Rumah tangga Rasulullah saw adalah contoh teladan yang paling baik bagi semua rumah tangga Islam sepanjang zaman. Dalam rumah tangga Rasulullah saw terdapat sifat kekeluargaan yang baik dan hubungan silaturrahmi yang erat. Rasulullah saw sangat dicintai istri-istrinya. Masing-masing ingin menjadi orang yang terdekat kepada Rasul dan paling disayangi oleh Rasulullah saw, kecemburuan Ummahatul Mukminin ke atas Rasulullah saw bukanlah suatu yang ganjil dan baru karena cinta yang membara pasti menghidupkan sifat awal yang ada pada wanita. Oleh sebab itu api kecemburuan membara pada diri mereka karena menginginkan kasih sayang Rasulullah saw. Rasulullah saw memiliki anak-anak perempuan sebagai hasil perkawinannya dengan Khadijah ra. Keberadaan mereka telah memberikan ketenteraman dan kebahagiaan kepada Rasulullah saw. Apabila mereka berada di sisinya, Rasulullah saw tidak merasa sunyi. Anak-anak Rasulullah saw ialah Fatimah, Zainab, Ruqaiyyah dan Ummu Kultsum. Rasul saw seperti manusia lain, ingin memiliki anak laki-laki yang akan menjadi buah hatinya. Ketika umur Rasulullah saw sudah hampir mencapai enam puluhan, dia belum mendapat anak laki-laki dari salah seorang istri-istrinya yang dikawininya atas kehendak Allah swt. Sungguhpun keinginan Rasulullah saw tidak kesampaian, tetapi Baginda tidak pernah mengabaikan tanggungjawabnya dalam menyebarkan syiar Islam. Rasulullah saw mulai mengirim surat kepada raja-raja untuk mengajak mereka memeluk agama islam. Di antara raja-raja yang menerima dakwah Rasulullah saw ialah al-Muqauqis pemimpin al-Iskandariah yang juga pembesar bangsa Qibty. Rasulullah saw mengutus salah seorang sahabatnya bernama Hathib bin Abi Balta’ah al-Lakhim untuk menyampaikan surat yang berbunyi: “Dengan nama Allah swt Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
(Dari Muhammad bin Abdullah kepada al-Muqauqis pembesar bangsa al-Qibty. Kesejahteraan atas orang yang mengikut petunjuk. Amma ba’du.
Sesungguhnya aku mengajakmu dengan dakwah Islamiah, masuklak kepada Islam, engkau akan selamat, dan Allah swt memberiku pahala dua kali ganda. Maka jika engkau berpaling maka sesungguhnya engkau menanggung dosa-dosa bangsa Aris. Whaai ahli kitab, marilah kita bersatu yaitu kita tidak menyembah selain Allah swt dan kita tidak mempersekutukanNya dan kita tidak menjadikan Tuhan selain Allah swt. Maka jika kamu berpaling maka katakanlah: “Bersaksilah bahwa kami orang-orang Muslim.”
Al-Muqauqis membaca surat yang dikirim oleh Rasulullah saw itu dengan teliti, sementara Hathib berdiri di depannya di istana di Iskandariyah. Setelah dia (Muqauqis) membaca surat itu, dia memberikannya kepada salah seorang hambanya. Kemudian dia memandang Hathib seraya berkata: “Ceritakan kepadaku tentang Nabimu.” Hathib mula bercerita tentang sifat-sifat Rasulullah saw, dan bercerita dengan panjang lebar tentang dakwah Baginda. Kemudian Hathib diam dan al-Muqauqis juga diam. Setelah itu alMuqauqis berkata: “Sesungguhnya aku telah tahu bahwa Nabi telah dibangkitkan dan aku menyangka bahwa dia muncul di negeri Syam karena di sanalah tempat munculnya para Nabi. Sekarang aku tahu bahwa Nabi itu muncul di Tanah Arab. Tetapi orang-orang Qibty tidak akan patuh kepadaku.” Jika diteliti dengan seksama, kata-kata al-Muqauqis itu menunjukkan bahwa dia mencintai kerajaannya. al-Muqauqis memanggil pembantunya untuk membalas surat Rasulullah saw. Kemudian dia menyerahkan surat itu kepada Hathib sambil meminta maaf kepadanya, karena orang-orang Qibty sangat berpegang dengan agama mereka. Di samping itu, ketika Hathib hendak keluar dari istana, al-Muqauqas berpesan agar dia merahasiakan pembicaraan mereka berdua dari orang-orang Qibty. Surat al-Muqauqis berbunyi: “Amma ba’d. Aku telah membaca suratmu dan aku telah paham apa yang engkau sebutkan padanya dan ke mana engkau ajak aku. Sesungguhnya aku telah tahu bahwa Nabi telah diutus, tetapi sebelumnya aku menyangka bahwa dia muncul di negeri Syam. Aku telah memuliakan utusanmu dan aku kirimkan kepadanya dua orang hamba yang berkedudukan tinggi di kalangan orang-orang Qibty serta aku kirimkan pakaian dan unta untuk tungganganmu. Kesejahteraan untukmu”.
Hathib kembali kepada Rasulullah saw membawa hadiah alMuqauqis yaitu Mariah al-Qibtiah, seorang hamba laki-laki yaitu saudaranya Sirin, emas seribu dirham, pakaian yang halus buatan Mesir dua puluh helai, madu, kemenyan dan minyak kasturi. Ketika dalam perjalanan, Hathib bercerita panjang lebar dengan Mariah dan saudaranya tentang sejarah Makkah dan AlMadinah dan tentang Islam dan toleransinya. Di samping itu, Hathib tidak lupa memberitahu Mariah akan kesederhanaan Rasulullah saw dan sifat-sifat Baginda yang mulia. Mendengar cerita Hathib itu, pintu hati Mariah dan saudaranya terbuka untuk memeluk agama Islam. Ketika mereka sampai di Al-Madinah pada tahun ke7 Hijriyah, Hathib membawa hadiah kiriman al-Muqauqas kepada Rasulullah saw. Pada saat itu Rasulullah saw baru kembali dari alHudaibiyah setelah membuat perjanjian dengan kaum Quraisy. Rasulullah saw menerima surat al-Muqauqis dan hadiahhadiahnya. Baginda mengambil Mariah, sementara saudaranya Sirin dihadiahkan kepada penyair Rasulullah saw yang bernama Hassan bin Thalib. Berita tentang hadiah al-Muqauqis yang berupa anak gadis yang masih muda, berambut keriting dan cantik sampai kepada istri-istri Rasulullah saw. Kedatangan Mariah sangat membimbangkan semua istri Rasulullah saw karena mereka sangat mencintai Rasulullah saw. Bahkan mereka senantiasa berusaha mengambil hati Rasul agar mendapat kasih sayang yang istimewa dari Rasulullah saw. Aisyah selaku istri Nabi yang paling banyak cemburu, semakin cemburu apabila dia mengetahui bahwa Rasulullah saw banyak mendatangi rumah Mariah dan beristirahat padanya dalam waktu yang cukup lama. Bahkan jika ada waktu yang kosong, Rasulullah saw berada di rumah Mariah baik malam maupun siang. Rasulullah saw menyintai Mariah, karena dia seorang wanita cantik lagi berkulit putih. Mariah ditempatkan di al-‘Aliyah yaitu suatu tempat di pinggir kota Al-Madinah yang padanya terdapat banyak tanam-tanaman dan pokok-pokok kurma. Kemudian Rasulullah saw mempergauli Mariah sehingga pada suatu hari Mariah mengandung dan setelah itu melahirkan putra Rasulullah saw yang diberi nama Ibrahim. Kelahiran Ibrahim membuat Rasulullah saw sangat gembira dan jiwanya semakin tenteram, serta penantiannya selama ini menjadi kenyataan, maka Ibrahim menjadi pengobat rindu Rasulullah saw. Berdasarkan itu, kedudukan Mariah semakin baik, sehingga dia menjadi istri yang terdekat dan lebih disayangi oleh Rasulullah saw. Kedudukan yang baik ini membuat Mariah semakin banyak bersyukur dan berzikir serta bertasbih kepada Allah swt atas segala karunia dan nikmat-Nya. Seterusnya kehadiran Ibrahim dalam hidup Rasulullah saw membuatnya sering berkunjung ke rumah Mariah untuk melihat anaknya yang semakin membesar. Pada suatu hari Rasulullah saw mendukung Ibrahim ke rumah Aisyah, maka Rasul memanggil Aisyah dengan lemah lembut dan penuh kegembiraan. Tujuan kedatangan Rasulullah saw adalah supaya Aisyah dapat melihat Ibrahim yang menyerupai paras ayahnya. Aisyah cemburu dan bercita-cita untuk mempunyai anak yang dapat menggembirakan hati Rasulullah saw dan sekaligus dapat memberikan keistimewaan ke atasnya dibandingkan dengan istri-istri yang lain. Pada perkiraan Aisyah, jika dia memiliki anak seumpama Ibrahim, pasti kasih sayang Rasulullah saw terhadapnya semakin bertambah. Kedatangan Rasulullah saw membawa Ibrahim membuat Aisyah hampir meneteskan air mata, tetapi dia menahannya lalu dia berkata: “Aku tidak melihat ada kesamaaan di antara kamu berdua.” Mendengar kata-kata Aisyah itu, Rasulullah saw merasa pilu, maka dia membawa Ibrahim pulang ke rumah ibunya, karena Rasulullah saw tidak senang dengan prilaku Ummul Mukminin Aisyah. Pada suatu hari Rasulullah saw sedang berada di rumah Hafshah binti Umar bin al-Khattab. Tidak lama kemudian Hafshah meminta izin kepada Rasulullah saw. Rasulullah saw tinggal seorang diri di rumah itu. Tiba-tiba Mariah datang lalu mendapati Rasulullah saw seorang diri. Kemudian Mariah duduk menemani Rasulullah saw untuk seketika. Tatkala Hafshah kembali ke rumah, dia dapati Mariah ada di dalam. Hafshah menunggu di luar dengan penuh rasa cemburu sehingga Mariah keluar dari rumah. Kemudian Hafshah masuk menemui Rasulullah saw seraya berkata: “Aku telah melihat orang yang duduk di sisimu. Demi Allah perkara ini sangat menyakitkan hatiku, dan engkau tidak akan melakukannya kalau tidak karena engkau memandang hina padaku.” Kata-kata itu diucapkannya sambil meneteskan air mata. Kata-kata yang diucapkan Hafshah itu sangat menyakitkan hati Rasulullah saw karena Baginda tidak bermaksud menghina istrinya Hafshah, anak sahabatnya Umar al-Khattab yang dinikahinya karena memuliakan sahabatnya. Maka untuk membujuk Hafshah, Rasulullah saw menyampaikan suatu rahasia kepada Hafshah dan rahasia itu tidak boleh diceritakannya kepada siapapun di antara istri-istrinya yang lain. Hafshah berjanji akan merahasiakannya dan menjadikannya satu rahasia yang mesti dipegang. Tetapi apakah gerangan rahasia itu? Rasulullah saw bersumpah kepada Hafshah bahwa Mariah haram kepadanya. Tujuan Baginda berbuat demikian ialah supaya apa yang Hafshah sangkakan tidak pernah ada. Bahkan Rasulullah saw bersumpah adalah untuk mengambil hati Hafshah agar tidak menyerbarluaskan rahasia itu. Meskipun Hafshah merasa bahagia karena dapat dekat dengan Rasulullah saw dan mempunyai keistimewaan di sisi Baginda, namun dia tidak sanggup menyembunyikan rahasia itu. Akhirnya Hafshah pergi menemui Aisyah yang pada perkiraannya Aisyah adalah istri yang terdekat dengan Rasulullah saw, lalu menyampaikan rahasia itu. Mendengar rahasia itu, kecemburuan Aisyah semakin membara. Kemudian dia mengambil kesempatan untuk menjatuhkan madunya tanpa memikirkan akibat yang akan menimpa mereka, sama seperti Hafshah yang membocorkan rahasia itu kepadanya tanpa membuat perkiraan terlebih dahulu. Tidak lama setelah itu, rahasia tersebut tersebar luas di kalangan istri Rasulullah saw Akhirnya berita tersebut sampai kepada Rasulullah saw. Oleh itu, Rasulullah saw ingin memberikan satu pengajaran kepada istri-istrinya, pengajaran yang tidak dapat mereka lupakan. Sebenarnya Rasulullah saw tidak pantas mendengar kecerewetan dan kecemburuan mereka yang tidak beralasan itu. Untuk memberi pengajaran kepada semua istrinya, Rasulullah saw bertekat untuk memutuskan hubungannya dengan istriistrinya selama satu bulam. Tindakan Baginda itu bertujuan untuk memberantas sifat cemburu dan kebodohan yang tidak beralasan di kalangan istri-istrinya. Sepanjang tempoh itu, Rasulullah saw menetap di sebuah kebun yang penuh dengan pohon-pohon kurma yang padanya tidak ada asas rumah kecuali sehelai tikar keras lagi kering. Di sanalah Rasulullah saw mengasingkan diri dengan bantuan hambanya yang bernama Rabah. Hafshah ra adalah istri Nabi yang paling banyak menyesal, karena sebagai seorang wanita yang banyak berpuasa, shalat dan beribadat kepada Allah swt tidak sepatutnya membocorkan rahasia yang telah diamanahkan oleh Rasulullah saw kepadanya. Berita perpisahan Rasulullah saw dengan semua istrinya termasuk Hafshah tersebar luas di kalangan masyarakat Al-Madinah. Oleh itu, Umar bin al-Khaththab mendatangi anaknya Hafshah yang didapatinya sedang menangis. Dia berkata: “Barangkali Rasulullah telah menceraikanmu. Dia telah pernah menceraikanmu kemudian dia merujukimu demi aku. Oleh itu, jika dia menceraikanmu pada kali kedua, maka aku tidak akan berbicara denganmu buat selamanya.’ Maka tatkala Umar pergi ke masjid sebagaimana diceritakannya: (Aku bertemu dengan orang-orang Islam di sana sedang bercerita). Dalam cerita itu mereka mengatakan: “Rasulullah saw menceraikan istri-istrinya”. Dalam keadaan seperti itu, tidak ada seorangpun di antara sahabat yang berani bertanya kepada Rasulullah saw tentang istriistri yang ditinggalkannya. Tetapi Umar yang telah tahu bahwa punca kejadian itu datangnya dari Hafshah, tidak sanggup berdiam diri, lalu dia pergi menemui Rasulullah saw. Ketika dia sampai di sana, dia dapati Rabah sedang duduk menjaga pintu tempat Rasulullah saw mengasingkan diri. Umar meminta izin untuk menemui Rasulullah saw. Rabah masuk ke dalam, kemudian dia keluar tanpa berbicara atau mengizinkan Umar masuk. Berulang kali Umar meminta izin, namun Rabah tetap tidak mengizinkannya. Kemudian untuk menunjukkan kesungguhannya, dia meninggikan suaranya. Akhirnya Rasulullah saw membolehkannya masuk. Setelah dia berdiri di depan Rasulullah saw, Umar menangis tersedu-sedu, lalu Rasulullah saw bertanya: “Apa yang menyebabkan engkau menangis wahai Umar?” Umar menjawab: “Ya Rasulullah, apakah masalah wanita menyebabkan engkau sakit hati? Jika engkau menceraikan mereka, sesungguhnya Allah swt, Jibril, Mikail, aku, Abu Bakar dan semua orang-orang Mukmin adalah bersamamu”. Rasulullah saw tersenyum mendengar ucapan Umar itu, lalu Baginda menyatakan kepada Umar bahwa dia tidak menceraikan istri-istrinya. Baginda hanya meninggalkan mereka selama satu bulan sebagai pengajaran. Kemudian Umar keluar dan pergi ke masjid untuk menyampaikan kabar gembira itu kepada kaum Muslimin, di mana Rasulullah saw tidak menceraikan istri-istrinya. Mendengar berita itu, kaum Muslimin al-Madinah turut bergembira, karena kegelisahan mereka yang menimpa rumah tangga Rasulullah saw sudah terjawab. Tatkala kabar gembira itu sampai kepada Ummahatul Mukminin, mereka merasa sangat gembira dan masingmasing mereka berdiri di muka pintu rumah untuk menyambut kepulangan Rasulullah saw. Ketika Aisyah melihat Rasulullah saw, dia berkata: “Demi Allah wahai Rasulullah, aku telah mengucapkan kata-kata itu tanpa memikirkan akibatnya.” Mendengar ucapan Aisyah itu, wajah Rasulullah saw berseri, lalu membacakan firman Allah swt yang turun ketika itu:
“Hai Nabi, mengapa kamu mengharumkan yang Allah swt menghalalkannya bagimu, kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah swt Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Allah swt telah mewajibkan kepada kamu membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah swt adalah pelindungmu dan Dia Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”.(QS.at-Tahrim:1-2)
Mendengar ayat itu, Aisyah berkata sambil bergurau: “Engkau bersumpah meninggalkan kami satu bulan, sekarang baru berlalu dua puluh Sembilan hari.” Rasulullah saw tersenyum mendengar gurauan Aisyah. Sebenarnya Rasulullah saw tahu apa yang tersembunyi di dalam hati Aisyah di mana Aisyah tidak sanggup berpisah dengannya walaupun seketika. Kemudian Baginda menjawab: “Bulan ini adalah dua puluh Sembilan hari.” Tatkala ayat-ayat yang mengandung petunjuk-petunjuk yang indah diturunkan kepada Rasulullah saw untuk memperingatkan istri-istrinya supaya tidak mempergauli Baginda dengan cara yang tidak harmonis atau mereka bersatu menentang Baginda, maka kerukunan dan kedamaian di dalam rumah tangga Rasulullah saw kembali harmonis seperti sebelumnya.
Referensi:
Buku ULUMUL QUR’AN Kajian Kisah-Kisah Wanita dalam Al-Qur’an. Penulis Muhammad Roihan Nasution.