Kisah Asma binti Umais (Wanita Penyabar yang Berhijrah ke Habsyah)


Asma’ binti ‘Umais adalah seorang wanita yang turut serta dalam dua hijrah, dan turut terlibat dalam shalat menghadap dua kiblat. Asma’ memeluk Agama Islam sebelum Rasulullah saw memasuki Dar al-Arqam bin Abi al-Arqam di Makkah. Rasulullah saw menjadikan Dar al-Arqam sebagai pusat dakwah (tempat mengajak manusia kepada Islam) yang menghasilkan ramai orang memeluk Islam. Berarti, Asma’ termasuk orang yang terawal memeluk Agama Islam. Asma’ adalah seorang wanita pemurah yang sangat disukai oleh sahabat-sahabatnya, dan dia memperoleh kemuliaan karena dia menikah dengan Ja’far bin Abu Thalib yang mati syahid pada peperangan Mu’tah. Namanya ialah Asma’ binti ‘Umais bin al-Harits al-Khatamiyah. Ibunya ialah Khaulah binti ‘Auf bin Juhair. Tatkala Rasulullah saw melihat penderitaan orang-orang Islam yang dianiaya oleh orang-orang Quraisy, sedangkan Baginda belum mampu menyelamatkan mereka, maka Baginda bersabda: “Berpencarlah kamu di muka bumi. Sesungguhnya Allah swt akan menyatukan kamu kembali”. Orang-orang Islam bertanya:“Kemana ya Rasulullah?”. Rasulullah saw menjawab: “Ke sini (Rasulullah saw mengisyaratkan dengan tangannya ke arah Habsyah)”.

Kemudian Rasulullah saw menambahkan: “Sesungguhnya di Habsyah terdapat seorang raja yang tidak meganiaya orang-orang yang datang ke negaranya, dan Habsyah adalah bumi kebenaran. Mudah-mudahan Allah swt memberi jalan keluar bagi kamu dari penderitaan ini”. Berhijirah ke Habsyah merupakan hijrah keimanan. Rasulullah saw mengarahkan kaum Muslimin berhijrah, karena beliau mendapati orang-orang kafir Quraisy Makkah semakin memusuhi dan menzalimi mereka. Sebanyak delapan puluh tiga orang laki-laki dan delapan belas orang perempuan menyahuti seruan Rasulullah saw untuk berhijrah ke Habsyah. Turut serta dalam rombongan itu Ja’far bin Abu Thalib, al-Miqdad bin al-Aswad, Abdullah bin Mas’ud dan Abdullah bin Jahsy. Sementara kaum wanita pula termasuk Ummu Habibah binti Abu Sufyan dan Asma’ binti ‘Umais. Penderitaan yang dialami oleh Asma’ dan suaminya menyebabkan mereka turut serta berhijrah ke Habsyah. Di Habsyah, Ja’far berbicara dengan bijaksana di depan raja Habsyah.

Kebijaksanaan, kecerdikan, kefasihan dan kelantangannya berbicara adalah karunia Allah swt kepadanya. Perdebatan antara orang-orang Islam dengan an-Najasyi merupakan hari yang bersejarah bagi Asma’, karena dia menyaksikan suaminya berdebat membela Islam dan membela kaum Muslimin. Ketika Asma’ bersama suaminya Ja’far dan orang-orang Islam berada di Habsyah, orang-orang Quraisy Makkah telah mengirim dua orang utusan kepada an-Najasyi. Kedua orang itu membawa hadiah yang banyak untuk diserahkan kepada an-Najasyi, pembesarpembesar dan pemuka-pemuka agama dengan harapan mereka dapat mempengaruhi mereka untu menentang orang-orang Islam atau menghalau orang-orang Islam dari Habsyah. Dalam majlis yang penuh dengan kemegahan, an-Najasyi duduk di atas kursi yang tinggi dengan penampilan yang berwibawa, dikelilingi oleh para pendeta dan pemuka agama, dan kaum Muslimin Muhajirin duduk di depannya dengan tenang dan penuh keimanan.

Adapun Asma’ yang duduk di samping suaminya senantiasa berdoa meminta pertolongan dari Allah swt. sementara kedua orang utusan kafir Quraisy berdiri di depan an-Najasyi. Salah seorang dari mereka ialah Amar bin al-‘As yang pada ketika itu belum memeluk agama Islam. Dia berkata: “Wahai raja, sesungguhnya telah datang ke negaramu orang-orang bodoh yang telah meninggalkan agama kaum mereka dan pada waktu yang sama mereka tidak memasuki agamamu . Mereka membawa agama ciptaan mereka itu sendiri, agama yang kami dan engkau tidak mengetahuinya. Para pembesar kaum, bapak-bapak, paman-paman dan kaum kirabat mereka telah mengutus kami kepadamu supaya engkau mengembalikan mereka.” Mendengar kata-kata itu, anNajasyi terus mengalihkan pandangannya kepada kaum Muslimin seraya berkata: “Agama apakah yang membuat kamu meninggalkan kaummu dan tidak pula mengikut agama kami?” Asma’ terkejut melihat suaminya Ja’far berdiri untuk membela Islam dan menjawab pertanyaan an-Najasyi itu. Ja’far berkata: “Hai raja, sesungguhnya kami sebelum ini merupakan orang-orang bodoh (Jahiliyah). Kami menyembah patung-patung, memakan bangkai, memutuskan silaturrahmi, melakukan zina, berbuat jahat kepada jiran tetangga, sementara orang-orang kuat di antara kami menindas orang-orang yang lemah.

Begitulah keadaan kami sehingga Allah swt mengutus seorang Rasul yang kami kenal latar belakang keturunannya, kejujuran, keamanahan dan kesuciannya. Kemudian dia mengajak kami kepada Allah swt dan menyuruh kami menyembah-Nya dan mengesakan-Nya, sebagaimana dia mendorong kami untuk mengerjakan shalat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan meninggalkan tuhan yang sebelumnya kami sembah dari batu dan patung. Sebagaimana dia menyuruh kami bercakap benar, menunaikan amanah, menyambung silaturrahmi dan berbuat baik terhadap jiran tetangga, maka karena itu kami dianiaya dan disiksa dengan siksaan yang pedih agar kami meninggalkan agama kami serta kembali kepada menyembah patung-patung setelah kami mengesakan Allah swt. Oleh itu kami ingin berlindung di sampingmu dan bertempat tinggal di negaramu. Kami memilihmu karena kami yakin bahwa tidak ada orang yang teraniaya di sisimu”. Kemudian an-Najasyi berkata: “Apakah kamu membawa apa yang dibawa oleh Nabi kamu dari Tuhannya?” Ja’far menjawab: “Ya,” an-Najasyi berkata lagi: “Bacakanlah ia di depanku.” Ja’far membaca ayat-ayat berikut:

“Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam al-Qur’an, yaitu ketika dia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur. Maka dia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu kami mengutus ruh kami kepadanya, maka dia menjelma di depannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung darimu kepada Tuhan yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa.” Dia (Jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.” Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang penzina.” Jibril berkata: “Demikianlah Tuhanmu berfirman: Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah ditetapkan”. (QS.Maryam:16-21)

Mendengar ayat yang dibacakan itu, an-Najasyi menangis sehingga air matanya membasahi janggutnya. Para pendeta juga turut meneteskan air mata sehingga membasahi kitab yang ada di depan mereka. Kemudian an-Najasyi mengarahkan pandangannya kepada Amar bin al-‘As dan kawannya seraya berkata: “Apa yang dibacakannya kepada kita dan apa yang dibawa oleh Isa as adalah berasal dari satu sumber.” Lantas dia berkata kepada kedua utusan Quraisy: “Demi Allah swt, aku tidak akan menyerahkan mereka kepada kamu, dan aku tidak akan menyalahi janjiku selama aku hidup.” Kemudian an-Najasyi bangun dan orang-orang di sekelilingnya turut berdiri tanda majlis bubar. Kegembiraan Asma’ binti ‘Umais tidak terhingga atas kemenangan suaminya dalam membela agama Islam dan meninggikan kalimat yang benar.

Tetapi Asma’ takut kepada kecerdikan Amar bin al-‘As jika pada kali kedua dia menggunakan tipu muslihat di depan an-Najasyi. Kegelisahan itu disampaikannya kepada suaminya Ja’far bin Abu Thalib. Dugaan Asma’ itu benar apabila Amar bin al- ‘As keluar dari majlis an-Najasyi dalam keadaan marah yang berlebihan. Kemudian dia berkata kepada kawannya.: “Demi Allah, besok aku akan menemui an-Najasyi untuk menyampaikan suatu ucapan yang merobohkan benteng orang-orang Islam sehingga anNajasyi menjatuhkan hukuman ke atas mereka”. Kemudian kawannya yang lebih lembut berkata:“Jangan engkau perbuat demikian wahai saudaraku, karena sesungguhnya mereka mempunyai hubungan silaturrahmi” Amar berkata: “Demi Allah, aku akan memberitahu an-Najasyi bahwa mereka itu hanya menyampaikan sebagian saja tentang Isa, sementara yang lain mereka sembunyikan dan mereka merendahkan kedudukan Isa dan mengatakan bahwa Isa itu seorang hamba”.

Pada pagi besok harinya, kedua utusan Quraisy menemui anNajasyi seraya berkata: “Wahai raja, Semalam mereka hanya memperdengarkan sebagian saja tentang Isa, sementara sebagian yang lain mereka sembunyikan. Mereka mengatakan bahwa Isa bin Maryam adalah seorang hamba.” Mendengar ucapannya itu, anNajasyi mengarahkan supaya orang-orang Islam dipanggil. Ketika utusan itu sampai kepada Ja’far, Asma’ sangat takut dan bimbang akan kecerdikan Amar. Asma’ bersama suaminya dan orang-orang Islam yang lain pergi menghadap raja pada kali kedua. an-Najasyi memandang Ja’far dan orang-orang yang bersamanya seraya berkata: “Apa pendapatmu tentang Isa bin Maryam?” Ja’far menjawab: “Kami katakan sebagaimana yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw” An-Najasyi bertanya: “Apa yang dibawanya itu?” Ja’far menjawab: “Sesungguhnya dia (Isa) hamba Allah swt, Rasul-Nya dan kalimatNya yang disampaikan-Nya pada Maryam yang perawan, suci dan takwa.” an-Najasyi berkata: “Demi Allah, pernyataanmu tentang Isa tidak sedikitpun terdapat kesalahan.” Mendengar perkataan anNajasyi, para pendeta berpencar, karena tidak setuju dengan apa yang diucapkan an-Najasyi. Maka an-Najasyi memandang mereka dalam keadaan marah seraya berkata: “Sekalipun kamu bunuh membunuh.”

Kemudian an-Najasyi berkata kepada Ja’far dan orang-orang yang besertanya: “Pergilah, kamu akan menikmati keamanan di negaraku ini. Barang siapa yang menganiaya kamu, dia akan rugi dan akan menebus kesalahannya”. Seterusnya an-Najasyi berkata kepada pengawal-pengawalnya: “Kembalikan kepada Amar dan kawannya hadiah mereka. Kita tidak membutuhkannya”. Asma’ sangat gembira mendengar pernyataan anNajasyi itu.

Sebagai tanda syukur, dia bersujud kepada Allah swt dengan penuh khusyuk dan tawaduk atas segala nikmat-Nya. Sewaktu Asma’ tinggal di Habsyah, dia melahirkan seorang anak yang diberi nama Abdullah. Setelah masa berlalu, Ja’far bin Abu Thalib, Asma’, anak mereka yang comel dan orang-orang Islam yang berhijrah bersama mereka, kembali ke pangkuan Rasulullah saw. Tiba-tiba mereka dapati suatu kejadian yang bersejarah, di mana orang-orang Islam berhasil memperoleh kemenangan menaklukan Khaibar yaitu tempat kediaman orang-orang Yahudi di al-Madinah. Rasulullah saw sangat gembira atas kedatangan mereka. Ketika Baginda memeluk anak pamannya Ja’far bin Abu Thalib, Baginda bersabda yang bermaksud: Aku tidak tahu apa yang menyebabkan aku gembira; penaklukan Khaibar atau kedatangan Ja’far. Kata-kata Rasul itu menenangkan hati orang-orang Islam.

Setelah Asma’ menetap di al-Madinah, dia mulai menemui istri-istri Rasulullah saw dan mendengar berita orang-orang Islam dan kemenangan yang dicapai sewaktu dia berada di Habsyah. Pada suatu hari dia pergi menemui istri-istri Nabi seraya berkata: “Adakah Allah swt menurunkan al-Qur’an tentang kita?. Mereka menjawab: “Tidak.” Setelah itu dia pergi kepada Rasulullah saw seraya berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya para wanita dalam kerugian.” Rasulullah saw bertanya: “Mengapa demikian?” Dia menjawab: “Karena, wanita tidak disebutkan bahwa mereka memperoleh kebaikan sebagaimana para laki-laki disebutkan”. Tidak lama kemudian Allah swt menurunkan firman-Nya:

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang Muslim, laki-laki dan perempuan yang Mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatan, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang kshusyuk, lakilaki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah swt, Allah swt telah menyediakan untuk mereka keampunan dan pahala yang besar”.(QS.al-Ahzab:35)

Ayat tersebut menyamakan antara laki-laki dan perempuan yang Muslim, yang Mukmin, yang taat, yang tetap beribadat, yang sabar dalam menghadapi musibah dan yang memelihara kehormatan dirinya. Pada suatu hari, setelah Asma’ pulang dari Habsyah, dia bertemu dengan Umar bin Al-Khattab, Umar bekata kepadanya: “Kami berhijrah terlebih dahulu dari kamu. Sebab itu, kami lebih berhak kepada Rasulullah dari kamu. Mendengar ucapan Umar itu Asma’ marah lalu berkata: “Demi Allah, tidak seperti itu, karena kamu bersama Rasulullah, sedang dia memberi makan kepada orang yang lapar di antara kamu, dan dia mengajar orang yang bodoh di antara kamu, sementara kami tinggal jauh di negara orang di Habsyah. Semua itu kami lakukan adalah karena Allah swt dan Rasul-Nya. Demi Allah swt aku tidak makan dan tidak minum sebelum aku sampaikan apa yang engkau katakan kepada Rasulullah saw”. Tatkala Nabi saw datang, Asma’ berkata: “Wahai Nabi Allah, sesungguhnya Umar berkata begini-begini. Rasulullah bersabda: Apakah engkau katakana begini-begini.” Kemudian Rasul bersabda: “Tidak ada yang lebih berhak kepadaku dari semua kamu. Sesungguhnya dia (Umar) dan sahabat-sahabatnya mendapat pahala satu kali hijrah , sedangkan kamu yang menaiki sampan memperoleh pahala dua kali hijrah”.

Begitulah perjuangan Asma’ yang penyabar dan yang banyak berkorban demi menegakkan agama, di mana dia bersama suaminya berhijrah dua kali ke alHabsyah dan al-Madinah demi memperjuangkan agama Islam.

 

Referensi:

Buku ULUMUL QUR’AN Kajian Kisah-Kisah Wanita dalam Al-Qur’an. Penulis Muhammad Roihan Nasution.