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang perbicaraan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar) dan Allah swt tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-isetri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) menikahi istriistrinya setelah Baginda wafat selama-lamanya. Sesungguhnya perbuatan itu adalah sangat besar (dosanya) di sisi Allah swt”.(QS. Al-Ahzab:53)
Zainab menikah dengan Rasulullah saw dalam usia tiga puluh lima tahun. Nama asalnya ialah Barrah. Kemudian Rasulullah saw menamainya Zainab. Zainab pernah berkata: “Namaku adalah Barrah, kemudian Rasulullah menamaiku Zainab”. Zainab adalah yang paling cantik di antara istri-istri Rasulullah saw. Dia sering dicemburui oleh istri-istri Rasulullah saw yang lain, terutamanya Aisyah. Zainab tahu bahwa mereka cemburu terhadapnya. Sebab itu, dia selalu mengulang-ulang kata-katanya: ‘Aku lebih mulia dari kamu ditinjau dari segi pernikahan. Kamu dinikahkan oleh orang tua kamu sendiri, sedangkan aku dinikahkan Allah swt”. Aisyah mengakui perkara itu, dan dia pernah menyebutkan bahwa dia cemburu kepada Zainab dan Ummu Salamah. Aisyah berkata: “Kedua mereka paling dicintai oleh Rasulullah di antara semua istrinya setelah aku.” Seterusnya Aisyah menyatakan bahwa Zainab adalah istri yang paling menyayangi Rasulullah saw di antara istri-istrinya. Aisyah berkata: “Tidak seorangpun di antara semua istrinya yang paling menyayanginya kecuali Zainab”. Sejarah telah mencatatkan kesetiaan Zainab ketika Aisyah dituduh berbuat curang. Pada waktu itu sikap Zainab berbeda dengan sikap saudari kandungnya Hamnah binti Jahsy yang turut serta menyebarluaskan fitnah terhadap Aisyah. Ketika fitnah itu terjadi Aisyah berkata: “Fitnah itu tersebar luas di tangan Abdullah bin Ubai bin Salul dan Mastoh binti Jahsy. Keterlibatan Hamnah dalam fitnah itu adalah karena saudarinya Zainab istri Rasulullah. Dia menginginkan agar kedudukan Zainab lebih baik dari kedudukanku di sisi Rasulullah saw. Tetapi Zainab berbeda dengan saudarinya itu, di mana Allah swt telah memeliharanya dari mengatakan sesuatu yang tidak baik tentang fitnah itu. Sementara saudarinya Hamnah binti Jahsy turut terlibat dalam menyebarluaskannya demi kepentingan saudarinya dan demi kejatuhanku”. Aisyah menambahkan: “Aku tidak pernah melihat wanita yang paling baik beragama, paling takwa kepada Allah swt, paling jujur dalam ucapan, paling banyak menghubungkan silaturrahmi, paling banyak bersedekah dan paling banyak mendekatkan diri kepada Allah swt dari Zainab.” Semua ini adalah penyaksian madu Zainab. Mereka menyukai ketakwaannya, dan memuji akhlaknya dan silaturrahminya dengan orang lain. Mereka juga menyanjung sifat-sifat Zainab, karena dia berasal dari keturunan Hashim dan dari keluarga yang mulia. Pernikahan di antara Rasulullah saw dengan Zainab memberi peluang kepada musuh-musuh Islam untuk melemparkan tuduhan terhadap Islam dan kepada Rasulullah saw, di mana menurut tradisi orang-orang Arab sebelum berlangsungnya pernikahan Rasulullah saw dengan Zainab binti Jahsy, kedudukan anak kandung dan anak angkat adalah sama, baik dalam bidang pembagiaan harta pusaka maupun dalam pernikahan. Islam bermaksud untuk menghapuskan tradisi mereka. Maka Allah swt menjadikan Rasulullah saw sebagai contoh teladan agar ia menjadi pedoman bagi kaum Muslimin. Bahkan melalui contoh ini, hukum yang ditetapkan lebih mudah diikuti oleh umat Islam. Allah swt berfirm:
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang Mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang Mukmin, apabila Allah swt dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah swt dan RasulNya, maka sesungguhnya dia telah sesat, sesat yang nyata”. (QS.al-Ahzab:36)
Allah swt juga berfirman:
“Tidak ada suatu keberatanpun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah swt baginya, (Allah swt telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi yang telah terdahulu. Dan adalah ketetapan Allah swt itu suatu ketetapan yang pasti berlaku”.(QS.al_Ahzab:38)
Kemudian ayat berikutnya menyelesaikan masalah kedudukan Muhammad saw sebagai bapak kepada Zaid:
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah swt Maha Mengetahui segala sesuatu”.(QS.al-Ahzab:40)
Pada suatu hari Rasulullah saw pernah mengatakan kepada para istrinya bahwa orang yang paling panjang tangannya di antara kamu akan mengikutiku (yakni meninggal dunia mengiringiku). Dalam menanggapi ucapan Rasulullah itu Aisyah menjelaskan sebagai berikut: “Setelah Rasulullah saw wafat, kami (istri-istri Rasul) senantiasa mengadakan pertemuan. Pada setiap kali kami bertemu, kami meletakkan tangan kami ke dinding untuk mengetahui tangan siapa yang paling panjang di antara kami. Begitulah kami lakukan sampai Zainab meninggal dunia, sedang dia adalah seorang wanita pendek, yakni dia tidak termasuk isetri Rasul yang tertinggi. Setelah Zainab wafat, kami dapat mengetahui bahwa maksud Rasulullah saw dalam hadis itu adalah orang yang paling banyak bersedekah, karena Zainab adalah seorang yang banyak berkarya seperti menyamak kulit binatang dan menjahit. Kemudian hasilnya dia sedekahkan kepada orang yang memerlukan”. Zainab meriwayatkan sebelas hadis. Dua hadis daripadanya terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim. Setelah Rasulullah saw wafat, persaingan di antara istri-istri Rasul tidak wujud lagi. Bahkan yang tinggal hanyalah kenangan. Zainab adalah istri yang sangat dicintai oleh Rasul, seorang wanita yang penyayang kepada anak-anak orang-orang Mukmin dan seorang wanita yang banyak beribadat kepada Allah swt. Selain itu Zainab sering menginfakkan semua hasil karyanya kepada orangorang yang membutuhkan. Menurut salah satu riwayat, pada suatu hari Umar bin Khattab mengirim uang dari Baitulmal sebanyak sepuluh ribu dirham kepada Zainab untuk menutupi kebutuhannya. Ketika uang itu sampai ke tangannya, dia berkata: “Ya Tuhanku, harta ini akan menyampaikan aku kepada Qabil”. Kemudian dia membagi-bagikannya kepada kaum kerabat dan kepada orangorang yang membutuhkan. Apabila Umar bin Khattab mendengar berita itu, dia pergi menemui Zainab seraya berkata: “Aku tahu bahwa engkau telah membagi-bahagikan uang itu. Aku akan kirimkan kepadamu seribu dirham lagi untuk engkau simpan.” Kemudian Umar mengirimkan seribu dirham yang dijanjikannya. Tetapi setelah uang itu sampai ke tangan Zainab, dia mensedekahkannya kepada orang-orang yang berhajat. Ketika ajal Zainab telah hampir tiba, yaitu pada tahun 20 hijriyah, dia berkata: “Aku telah menyediakan kapanku, dan Amirul Mukminin, Umar akan mengirimkan sebuah kain kapan untukku. Aku berharap agar kamu sedekahkan salah satu daripadanya. Dan seandainya kamu bisa mensedekahkan pakaianku ini, hendaklah kamu lakukan”. Mudah-mudahan Allah swt memberi rahmat-Nya kepada Ummul Mukminin Zainab binti Jahsy yang banyak berpuasa dan shalat serta yang sangat memahami arti sedekah sehingga sedekah itu menjadi amalan hidupnya sampai akhir hayatnya. Siapakah di antara ibu-ibu dan saudara-saudara kita yang sanggup mengikut jejak Zainab binti Jahsy? Siapakah di antara anak-anak kita yang perduli terhadap perintah Allah swt dan patuh kepada sunnah Rasul-Nya sampai ajalnya tiba? Sewaktu Aisyah mendengar kematian Zainab, dia berkata: “Zainab adalah wanita yang banyak beribadat dan banyak menolong anak-anak yaitm dan janda.” Di antara istri-istri Rasulullah saw Zainab adalah istri pertama yang mengikuti jejak Rasulullah saw (meninggal dunia).
Referensi:
Buku ULUMUL QUR’AN Kajian Kisah-Kisah Wanita dalam Al-Qur’an. Penulis Muhammad Roihan Nasution.