Sebelum Maryam binti Imran dilahirkan, ibunya Hinnah binti Faquz telah bercita-cita untuk menghadiahkannya dan menjadikannya sebagai nazar untuk berbakti di Baitullah di al-Qudus. Setelah Maryam dilahirkan, dan dewasa dia terpilih menjadi ibu kepada seorang Nabi yang berkat, di mana sejak anak itu dilahirkan hidupnya penuh dengan mu’jizat. Dia adalah Isa as yang sampai saat ini masih hidup, sekalipun orang-orang yahudi dan Nashrani menyangkanya sudah mati dibunuh. Kisah Maryam perlu diketahui, tetapi sebelum kita menghuraikan kisahnya, ada baiknya kita ceritakan kisah ibunya Hinnah binti Faquz sejak dia mengandung dan melahirkan anaknya Maryam yang banyak beribadah kepada Allah swt. Hinnah binti Faquz adalah seorang wanita yang mandul, tetapi dia ingin memperoleh seorang anak yang akan membahagiakan dan menyenangkan hatinya. Setiap kali dia menyaksikan burung yang sedang membelai anaknya atau memberinya makanan, keinginannya memperoleh anak semakin membara, apakah lagi ketika dia melihat wanita yang sedang menggendong anak.
Hari demi hari hasratnya yang memperoleh anak semakin mendalam. Meskipun usia Hinnah dan suaminya Imran bin Mathan, telah lanjut, namun Allah swt belum mengizinkan mereka menimang cahaya mata. Tetapi, mereka tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah swt. Imran dan Hinnah masih berharap bahwa Allah swt akan mengabulkan permintaan mereka. Hinnah menyerahkan semua urusannya kepada Allah swt yang memiliki langit dan bumi, maka dia berdoa kepada Allah swt dengan penuh khyusuk dan tawadhuk, serta dia bernazar, sekiranya Allah swt mengabulkan permintaannya dan menganugerahkan seorang anak, anak itu akan diserahkannya ke Bait al-Maqdis agar anak itu berbakti padanya. Keinginan Hinnah memiliki anak semakin kuat karena jika dia ada anak, hidupnya semakin berseri dan anak itu akan menjadi tulang punggungnya di kemudian hari.
Tidak lama kemudian, doa Hinnah dikabulkan oleh Allah swt, maka dia menyampaikan berita gembira itu kepada suaminya Imran. Walaupun begitu, tiada seorangpun yang tahu tentang takdir Allah swt. Suaminya Imran belum sempat menyaksikan kelahiran anaknya, dia telah pergi meninggalkan Hinnah seorang diri buat selanya. Kegembiraan Hinnah binti Faquz berobah menjadi kesedihan. Siapa yang menyangka bahwa Imran tidak sempat melihat anaknya. Senyuman Hinnah yang manis bertukar menjadi hambar, air matanya menggenangi pipinya, dan wajahnya yang berseri menjadi muram, karena dia telah kehilangan suami yang dikasihi. Semua itu adalah suratan takdir, maka tiada seorangpun yang dapat menghalanginya. Isya’ bersama suaminya Zakaria datang berziarah dan berta’ziah kepada Hinnah saudari Isya’ yang baru ditinggalkan oleh suaminya. Zakaria bin Badkhi berusaha mengobati luka hati Hinnah dan memberinya nasehat dengan ucapan: “Sesungguhnya semua ini adalah takdir Allah swt yang tidak dapat dibantah oleh siapapun.” Hinnah berkata: “Tetapi aku berharap, agar umurnya dipanjangkan Allah swt swt sehingga dia dapat menyaksikan anak laki-laki yang akan aku lahirkan. Isya’ berkata: “Hai saudariku, siapa yang memberitahu engkau bahwa bayi yang akan lahir itu laki-laki bukan perempuan?” Zakaria berkata: “Allah swt yang mengetahui jenis bayi dalam rahim.” Hinnah diam dan tidak bertutur satu katapun. Setelah mereka berpisah Zakaria dan istrinya datang menziarahi Hinnah pada kali kedua dengan harapan Hinnah rido menerima keputusan Allah swt swt. Sebelum Hinnah melahirkan dan saat-saat yang dinantinantikan belum tiba, dia sangat bergembira, tetapi apabila dia mengetahui anak yang dilahirkannya adalah perempuan dia merasa kecewa, lalu dia menadahkan tangan ke hadrat Allah swt seraya berkata:
“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkan seorang anak perempuan, dan Allah swt mengetahui apa yang dilahirkannya itu, dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai akan dia Maryam dan aku melindungkannya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau dari syaitan yang terkutuk.” (Qs. Ali-Imran: 36)
Hinnah teringat akan janjinya bahwa dia berhasrat melahirkan anak laki-laki yang akan dihadiahkan ke Bait al-Maqdis sebagai tanda syukur kepada pemilik Bait al-Maqdis atas segala nikmatnikmat yang dikaruniakan-Nya. Tetapi harapannya untuk melahirkan anak laki-laki tidak terkabul. Hinnah merasa sedih dan terus berdoa semoga Allah swt memelihara anaknya dan memberinya inayah dan rahmat-Nya dan semoga tingkah laku anaknya sesuai dengan namanya ‘Maryam’ yang bermakna wanita yang banyak beribadat atau Maryam terjemahan dari shalat, tasbih, memuji dan bersyukur kepada Allah swt Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Perkasa. Namun demikian kesedihan Hinnah mulai hilang sekali pun anaknya perempuan tetapi doa dan nazarnya untuk menghadiahkan bayinya di Bait al-Maqdis dapat diterima, di mana Allah swt memberitahu Hannah bahwa Maryam adalah wanita istimewa dan akan memperoleh rahmat dan kasih sayang Allah swt. Setelah Hinnah menyiapkan keperluan Maryam, dia membawa Maryam ke Bait al-Maqdis dan menyerahkannya kepada para pendeta yang berbakti di rumah ibadat itu. Para pendeta yang berjumlah tiga puluh orang dalam rumah ibadat itu bertanggungjawab memelihara Maryam. Mereka tahu bahwa Maryam adalah anak Perempuan kepada seorang laki-laki soleh bernama Imran bin Mathan yang senantiasa menghadiahkan kurban ke rumah Ibadat itu. Zakaria tidak setuju Maryam diberikan kepada orang lain, karena dia berpendapat bahwa dia lebih berhak ke atas Maryam dari orang lain berdasarkan faktor kekerabatan. Zakaria berkata: “Saya lebih berhak memeliharanya dari kamu, karena dia anak Hinnah saudari istriku Isya’.”Para pendeta itu menjawab: “Engkau tidak boleh memeliharanya seorang diri, karena hak kita kepadanya sama.” Zakaria berkata dengan tegas: “Jika ditinju dari segi silaturrahmi dan hubungan kekeluargaan, aku lebih berhak memeliharanya dari kamu. Oleh itu, kamu tinggalkan dia dan serahkan saja kepadaku.” Dialog dan perbincangan di antara mereka semakin hangat dan meruncing, karena mereka berusaha mengetengahkan alasan masing-masing. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan hak pemeliharaan terhadap Maryam, karena mereka berpendapat bahwa dengan memelihara Maryam akan mendekatkan diri kepada Allah swt. Akhirnya mereka sepakat mengadakan undian untuk memilih orang yang akan bertanggungjawab memelihara Maryam. Zakaria dan para pendeta itu pergi ke sungai yang terdekat dengan rumah ibadat itu. Mereka melemparkan pulpen masingmasing ke dalam sungai itu. Tiba-tiba semua pulpen para pendeta tenggelam ke dalam sungai, kecuali pen Zakaria saja yang timbul di permukaan air. Oleh karena itu mereka setuju Zakaria yang akan memelihara Maryam. Dengan keberhasilan Zakaria dalam mendapatkan hak pemeliharaan, maka dia membawa Maryam kepada Isya’. Setelah itu dia membina sebuah kamar untuk Maryam di rumah peribadatan itu agar Maryam tenang beribadat padanya dan terjauh dari orang ramai. Maryam membesar di bawah pengawasan Zakaria yang bertanggung jawab memenuhi keperluannya. Masa terus berlalu. Maryam terus menerus beribadat kepada Allah swt yang Maha Esa. Pada siang hari dia berpuasa, dan pada malam hari dia shalat dan bertasbih dengan khusyuk. Maryam terus menerus melaksanakan yang demikian, karena tidak ada yang menghalanginya dari uzlahnya. Oleh itu, Maryam menumpukan perhatiannya kepada ibadah kepada Allah swt swt. Banyak kejadian dan peristiwa luar biasa membuat Zakaria merasa heran dan tidak dapat mentafsirkannya. Setiap kali Zakaria masuk ke tempat peribadatan yang dibinanya untuk Maryam dalam Bait al-Maqdis, dia dapati makanan telah tersedia, padahal dia tahu bahwa dialah satu-satunya orang yang masuk ke dalamnya. Oleh karena itu, dia bertanya kepada Maryam dalam keadaan heran: “Hai Maryam, aku lihat di depanmu terdapat makanan yang banyak, buah-buahan yang ada pada musim dingin dan musim panas. Dari mana engkau peroleh semua itu, dan dari mana ia datang?” Maryam menjawab:
“Makanan itu dari sisi Allah swt. Sesungguhnya Allah swt memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab”.(QS.Ali-Imran:37)
Dari jawaban Maryam itu, Zakaria tahu bahwa sesungguhnya Allah swt telah memberikan keistimewaan kepada Maryam dari manusia yang lain, dan sesungguhnya Allah swt telah memilih Maryam dari semua wanita. Kemudian Zakaria merenungkan kekuasaan Allah swt swt yang digambarkannya pada diri Maryam. Dari renungannya terhadap kekuasaan Allah swt, muncul dalam fikirannya keinginan memperoleh anak dari tulang sulbinya sendiri meskipun dia telah tua dan istrinya telah berumur lagi mandul sejak masa mudanya. Bukankah Allah swt Maha Kuasa atas segalanya? Dan bukankah Dia Maha Pengasih dan Penyayang? Zakaria memandang ke langit sambil menadahkan tangan dan membisikkan isi hatinya yang hanya Allah swt mendengarnya dan mengetahuinya. Inilah doa Zakaria kepada Allah swt:
“Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku”. (QS.Maryam:4)
Dalam doa Zakaria dia berkata:
“Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawali, sepeninggalanku, sedang istriku adalah seorang yang mandul. Maka anugerahilah aku dari sisi engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Ya’kub, dan jadikanlah dia, ya Tuhanku, seorang yang diridoi.” (QS.Maryam:6)
Mawalinya itu adalah anak-anak pamannya dari Bani Israel. Zakaria telah menyatakan sebab yang jelas mengapa dia mengharapkan keturunan, yaitu dia takut para kaum kerabatnya akan berusaha menukar agama mereka. Dengan demikian, mereka tidak akan dapat memimpin kaumnya dengan baik setelah kepergiannya. Jadi itulah sebabnya Zakaria memohon dikaruniai seorang anak laki-laki dari tulang sulbinya sendiri yang akan mewarisinya kelak dan akan menjadi panutan manusia di kemudian hari.
Allah swt memperkenankan doa dan permintaan Zakaria. Maka Allah swt berfirman:
“Hai Zakaria, sesungguhnya kami memberi khabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengannya”.(QS.Maryam:7)
Dengan karunia Allah swt impian Zakaria dapat tercapai. Faktor yang mendorongnya untuk memperoleh hak asuh anak itu ialah ucapan yang didengarnya dari Maryam, maka dia bermohon dan berdoa kepada Allah swt. Allah swt mengabulkan permintaannya dan menganugerahinya seorang anak yang mungil lagi soleh bernama Yahya. Maryam semakin besar, hatinya penuh dengan cinta kepada Allah swt dan ketakwaan serta kebaikannya semakin berkembang. Bahkan dia semakin banyak melaksanakan ibadah shalat dan puasa, sementara kaumnya semakin bertambah bakhil untuk mengeluarkan harta dan rezeki yang dianugerahkan Allah swt kepada mereka. Kemudian Zakaria keluar dari rumah untuk bertemu dengan kaumnya dan menyampaikan kepada mereka: “Wahai manusia, sesungguhnya aku telah tua, kekuatanku telah pudar dan kemampuanku membiayai Maryam telah berkurang. Oleh itu, siapakah di antara kamu yang mampu membiayai Maryam agar dia dapat menggunakan waktunya untuk menyembah Allah swt, dan dapat menunaikan nazar yang telah diucapkan oleh ibunya Hinnah binti Faquz sebagaimana kamu ketahui?” Seorang laki-laki soleh dari kerabat Maryam atau anak pamannya, Yusuf An-Najjar berdiri seraya berkata: “Saya akan membiayainya.” Semenjak itu dia menunaikan amanah yang diterimanya dari Zakaria as. Hal ini merupakan kemuliaan kepada Maryam, di mana Allah swt swt memberinya rezeki melalui Yusuf an-Najjar. Yusuf an-Najjar bertanggung jawab membawa makanan dan minuman kepada Maryam. Tetapi setiap kali dia mendatangi Maryam, dia merasa heran, karena di depan Maryam selalu terdapat makanan dan bermacam-macam buah-buahan. Oleh karena itu Yusuf bertanya: “Dari mana Engkau dapatkan makanan ini wahai Maryam?” Maryam menjawab:
“Makanan itu dari sisi Allah swt. Sesungguhnya Allah swt memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab” .(QS.Ali-Imran:37)
Maryam tidak pernah tahu bahwa dia adalah satu tanda kekuasaan Allah swt. Dia tekunan beribadah kepada Allah swt, karena dia telah menyerahkan segala urusannya kepada sang pencipta, dan dia juga tidak mengetahui perkara yang ghaib dan tidak memiliki kekuatan apapun. Serta dia merasa tenteram di tempat peribadatannya, karena dia dapat mengawal hawa nafsunya, tidak seperti anak gadis lainnya. Pada suatu hari Maryam keluar dari tempat peribadatannya untuk mengambil air dari sungai di dekat tempat peribadatannya. Tiba-tiba Jibril yang menyerupai wajah laki-laki gagah mendatanginya seraya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah swt mengutusku kepadamu”.
“Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.”(QS.Maryam:19)
Maryam mundur ke belakang seraya berkata:
“Sesungguhnya aku berlindung darimu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah jika kamu seorang yang bertakwa.”(QS.maryam:18)
Maryam menganggap kejadian itu tipu muslihat seorang lakilaki licik, yang bermaksud mengambil kesempatan dari kebaikannya. Tidakkah dianggap suatu yang ganjil jika seorang anak muda berani mengusik seorang anak gadis yang pemalu dengan terangterangan? Mengapa pula dia meberitahu bahwa dia bermaksud memberi Maryam seorang anak, sedangkan keduanya berada di tempat yang sunyi? Bukankah ucapan seperti itu mencurigakan?.
Oleh itu, Maryam memberanikan diri untuk membela kehormatan dirinya. Dia berkata:
“Bagaimanakah aku memiliki seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku pula bukan seorang pezina”.(QS.Maryam:20)
Maryam berbicara dengan jelas dan terang, tetapi Jibril berusaha meringankan kekhawatirannya. Jibril berkata:
“Demikianlah Tuhanmu berfirman. Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari kami, dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.” (QS.Maryam:21)
Jibril berkata: “Kehendak Allah swt akan berlaku”, kemudia dia pergi dan menghilang. Maryam termenung memikirkan kata-kata Jibril itu, dan dia terbayang tuduhan yang akan dilontarkan orang kepadanya. Dia mulai takut, karena sudah tentu orang ramai akan tertanya-tanya, bagaimana seorang anak gadis yang belum menikah bisa mengandung dan melahirkan anak. Dia menanggung penderitaan batin yang tidak dapat diberitahukan kepada siapapun. Oleh itu, dia lebih suka menyendiri dan menjauhkan diri dari semua orang. Makan dan minumnya tidak teratur, selera makannya berkurang, dan fikirannya tidak tenang, bahkan dia tidak menghiraukan masyarakat yang ada di sekelilingnya. Mayam tinggal di sebuah rumah terpincil dan jauh dari keluarga dan orang ramai di kampung an-Nashirah tempat kelahirannya berdekatan dengan Bait al-Maqdis. Dia sengaja menjauhkan dari diri keluarga dan masyarakat, karena dia bimbang rahasianya akan terbongkar dan diketahui orang lain, serta dia lebih suka hidup di tempat itu agar dia dapat berdoa kepada Allah swt dengan tenang. Dia berharap agar Allah swt memberinya kesabaran dalam menghadapi cobaan yang sangat berat itu. Meskipun Maryam tahu bahwa dia tidak pernah melakukan kejahatan dan dosa, dan apa yang dialaminya itu adalah suatu mu’jizat, tetapi dia tahu bahwa manusia akan menzaliminya dan dia tahu bahwa mereka tidak akan percaya dan tidak akan membenarkannya kecuali ada mu’jizat lain yang akan membantunya. Sebab itu, dia menadahkan tangan sambil menitiskan air mata seraya berkata: “Hai Tuhanku, aku mengharap kasih sayang, kemaafan dan keridoan-Mu, Engkaulah Yang Maha Mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau.” Tidak ada suatu cara yang dapat membantunya kecuali berserah diri kepada Allah swt swt dan percaya pada qadar yang datang dari-Nya. Dengan demikian, kesungguhannya dalam beribadah; berpuasa pada siang hari dan shalat pada malam hari semakin bertambah. Bayi dalam rahimnya mulai bergerak menandakan masa kelahiran telah dekat. Tanda-tanda melahirkan telah mulai terasa, maka Maryam keluar dari kampung an-Nashirah menuju Bait alLaham. Di sana di bawah pokok kurma yang kering dan tidak mempunyai pelepah dan daun, Maryam berhenti. Maryam memandang ke alam sekelilingnya sambil menunggu pertolongan oramg, tetapi pertolongan yang ditunggu-tunggunya tidak pernah kunjung. Di tempat itu tidak ada bidan yang akan menolongnya dan meringankan kepedihannya dan tidak ada ibu yang menemaninya, pada hal pada saat-saat seperti itu, dia memerlukan tangan yang lembut dan suami yang membelainya. Di bawah pokok kurma itu Maryam menjerit dan menahan kepedihan demi anaknya yang lahir ke alam ini. Dia menyentuh tubuh anaknya yang masih panas sambil memandangnya dengan kesal. Dari mulutnya keluar kata-kata:
“Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti lagi dilupakan”. (QS.Maryam:23)
Maryam heran melihat apa yang berlaku ke atas dirinya. Tetapi itulah kehendak Allah swt yang pasti akan berlaku. Sesungguhnya Allah swt menyayangi Maryam dan tidak membiarkannya dalam kesedihan yang berkepanjangan. Maka Allah swt memperlihatkan tanda kebesaran-Nya dan mukjizat-Nya kepada Maryam untuk menghadapi penghinaan masyarakat. Di antaranya anak yang baru dilahirkannya itu memanggil ibu. Hal ini merupakan kurnia Allah swt kepada Maryam, wanita terpilih dari semua wanita di muka bumi. Allah swt berfirman:
“Maka dia menyeru dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahnya”.(QS.Maryam:24)
Hai ibuku, lihatlah ke bawah, di tanah yang kering ini telah mengalir anak sungai, dan lihatlah, pohon kurma itu telah mengeluarkan tamar yang baik lagi layak untuk dipetik. Goyanglah pangkal pohon itu dan makanlah buahnya, dan jangan engkau ragu-ragu. Bergembiralah dan tenanglah. Sesungguhnya Allah swt tidak akan menyia-nyiakan dan tidak akan membiarkan kita. Dan bersihkanlah dirimu dan pergunakanlah air itu untuk mandi.
“Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak untukmu”. (QS.Maryam:25)
Tangan Maryam tidak pernah lepas dari anaknya, pandangannya tertumpu kepadanya dan wajahnya dihiasi dengan senyuman dan kegembiraan. Sebaliknya kesedihan yang sekian lama dialaminya telah hilang dan lenyap. Buah kurma yang berjatuhan dari pohon yang digoyangnya dinikmati oleh Maryam sambil berterima kasih kepada Allah swt atas nikmat yang diperolehnya. Sewaktu Maryam berada dalam situasi demikan, anak pamannya Yusuf an-Najjar menyaksikan apa yang berlaku ke atas Maryam dan anaknya Isa as.
Kemudian Allah swt melarang Maryam menjawab pertanyaan orang tentang Isa as. Allah swt berfirman:
“Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah kepadanya: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorangpun manusia pada hari ini.”(QS.Maryam:26)
Menurut tradisi kaum kerabat Maryam, apabila mereka berpuasa, mereka tidak boleh berbicara dengan siapapun. Berdasarkan itulah, Allah swt memerintahkan Maryam untuk bernazar. Maryam menghabiskan masa nifasnya di gua yang terpencil dari orang ramai, sementara Yusuf an-Najjar berperanan menguruskan keperluannya. Setelah masa nifas selesai, Maryam kembali kepada keluarganya dengan membawa anaknya Isa as. Berita kepulangannya dan anaknya tersebar di kalangan keluarganya. Orang ramai mulai membicarakannya. Ada yang mencerca dan ada yang mengingati kemuliaannya dan kedudukan ayah dan ibunya Imrah dan Hinnah. Mereka tertanya-tanya, mengapa Maryam melahirkan anak zina, sedangkan dia berasal dari keluarga yang baik. Mereka berkata tentang Maryam:
“Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat, dan ibumu sekali-kali bukan seorang penzina”. (QS.Maryam:27-28)
Kelahiran Isa as adalah satu mukjizat yang besar, maka pembelaan terhadap kelahirannya mesti pula dengan mukjizat yang besar. Maryam tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan kepadanya dengan berupa kata-kata. Dia hanya mengisyaratkan supaya mereka berbicara dengan anaknya yang masih dalam baian. Ketika Maryam mengisyaratkan kepada anak itu, mereka terkejut dan heran. Mereka berkata:
“Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?”.(QS.Maryam:29)
Isa as tidak menunggu pertanyaan mereka, maka dia terus menjawab:
“Sesungguhnya aku ini hamba Alla. Dia memberiku al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup, dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga disampaikan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”.(Qs.Maryam:30-33)
Kesejahteraan disampaikan kepadamu hai Isa pada hari engkau dilahirkan, pada hari engkau meninggal dunia dan pada hari engkau dibangkitkan dan dihidupkan kembali. Anak itu telah memberi bukti yang nyata sewaktu dia masih dalam buaian. Kejadian itu merupakan satu mukjizat yang membuktikan kesucian seorang wanita yaitu Maryam binti Imran . Allah swt menjadikan seorang anak yang masih dalam buaian bisa berbicara dengan bahasa yang fasih, merupakan delil bahwa Allah swt kesanggup menciptakan seorang manusia tanpa bapak yaitu Isa as. Jawaban Isa as merupakan senjata ampuh yang dapat memadamkan api fitnah dan dapat menghapuskan keraguan keluarga Maryam dan masyarakatnya. Kisah anak Maryam menjadi buah mulut masyarakat Bait alLaham, an-Nashirah dan daerah sekitarnya, di tempat-tempat perkumpulan, dan di rumah-rumah. Dengan demikian, pandangan masyarakat terhadap Maryam telah berobah, dan keraguan mereka telah hilang. Bahkan mereka mulai menyayangi anaknya yang berkat dan mempunyai mukjizat yang luar biasa. Kelahiran Isa as adalah pada zaman pemerintahan Raja Hindus. Melalui para pembesar kerajaan, Raja Hindus tahu bahwa seorang anak laki-laki yang akan berpengaruh dalam masyarakat telah dilahirkan. Oleh itu, sebelum suara anak itu didengar orang, dan sebelum namanya dikenal masyarakat, dia harus dibunuh. Rencana pembunuhan anak itu dikesan oleh Maryam dan Yusuf anNajjar, maka Maryam melarikan anaknya ke tempat yang aman dan selamat, yaitu di Mesir di sekitar sungai Nil. Di tempat itulah Maryam memelihara dan mendidik anaknya.
Semenjak kecil, mukjizat dan tanda-tanda kenabian telah mulai nampak pada diri Isa. Dia dapat mengetahui apa yang dimakan kawan-kawannya dan apa yang disimpan di rumah orang. Selain dari itu, guru-gurunya telah menyaksihi kecerdasan dan kepintarannya, di mana semua masalah tidak pernah hilang dari ingatannya, baik yang kecil maupun yang besar. Isa as tinggal di Mesir selama dua belas tahun. Setelah Raja Hindus meninggal dunia, Maryam bersama anaknya kembali ke Palestin dan tinggal di Kota Nadhirah dekat al-Khalil. Ketika Isa as berumur tiga puluh tahun, Jibril turun untuk menyampaikan wahyu Allah swt, dan Isa as menerima al-Kitab yang datang dari sisi Allah swt untuk membenarkan Kitab Taurat. Kemudian dia mulai mengajak manusia supaya saling kasih mengasihi dan hidup damai, dan juga mengajak mereka untuk mengikut agamanya. Nabi Isa as berusaha sedaya upaya untuk memperbaiki akhlak orang-orang Yahudi yang telah menyeleweng dan lari dari jalan yang benar, di mana mereka telah merobah kitab yang dibawa oleh Musa as dan mereka menghabiskan umur mereka dalam mencari harta kekayaan.
Dalam mengumpul harta kekayaan, mereka memanfaatkan Haikal, di mana mereka menagih harta semua orang yang berkemampuan atau tidak berkemampuan, dan yang kaya atau miskin. Dengan cara demikian, mereka berhasil mengumpul harta yang sangat banyak tanpa menghiraukan nasib orang yang terpaksa menyerahkan semua hartanya demi mentaati agama sebagaimana didakwakan pemuka-pemuka agama mereka. Sebagian orang Yahudi sesat dari jalan yang benar. Mereka ingkar dengan adanya hari kiamat, dan hari hisab. Sementara sebagian yang lain sibuk mengumpul harta kekayaan untuk memuaskan hawa nafsu dan mendapatkan kesenangan dunia. Mereka memperdaya manusia untuk melakukan kejahatan dan memberi mereka kemudahan untuk melakukan kemungkaran dan kesesatan. Isa as memasuki setiap kota dan desa untuk mengajak manusia kepada agama yang dibawanya dan dia mengadakan pengobatan terhadap masyarakat Yahudi yang ditimpa penyakit. Maka dengan kecerdasan, kebijaksanaan, kelembutan dan ketenangan, serta dengan mukjizat-mukjizat yang diperolehnya dari Allah swt, dia dapat menarik perhatian dan memikat hati orang-orang Yahudi. Antara mukjizat-mukjizat yang dikaruniakan Allah kepada Isa as ialah dapat meniup tanah menjadi burung dan dapat mengobati penyakit. Dakwahnya mulai didengar orang dan dia mulai berani menemui para pemuka agama di tempat-tempat peribadatan mereka. Isa memilih hari yang baik untuk mengadakan pertemuan dengan para pemuka masyarakat dan masyarakat umum. Dia menyampaikan dakwahnya kepada semua orang baik yang datang dari kota maupun yang datang dari desa. Dakwahnya mendapat sambutan baik dari orang ramai. Setiap hari pengikut dan penyokongnya semakin bertambah.
Namun demikian di antara para pemuka agama ada yang tidak senang dengan kejayaan Isa as, maka mereka menentangnya dan bercita-cita untuk membunuhnya. Tetapi Allah swt tetap memeliharanya dari segala kejahatan, dan senantiasa menolongnya dalam menghadapi tipu muslihat orang-orang kafir. Dalam menghadapi berbagai tantangan dalam berdakwah, Isa mendapat dukungan dan dorongan daripada ibunya, Maryam. Setiap kali Isa as bertolak untuk berdakwah Marayam memberi kata-kata semangat agar Isa as senantiasa sabar dam tabah menghadapi segala ancaman. Begitulah peran Maryam, seorang wanita yang dinazarkan ibunya untuk berbakti di Bait al-Maqdis. Kegiatan Isa as menjadi masalah besar di kalangan pendeta dan pemuka-pemuka agama Yahudi. Sebab itu, mereka meminta bantuan kepada Raja Rumania untuk menegah dakwahnya. Alasan mereka dakwah Isa as menentang kerajaannya. Tetapi Raja Rumania tidak mengambil suatu tindakan, bahkan dia berkata:”Aku tidak dapati dalam dakwah Isa suatu perkara yang tidak baik.” Para pemuka agama menjawab: “Jika dakwahnya sampai ke istana, ia akan menggugat kerajaan dan wilayah kekuasaanmu, karena dakwahnya mengandung ajaran yang bertujuan untuk melenyapkan Raja Qaisar dan menjatuhkan martabatnya di mata manusia.” Para pemuka agama mulai mengadakan pertemuan untuk membicarakan perkara itu.
Akhirnya mereka menetapkan dan memutuskan untuk membunuh Isa dengan cara yang kejam sekali yaitu dengan cara menyalibnya. Maryam sangat kuawatir melihat posisi anaknya, tetapi dia tetap yakin bahwa Allah swt tetap menolong anaknya dan anaknya pasti selamat dari rencana pembunuhan itu. Isa as bersama pengikut-pengikut dan murid-muridnya yang beriman kepada dakwahnya tinggal di satu kawasan kebun di Bait al-Maqdis, tempat yang lebih selamat dari gangguan musuh, tetapi ternyata anggapan mereka meleset, karena tentera Raja Rumania dapat mengesannya. Setelah murid-murid Isa mengetahui posisi mereka tidak selamat, mereka menjauhkan diri dan meninggalkan Isa seorang diri. Apakah Allah swt akan membiarkan Isa dianiaya oleh musuh? Tidak, sebenarnya pada hari itu Isa tidak seorang diri, karena Allah swt telah menjanjikannya suatu kemenangan dan keselamatan dari tipu muslihat para musuhnya yang selalu membuat kerusakan di muka bumi. Allah swt senantiasa menolong Isa dan menyelamatkannya dari penganiayaan orang-orang Yahudi yang dengki dan berencana membunuhnya.
Maka Allah swt menutup pandangan para tentera Rumania dari melihat Isa serta menjadikan salah seorang dari mereka menyerupai wajah Isa as, lalu mereka menyerang dan menangkapnya. Laki-laki itu terkejut dan membisu karena ketakutan dan dia tidak sanggup membela dirinya. Akhirnya dia menyerah tanpa meminta pertolongan dari orang ramai. Laki-laki itu adalah salah seorang yang selalu memusuhi Isa dan memperangkapnya. Isa as selamat dari pembunuhan yang mereka rancang dan Allah swt mengangkatnya ke langit, sementara pembunuhan itu tetap dilaksanakan ke atas laki-laki yang wajahnya diserupakan oleh Allah swt dengan wajah Isa as. Sewaktu laki-laki itu disalib, Maryam menangis tersedu-sedu, kedua matanya mencurahkan air mata dan hatinya penuh dengan kegelisahan, karena dia menyangka bahwa orang yang disalib itu adalah anaknya Isa as. Maryam selalu didampingi salah seorang pesakit yang pernah didoakan oleh Isa as. Maryam dan pesakit itu terkejut apabila Isa as mendatangi mereka. Maryam memeluk anaknya Isa as.
Kemudian Isa as bertanya kepada ibunya: “Mengapa engkau menangis wahai ibuku?” Maryam dan pesakit itu menjawab: “Kami menangis karena engkau.” Isa memberi isyarat kepada laki-laki yang disalib itu seraya berkata: “Laki-laki itu adalah salah seorang dari mereka yang diserupakan oleh Allah wajahnya dengan wajahku, sementara aku telah diselamatkan dan diangkat oleh Allah swt ke langit. Maryam sangat gembira mendengar penjelasan anaknya dan dia yakin dan percaya bahwa Allah swt tetap memelihara dan menolong hambaNya. Kemudian Isa pergi, sementara Maryam yang ditinggalkannya bergembira dan bersenang hati karena telah tahu kedudukan dan kemuliaan anaknya di sisi Allah swt SAW Ketika Maryam berada dalam keadaan itu, tiba-tiba dua orang dari murid-murid Isa bernama Syamun ash-Shafa dan Yahya datang kepada Maryam dan berkata: “Sebelum Isa diangkat ke langit dia telah menyuruh kami untuk berbakti kepadamu dan meneruskan dakwahnya.”Maryam berkata kepada keduanya: “Mudah-mudahan Allah swt menunjuki kamu ke jalan yang baik dan benar.” Setelah Isa pergi, Maryam senantiasa menolong setiap orang yang membutuhkan pertolongan di sekelilingnya. Di samping itu dia membantu Syam’un dan Yahya menyebarkan dakwah Isa di kalangan manusia. Dari usaha yang mereka jalankan, sebagian masyarakat mendapat petunjuk dan beriman kepada agama yang dibawa Isa, sementara sebahagian yang lain sesat dan ingkar kepadanya.
Hari berganti hari, tahun berganti tahun, Maryam tetap melaksanakan shalat dan ibadah. Dia senantiasa memperoleh rezeki dan makanan dari sisi Allah swt. Setelah enam tahun Isa diangkat ke langit, Maryam berpulang ke rahmatullah dengan tenang. Sesungguhnya Allah swt menghendaki supaya kisah Maryam menjadi kenangan sepanjang masa. Sebab itu, Allah swt menceritakannya dalam al-Qur’an dan juga Allah swt membersihkan namanya dan memuliakannya, karena Maryam adalah wanita yang paling banyak beribadat. Oleh karena itu namanya tetap dikenang dan menjadi lambang kebaikan, kesucian dan kemuliaan sepanjang zaman. Allah swt berfirman dalam al-Qur’an:
“Dan (ingatlah) Maryam puteri Imran yang memelihara kehormatannya. Maka kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) kami, dan dia membenarkan kalimat Tuhannya dan kitab-kitab-Nya, dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat”. (QS.at-Tahrim:12)
Kesejahteraan atas kesucian dan kemuliaan Maryam. Kesejahteraan ke atas wanita yang jujur dan benar, wanita yang taat, dan mulia. Itulah Maryam binti Imran dan kesejahteraan juga ke atas anaknya Isa as yang taat sejah hari dia dilahirkan, hari dia diangkat ke langit dan hari dia dibangkitkan kembali.
Referensi:
Buku ULUMUL QUR’AN Kajian Kisah-Kisah Wanita dalam Al-Qur’an. Penulis Muhammad Roihan Nasution.