Kisah Ummu Jamil (Pembawa Kayu Api)


Setelah Nabi kita Muhammad saw diangkan menjadi Rasul, Allah swt memerintahkannya supaya dakwahnya yang disebar secara sembunyi-sembunyi disampaikan dengan terang-terangan. Maka Allah swt menurunkan ayat-ayat berikut:

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah: “ Sesungguhnya aku tidak bertanggungjawab terhadap apa yang kamu kerjakan”. (Qs. Asy-Syu’ara:214-216)

Allah swt berfirman:

“Maka sampaikanlah secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik”.(QS.al-Hijr:94)

Pada suatu hari, Rasulullah saw mengundang kaum kirabatnya untuk makan di rumahnya. Kemudian Rasulullah saw mengajak mereka kepada Allah swt. Lalu pamannya, Abu Lahab memotong ucapannya dan mengajak para hadirin berdiri meninggalkannya. Keesokan harinya, Rasulullah mengundang mereka pada kali kedua. Setelah selesai makan, Rasulullah berkata: “Aku berpendapat bahwa tiada seorangpun di antara orang Arab yang membawa sesuatu yang lebih baik dari apa yang aku bawa. Sesungguhnya aku membawa kebaikan di dunia dan di akhirat. Oleh itu, Tuhanku memerintahkan supaya aku menyeru kamu kepadanya. Siapakah di antara kalian yang dapat menolongku?” Semua hadirin berpaling dan bermaksud meninggalkan majlis itu, tetapi Ali bin Abu Thalib, seorang anak kecil berdiri seraya

berkata: “Ya Rasulullah, akulah orang yang akan menolongmu, dan akan memerangi orang-orang yang memusuhimu”. Bani Hasyim tersenyum, bahkan sebagian mereka tertawa dengan suara kuat. Dan pandangan mereka beralih dari Abu Talib kepada anaknya, lalu mereka pergi sebagai ejekan kepada Rasulullah saw. Setelah itu, dakwah Rasulullah saw berpindah dari kalangan keluarga dekatnya kepada penduduk Mekkah. Pada suatu hari dia menaiki bukit shafa seraya menyeru: “Hai golongan Quraisy”. Orang-orang Quraisy berkata: “Muhammad berteriak di atas Shafa” Kemudian mereka mendatanginya seraya bertanya: “Apa gerangan yang terjadi ya Muhammad?” Rasulullah saw menjawab: “Seandainya aku beritahukan kepada kamu bahwa seekor kuda berada di kaki bukit ini, apakah kamu membenarkanku?” Mereka berkata: “Ya, kami membenarkanmu, kami belum pernah menuduhmu dan belum pernah mendapatimu berdusta.” Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya aku memperingatkan kamu dari azab yang pedih. Hai bani Abdul Mutalib, Bani Abdul Manaf, Bani Zuhrah, Bani Tamim, Bani Makhzhum dan Bani Asad. Sesungguhnya Allah swt memerintahkan agar aku memberi peringatan kepada keluarga terdekatku, dan sesungguhnya aku tidak berupaya memberikan kamu kebahagiaan di dunia, dan tidak pula kebaikan di akhirat kecuali kamu ucapkan :

Kemudian Abu Lahab yang bertubuh besar dan bersifat pemarah, bangun sambil berteriak ke arah Rasulullah saw: ”Mudah-mudahan engkau celaka sepanjang hari ini, untuk inikah engkau kumpulkan kami?”. Allah swt menurunkan Alquran kepada Rasulullah saw:

تَبَّتۡ يَدَآ أَبِي لَهَبٖ وَتَبَّ مَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُ مَالُهُۥ وَمَا كَسَبَ سَيَصۡلَىٰ نَارٗا ذَاتَ لَهَبٖ وَٱمۡرَأَتُهُۥ حَمَّالَةَ ٱلۡحَطَبِ فِي جِيدِهَا حَبۡلٞ مِّن مَّسَدِۢ

Perlu diketahui bahwa pada ketika itu anak Rasulullah, Rukiah dan Ummu Kaltsum telah menikah dengan ‘Utbah dan ‘Utaibah binti Abu Lahab. Rukiah menikah dengan Utbah sementara Ummu Kalthum menikah dengan ‘Utaibah. Setelah turunnya ayat-ayat di atas, Rasulullah menyampaikan dakwahnya secara terang-terangan, maka para pemuka Quraisy mengadakan perbincangan tentang anak-anak Rasulullah saw yakni Rukiah dan Ummu Kalthum. Ummu Jamil binti Harb, istri Abu Lahab bersumpah akan membuat Rukiah dan Ummu Kalthum bercerai dengan anaknya ‘Utbah dan ‘Utaibah, dan dia berusaha membangkitkan kemarahan Abu Lahab terhadap Rasulullah saw dan memaksa kedua anaknya untuk menceraikan anak-anak Rasulullah saw. Akhirnya Abu Lahab berkata kepada kedua anaknya: “Jangan kamu menganggapku sebagai ayah, kalau kamu tidak menceraikan anak Muhammad.” Akhirnya mereka menceritakan anak Nabi saw dengan paksaan ayah dan ibu mereka setelah turunnya Surat al-Lahab. Kita tidak menduga bahwa Abu Lahab sanggup memperlakukan kedua cucu saudaranya, Rukiah dan Ummu Kalthum binti Muhammad saw, karena dia sangat gembira ketika menyambut kelahiran Muhammad saw, bahkan dia memerdekakan hambanya sebagai tanda kegembiraan. Tetapi karena hasad dan dengki dia sanggup mengkhianati Muhammad saw. Kehadiran Ummu Jamil yang senantiasa mendorong Abu Lahab membenci Muhammad saw, menyebabkan Abu Lahab semakin berlaku kasar terhadap keturunan Hasyim. Bahkan dia melupakan kewajibannya sebagai paman Nabi Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muttalib bin Hasyim.

Ummu Jamil yang menyimpan kedengkian kepada Muhammad saw senantiasa meletakkan duri di jalan-jalan yang dilalui oleh Nabi saw dan sewaktu Ummu Jamil mendengar ayat mengenai dirinya dan suaminya, dia seakan-akan pitam. Maka dengan kemarahan dan kedengkiannya dia membawa batu sebesar genggaman kepada Rasulullah saw yang sedang duduk bersama Abu Bakar dekat Ka’bah di Masjid al-Haram. Tatkala dia sampai dan berdiri di depan Rasulullah saw, Allah swt menutup penglihatannya sehingga dia hanya melihat Abu Bakar dan tidak melihat Rasulullah saw. Kemudia Ummu Jamil bertanya: “Hai Abu Bakar, di mana sahabatmu itu? Menurut berita yang sampai kepadaku dia telah mencaciku. Demi Tuhan seandainya aku menemuinya, aku akan melemparkan batu ini ke mulutnya. Bukankah aku seorang penyair?” Lalu dia membacakan syairnya: “Kami menyalahi orang yang tercela, kami ingkar kepada perintahnya, dan kami juga meninggalkan agamanya.” Setelah dia pergi, Abu Bakar bertanya kepada Rasulullah saw: “Tidakkah dia melihatmu?” Rasulullah saw menjawab: “Dia tidak melihatku, karena Allah menutup penglihatannya untuk melihatku.” Kedengkian Abu Lahab kepada Rasulullah saw dan keluarganya serta agamanya semakin menjadi-jadi. Karena kelicikan Ummu Jamil mmepengaruhi suaminya sehingga buta terhadap kebenaran yang dibawa Nabi saw. Semua orang Islam disekat oleh orang-orang kafir Quraisy di sebuah kawasan pergunungan di Makkah, sehingga orang-orang Islam kehabisan bahan pangan. Ketika orang-orang Islam mendatangi pedagang-pedagang yang datang ke Makkah untuk mendapatkan bahan pangan, Abu Lahab telah terlebih dahulu mendatangi pedagang-pedagang itu dan mengatakan kepada mereka: “Hai para pedagang, tetapkanlah harga yang mahal kepada pengikut-pengikut Muhammad sehingga mereka tidak mampu membeli suatu apa pun dari kamu. Aku akan bertanggungjawab dan menanggung segala kerugian kamu .” Maka para pedagang itu menaikkan harga barang-barang mereka dengan berlipat ganda sehingga semua orang Islam tidak mampu membelinya dan kembali kepada anak dan istrinya mereka yang kelaparan dengan tangan kosong. Setelah itu para pedagang itu menemui Abu Lahab untuk mendapatkan ganti rugi dengan jumlah harga yang berlipat ganda untuk menutup kerugian mereka. Akhirnya orang-orang Islam dan Bani Hasyim yang berpihak kepada Muhammad saw. mengalami kelaparan dan kekurangan pakaian sebagai akibat dari kekejaman Abu Lahab. Ummu Jamil terus menerus menaruh hasad dengki kepada orang-orang Islam terutama kepada Rasulullah saw. Setiap hari dia mencari duri untuk diletakkan di jalan yang dilalui oleh Rasulullah saw. Pada suatu hari hasratnya tidak berhasil apabila tumit kakinya tidak dapat meneruskan perjalanan sehingga dia terjatuh di jalan dan tersungkur ke bumi. Malaikat mautpun datang untuk mencabut nyawanya dan dia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Sesungguhnya Ummu Jamil memperoleh kerugian dunia dan akhirat, dan dia akan merasai panas api neraka di hari kiamat nanti.

 

Referensi:

Buku ULUMUL QUR’AN Kajian Kisah-Kisah Wanita dalam Al-Qur’an. Penulis Muhammad Roihan Nasution.