Asiah adalah contoh teladan yang baik bagi para wanita mukminah. Dia hidup di istana yang indah dan mewah, istana yang dikelilingi pohon-pohon yang menghijau, istana yang mengalir di bawahnya sungai Nil dengan airnya yang biru, tenang dan indah. Apakah ada lagi yang membimbangkan dan menggelisahkan Asiah dalam hidupnya sedangkan dia memiliki segala bentuk kesenangan? Sebenarnya Asiah khawatir imannya terancam. Dia senantiasa berdoa dan memohon pertolongan dari Tuhannya agar dia terlepas dari penganiayaan Fir’aun dan kaumnya dan juga memohon kepada Allah swt agar dia selamat dari orang-orang zalim yang dikepalai oleh suaminya sendiri.
Bagaimanakah kisah Asiah? Fir’aun hidup di istana yang indah, di taman yang penuh dengan pohon-pohon yang rimbun. Dia adalah seorang laki-laki yang keras, kasar dan ganas terhadap telah melampaui batas kemanusiaan yang menyebabkan rakyatnya Bani Israil hidup tersiksa dan teraniaya. Penganiayaan ini berpangkal ketika salah seorang ahli nujum Fir’aun datang menyampaikan sesuatu kepada Fir’aun, di mana ahli njum itu berkata: “Hai raja kami, seorang laki-laki dari Bani Israel akan lahir untuk menghancurkan kerajaanmu.”
Mendengar pernyataan ahli nujum itu, kemarahan Fir’aun membara dan kata-kata ahli nujum itu menjadi beban yang berat baginya dan kata-kata itu benar-benar menakutkannya. Maka untuk memastikan perkara itu tidak terjadi, Fir’aun mengarahkan semua tentranya supaya membunuh setiap anak laki-laki dan membiarkan anak perempuan hidup, karena bakti mereka diperlukan. Allah swt tidak membiarkan Fir’aun terus menerus menyiksa Bani Israel. Tidak jauh dari istana Fir’aun, ada seorang wanita bernama Yukaid. Suatu hari perutnya terasa sakit karena hendak melahirkan. Kemudian dia menyuruh anaknya memanggil bidan bersalin. Akhirnya dia melahirkan seorang anak laki-laki yang comel dengan selamat. Tetapi setelah dia teringat kepada Fir’aun dan kekejamannya, dia merasa kesal dan timbul pertanyaan di hatinya: “Apakah anak yang comel ini mesti dibunuh?” Yukaid sangat mencintai dan menyayangi anaknya itu. Oleh sebab itu, dia bertekad untuk memelihara dan menjaga anaknya itu meskipun apa yang akan terjadi. Rahasia itu disimpannya di dalam hati, agar Fir’aun yang pada waktu itu dianggap sebagi musuh kepada anak-anak laki-laki tidak mengetahui kelahiran tersebut. Yukaid menamakan anaknya yang laki-laki dengan Musa. Selama tiga bulan, Yukaid menyusukan anaknya itu tanpa dketahui oleh siapapun. Sehingga pada suatu hari, dia menyadari bahwa penduduk di kota kediamannya mulai menanyakan anak-anak yang baru dilahirkan. Situasi ini sungguh membimbangkan Yukaid dan meng khawatirkan keselamatan anaknya.
Kemudian Allah swt mengilhamkan kepada Yukaid supaya dia menyediakan sebuah peti dari kayu yang akan digunakan sebagai tempat Musa, lalu peti yang berisi anak itu dihanyutkan ke Sungai Nil. Seterusnya dia menyuruh anaknya yang perempuan mengikuti dan menjejaki peti yang telah dihanyutkan itu. Ummu Musa merasa tenteram dan tenang, serta kekhawatiran dan ketakutannya mulai hilang dengan berkat wahyu dan ilham yang datang dari Allah swt. Peti yang indah dan cantik itu, dibawa ke pinggir Sungai Nil yaitu ke suatu tempat yang sunyi dan jauh dari pandangan orang. Anak perempuan Yukaid mengangkat peti itu dan Yukaid pula menggendong Musa. Setelah sampai di pinggir Sungai Nil, Yukaid meletakkan Musa ke dalam peti itu dengan harapan agar Allah swt memelihara anaknya. Kemudian dia menghanyutkan peti itu dan diapun kembali ke rumah, sedangkan anaknya yang perempuan tinggal di tempat itu untuk memperhatikan peti yang membawa adiknya.
Gelombang air Sungai Nil menghanyutkan peti itu sehingga terhenti di depan tangga tinggi yang dibuat dari marmar, yaitu tangga yang selalu digunakan oleh juru rias anak-anak Fir’aun dan istrinya Asiah. Asiah yang sedang asyik menikmati pemandangan indah, terperanjat melihat peti indah dan cantik. Rupa-rupanya di dalam peti itu terdapat seorang bayi yang mungil dan comel. Malangnya, tentera dan pembesar-pembesar Fir’aun membawa anak itu untuk disembelih dan dicampakkan ke dalam Sungai Nil atau ke padang pasir. Asiah turun ke pekarangan istana untuk melihat bayi itu, lalu dia memperhatikan sinar yang terpancar dari kedua mata bayi itu, Ketika itulah Allah meniupkan rasa cinta ke dalam hati Asiah. Tetapi tentera-tentera Fir’aun yang hadir ketika itu menginginkan supaya bayi itu dibunuh. Salah seorang dari tentera itu berkata:
“Wahai tuan, membuang anak ini ke dalam sungai adalah suatu penipuan. Kemungkinan anak inilah yang akan menghancurkan kerajaanmu sebagaimana dikatakan oleh ahli nujum. Ketika Asiah mendengar perbincangan itu, dia berkata:
“Dan berkatalah istri Fir’aun: “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. janganlah kamu membunuhnya, Mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak”, sedang mereka tiada menyadari“.(QS. Al-Qashash:9)
Asiah terus membujuk dan memohon kepada suaminya agar anak itu dikecualikan dari undang-undang pembunuhan, karena ada kemungkinan jika dia sudah besar dia akan menjadi anak yang baik, dan ketika itu kita jadikan dia sebagai anak angkat. Dengan penjelasan dan alasan yang dikemukakan oleh Asiah, Fir’aun membatalkan keputusannya untuk membunuh bayi itu. Kemudian Fir’aun mengangkat Musa sebagai anaknya dan istrinya Asiah yang sangat mencintai anak itu. Keputusan yang diambil oleh Fir’aun itu menghilangkan segala kebimbangan ibu Musa. Keimanan ibu Musa, Yukaid semakin bertambah kuat dan hatinya semakin tenang. Fir’aun mulai mencari orang yang akan menyusukan bayi itu. Demi Musa sebagai seorang anak raja dan juga anak Tuhan bagi Haman dan pengikutnya, maka diundanglah ke istana semua ibu susu dari seluruh penjuru negeri. Fir’aun dan Asiah menunggu kedatangan para ibu susu dengan harapan Musa dapat menerima salah seorang dari mereka.
Tetapi sungguh mengherankan, semua ibu susu yang datang ditolak oleh Musa, dan dia memalingkan mukanya dari mereka. Ini merupakan satu mukjizat serta pembelaan Allah swt kepada Musa as. Pada masa kecilnya. Kemudian Haman memandang ke sekelilingnya, lalu dia menunjuk kakak Musa seraya berkata: “Sesungguhnya anak ini mengenal Musa. Bawalah dia ke mari, mungkin dia dapat menolong kamu dalam masalah ini. Kakak Musa berkata: “Mari aku tunjukkan kepada kamu seorang ibu susu yang mungkin Musa dapat menerimanya. Saya tidak bermaksud apa-apa kecuali sekedar memberi pertolongan kepada raja.”Asiah berkata:“Pergilah engkau wahai anakku, karena kau telah menyaksikan tangisan anak ini.” Kakak Musa berkata: “Tenanglah wahai Permaisuri, aku akan pulang secepatnya. “Kemudian dia pergi kepada ibunya dengan penuh kegembiraan atas kejadian itu. Setelah ( kakak Musa, Maryam) menemui ibunya Yukaid dia berkata: “Bergembiralah wahai ibuku, Musa telah menolak semua ibu susu yang datang untuk menyusukannya, dan aku telah sarankan kepada mereka supaya engkau yang menyusukannya.” Yukaid berkata: “Aku takut dan khawatir mereka tahu bahwa aku ini ibu Musa. Tetapi sebenarnya aku tidak sabar lagi untuk melihatnya, karena selama ketiadaannya, payu daraku terus menerus mengeluarkan air susu.”Maryam berkata: “Kalau begitu, marilah wahai ibuku, mereka sudah lama menunggu.”
Yukaid pergi bersama Maryam ke istana Fir’aun. Ketika mereka sampai ke istana, mereka dapati anak itu itu sedang menangis sekuat-kuatnya walaupun Asiah menggendong dan membuainya ke sana ke mari dengan harapan anak itu dapat bersabar dan berhenti dari tangisannya. Seterusnya Yukaid berkata: “Serahkanlah dia kepadaku wahai permaisuri.” Asiah bertanya kepada Maryam. “Inikah dia ibu susu yang engkau bawa wahai anakku?”Maryam menjawab: “Ya, serahkanlah Musa kepadanya dan jangan engkau khawatir, Musa akan menyusu dan berhenti dari tangisannya”. Yukaid mendukung Musa, maka dengan spontan Musa diam dari tangisannya, dan dari matanya terlihat tanda-tanda kegembiraan. Fir’aun merasa heran melihatnya, sementara Asiah yang berdiri bersama Yukaid merasa senang dan gembira.
Maka dengan penuh heran Fir’aun bertanya: “Hai wanita, siapakah engkau, mengapakah anak ini menolak semua ibu susu, kecuali engkau.” Yukaid menjawab: “Aku adalah seorang ibu susu yang memiliki susu yang baik dan dengan mudah dapat diterima oleh semua bayi setiap kali aku menyusukan mereka”. Fir’aun memandang menterinya Haman seraya berkata: “Berikan gajinya lebih tinggi dari ibu susu yang lain dan berikan dia penghormatan.” Yukaid gembira dan senang mendengar keputusan Fir’aun dan dia yakin janji Allah itu tepat dan benar. Kemudian Asiah berkata: “Tinggallah engkau bersama kami di istana ini, aku akan sediakan tempat dan makanan yang baik untukmu.” Yukaid menjawab dengan mesra: “Terima kasih wahai permaisuri, aku lebih suka menysukan anak-anak di rumahku agar aku dan anak-anak merasa lebih nyaman. Asiah berkata: “Kalau begitu pendapatmu, terserahlah.” Yukaid membawa Musa ke rumahnya, dan dia bersyukur dan berterima kasih kepada Allah atas nikmat yang dianugerahkan Allah kepadanya. Dia telah berpisah dengan Musa buat seketika, tetapi kini Musa telah dikembalikan oleh Allah swt kepadanya setelah Fir’aun dan Asiah memberinya kepecayaan untuk mengasuh dan menyusukannya. Jika Asiah rindu kepada Musa, dia menyuruh Yukaid membawanya ke istana.
Hari demi hari, Musa mulai belajar merangkak, berdiri, berjalan dan berbicara. Jika Asiah bermain-main dengannya, Musa selalu membisikkan sesuatu ke telinganya, padahal hal seperti itu tidak pernah dibuatnya kepada orang lain. Musa membesar dengan cinta dan kasih sayang Asiah yang tidak ada batasnya, karena Asiah menganggapnya seperti anaknya sendiri. Walau bagaimanapun Asiah senantiasa takut dan khawatir dengan keganasan suaminya, Fir’aun. Setelah masa menyusukan sudah selesai, Yukaid pergi ke istana Fir’aun untuk menyerahkan Musa kepada mereka. Fir’aun berharap Musa akan dapat membantunya, pada hal tanpa diketahuinya Musa-lah yang akan menghancurkan kerajaannya kelak. Tetapi Asiah semakin bimbang melihat Haman dan pengikutpengikutnya yang senantiasa sujud dan tunduk di hadapan Fir’aun menyanjung dan menghormatinya. Ketika Asiah memperhatikan sikap suaminya yang angkuh lagi congkak ketika berkata kepada rakyatnya: “Aku adalah Tuhanmu yang maha tinggi.” Asiah berkata dalam hatinya: “Apa yang menyebabkannya menjadi congkak? Apa yang terjadi kepada dirinya? Atau adakah dia telah gila?”
Dengan keimanan dan fitrah yang murni, Asiah menolak semua dakwaan Fir’aun tentang kebesarannya dan pengakuannya sebagai Tuhan. Tidak pernah terlintas dalam hatinya bahwa dakwaan Fir’aun yang mengatakan: “Aku adalah Tuhan.”Bahkan Asiah tidak pernah menyertai pengikut-pengikut Fir’aun yang terdiri dari pembesar-pembesar Negara dalam melakukan penyembahan terhadap Fir’aun. Kebimbangan Asiah semakin jelas apabila diberitakan bahwa Musa telah membunuh seorang laki-laki dari pengikut Fir’aun atas dasar membela salah seorang kirabatnya. Laki-laki yang menyampaikan berita itu ialah Hizqil, suami salah seorang tukang salon anak Fir’aun. Hizqil berkata: Musa berjumpa dengan dua orang laki-laki yang berkelahi. Salah seorang dari mereka dari puak Ibri (puak Musa), sementara seorang lagi dari puak Fir’aun. Kemudian laki-laki dari puak Musa meminta bantuan Musa lalu Musa memukul lawannya dengan pukulan maut.” Pada saat Hizqil menyampaikan berita itu kepada Asiah, dia mendengar Fir’aun berteriak-teriak di segenap penjuru istana dengan ucapan: “Di mana Musa? Mengapa sampai sekarang dia belum ditangkap?. Wahai para pengawal, wahai menteriku Haman, tangkap laki-laki yang durhaka itu dan bawa dia ke mari dengan segera, biar aku balas perbuatannya yang membunuh laki-laki dari golonganku.”
Asiah Khawatir jika berlaku sesuatu yang tidak diinginkan ke atas diri Musa. Dia takut kalau Musa menerima hukuman atas tindakannya. Oleh sebab itu, Asiah senantiasa berdoa kepada Allah swt semoga Dia memelihara Musa dari segala kejahatan, dan menjauhkannya dari tipu muslihat pengawal-pengawal Fir’aun dan keganasan mereka. Kemudian Hizqil yang telah beriman kepada Allah swt dan memahami pendustaan dan keganasan Fir’aun pergi meninggalkan Asiah seorang diri. Di dalam perjalanan dia bertemu dengan Musa lalu berkata kepada Musa:
“Sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari Bandar itu) sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang member nasehat kepadamu.”(QS.al-Qashash:20)
Setelah mendengar berita itu, Musa berlari menjauhkan diri dari tentera-tentera Fir’aun, sementara Hizqil pula kembali ke istana. Di sana dia dapati permasuri, Asiah sedang menggemetar, karena takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan ke atas diri Musa. Hizqil mendekati Asiah dan membisikkan sesuatu ke telinganya: “Janganlah engkau takut wahai permaisuri, karena aku telah mengingatkan Musa tentang keganasan Fir’aun dan aku telah menasehatinya supaya dia keluar dari kota ini. Menurut yang aku ketahui, dia telah keluar dari kota ini dan tidak seorangpun dari pegawai Fir’aun yang berhasil menangkapnya.” Asiah berkata: “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah swt yang telah menyelamatkannya dari tipu muslihat mereka, tetapi aku kehilangan dia, sedangkan aku telah mengangganya seperti anakku sendiri, anak yang dididik dan dibesarkan di pangkuanku. Aku tidak akan sanggup hidup jika perpisahan ini berlarutan bertahun- tahun. Sekarang aku bertanya kepadamu, ke manakah dia pergi wahai Hizqil?” Hizqil menjwab:“Aku tidak tahu wahai puan, tetapi dia berada dalam pemeliharaan Tuhannya yang menciptakan segala-galanya yaitu Tuhan Yang Maha Esa.” Semenjak itu, bertahun-tahun lamanya Musa tidak kembali ke Mesir. Asiah sangat merinduinya, Kegelisahannya semakin bertambah karena tidak dapat melihat Musa pada kali kedua dan tidak tahu ke bumi mana Musa pergi, serta beritanya tidak pernah kedengaran. Kehilangan Musa tanpa berita menyebabkan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya melupakannya. Mereka menyangka bahwa Musa tidak akan kembali ke istana.
Pada suatu hari, secara tiba-tiba Musa muncul di istana. Kedatangannya kali ini adalah sebagai Nabi yang membawa agama dan dakwah yang benar. Musa datang sebagai menjunjung perintah Tuhan yang memerintahkannya supaya dia menemui Fir’aun dan pengikutpengikutnya dan menyeru kaumnya Bani Israel supaya keluar dari jalan yang salah menuju jalan yang benar, di mana sebelumnya, kaum Bani Israel dipaksa untuk menyembah selain Allah swt yaitu Fir’aun, suami Asiah. Fir’aun dan pengikut-pengikut setianya melakukan bermacammacam kekejaman dan kezaliman di negeri-negeri yang dilalui Sungai Nil. Mereka mengangkat darjat mereka menjadi sekutu Allah swt, untuk meyakinkan Bani Israel bahwa Fir’aun adalah Tuhan yang berkuasa di atas bumi. Pada awalnya Musa merasa takut berdepan dengan Fir’aun. Tetapi setelah mendapat petunjuk dari Allah swt dia berani kembali ke Mesir untuk memberantas kezaliman dan menegakkan keadilan di kalangan kaumnya. Allah swt berfirman:
“Hai Tuhanku, sesungguhnya aku telah membunuh seorang manusia dari golongan mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku.”(QS.al-Qashash:33)
Kemudian Allah swt menguatkan hati Musa lalu dia berangkat menuju Mesir untuk berdepan dengan Fir’aun. Musa berdoa dan berharap semoga Allah swt membukakan hatinya, memberinya kefasihan dalam berbicara, memudahkan semua urusannya dan memberinya teman yang akan berjuang bersamanya.
“Musa berkata: “Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengannya kekuatanku, dan jadikankanlah dia sekutu dalam urusanku”.(QS.Thaha:25-32)
Asiah tidak mengetahui semua ini, dia tidak tahu bahwa Musa memiliki senjata ampuh yang dapat menumbangkan Fir’aun. Sebab itu, Meskipun Asiah sangat gembira mendengar kepulangan Musa dan saudaranya Harun, namun dia merasa bingung, bimbang dan takut kepada kekejaman dan keganasan suaminya. Ketika dia sedang dalam kebingungan, tiba-tiba dia mendengar bahwa Musa telah masuk ke istana Fir’aun dalam rangka urusan penting yang akan diucapkan dalam majlis Fir’aun. Kemudian Asiah berdiri di beranda yang mengelilingi majlis Fir’aun, para menteri dan semua orang-orang penting Fir’aun. Kedatangan Musa dan Harun ke istana adalah untuk melaksanakan perintah Allah swt, di mana Allah telah memerintahkan mereka berdua supaya menemui Fir’aun dan mengajaknya agar tidak menganiaya Bani Israel. Musa dan Harun menasehati Fir’aun, sementara Asiah menyaksikan peristiwa itu dari beranda. Musa berkata: “Sesungguhnya aku adalah utusan Tuhan sekalian alam. Biarkanlah Bani Israel (pergi) bersama kami dan jangan engkau siksa mereka”. Fir’aun menjawab sesuai dalam firman Allah swt:
“Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu.”(QS.Asy-Syu’ara:18)
Asiah diam sejenak dan menganggap jawaban Fir’aun itu merupakan hukuman kepada Musa, sehingga persoalan meeka berakhir sampai di situ saja. Tetapi dengan tidak disangka-sangka Musa melontarkan beberapa pertanyaan. Musa bertanya: “Apakah engkau menyebut kebaikanmu terhadapku karena aku diasuh di sisimu? Apakah engkau menyangka bahwa semua yang engkau lakukan terhadapku merupakan kebaikan? Sebenarnya kalau bukan karena kezalimanmu, aku pasti diasuh di rumah orang tuaku di tempat di mana aku dilahirkan. Sebenar nya kehadiranku di sini merupakan rahmat Tuhanku dan merupakan satu bukti atas penganiayaan dan kezalimanmu terhadap Bani Israel? Fir’aun menjawab dalam keadaan marah: “Engkau juga telah membuat suatu kesalahan yaitu membunuh seseorang, dan engkau termasuk orang yang tidak berterima kasih atas kebaikan kami.” Musa berkata: “Aku lakukan yang demikian dalam keadaan silap. Tetapi karena keganasanmu, aku lari dan menjauhkan diri. Kemudian Allah swt melimpahkan nikmat dan rahmat-Nya kepadaku, dan Dia mengurniaiku ilmu dan hikmah serta Dia jadikan aku seorang Rasul. ”Fir’aun diam sejenak, kemudian bertanya dengan nada mengejek: “Siapakah Tuhan sekalian Alam itu?” Musa menjawab dengan tenang: “Jika engkau fahami alam sekelilingmu dan engkau hayati kewujudannya, atau jika engkau perhatikan dirimu sendiri dan nikmat yang engkau peroleh, engkau pasti tahu bahwa Tuhanku adalah Tuhan Pencipta langit dan bumi serta pencipta semua yang ada di dalamnya.” Kemarahan Fir’aun bertambah dahsyat, dan suaranya semakin tinggi. sementara Asiah berundur ke belakang seraya berkata: “Aku beriman kepada Tuhan Musa dan aku mengikut ajaran yang dibawanya dan saudaranya Harun.” Kemudian Fir’aun menyeru kaumnya: “Hai kaumku, apakah kamu mendengar pernyataan Musa itu dan siapakah Tuhannya?. Musa berkata: “Tuhanku adalah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yaitu Tuhan yang menguasai Timur dan Barat dan semua yang ada di antara keduanya.”Fir’aun mengancam lalu berkata: “Barang siapa menyembah selain aku, aku akan mempenjarakannya. Dengan tenang Musa menjawab: “Jika sekiranya aku mengemukakan dalil yang nyata dan mukjizat yang benar atas kebenaranku, apakah engkau akan mempercayai penjelasanku dan apakah engkau akan hapuskan segala keraguan dari dirimu? Fir’aun menjawab: “Ya, kemukakanlah mukjizatmu jika engkau seorang yang benar, hai laki-laki.”
Sewaktu Asiah mendengar pembicaraan itu, terlintas di hatinya: “Apakah Musa telah menjadi seorang tukang sihir atau apakah dia akan memperlihatkan mukjizat yang hendak dipergunakan untuk meyakinkan suamiku yang pemarah, sombong dan keras kepala.” Dan juga terlintas dalam pikirannya: “Hai Musa, seandainya engkau terfikir untuk melawan mereka dengan sihir, tentu engkau tidak akan menang, dan engkau tidak akan sanggup mengalahkan mereka, karena mereka itu sangat mahir tentang sihir, atau boleh jadi tanggapanku ini tidak benar.” Musa mengambil tongkatnya dan melemparkannya ke atas, kemudian mencampakkannya ke bumi. Tongkat itu bertukar menjadi ular besar lagi menakutkan. Ular itu mengangkat kepalanya, membuka mulutnya yang penuh dengan racun, kemudian ia menjalar ke arah Fir’aun, seolah-olah hendak menelannya dengan sekali telan saja. Sebenarnya Fir’aun merasa takut, tetapi dia berpura-pura tenang, lalu berkata kepada Musa: “Apakah ini saja hai Musa? Adakah lagi permainanmu yang lain? Musa mengangkat tangannya dan memasukkannya ke kantongnya, kemudian mengeluarkannya. Tiba-tiba tangannya menjadi putih bersinar dan terpancar daripadanya cahaya terang yang dapat disaksikan oleh orang ramai yang hadir ketika itu. Setelah Asiah menyaksikan kejadian itu, dia berkata: “Allah pasti menolong Musa dan mengangkat kedudukannya serta menjatuhkan kedudukan Fir’aun”.
Sebenarnya Asiah merasa takut dan gemetar melihat ular yang besar itu, tetapi pada waktu yang sama dia sangat gembira melihat Fir’aun ketakutan. Berarti masih ada orang yang dapat menanamkan rasa takut di hati Fir’aun. Mudah-mudahan dengan demikian dia kembali ke jalan yang benar dan dapat meninggalkan kezaliman dan keganasannya, karena Asiah sangat gelisah melihat kekejaman, keganasan dan kebodohan suaminya. Bahkan yang paling menyakitkan hatinya, sikap Fir’aun membenarkan pengikutpengikutnya mengangkatnya sebagai Tuhan, padahal mereka hanya berpura-pura baik kepadanya. Di samping itu mereka membangun istana besar untuknya sehingga dengan sebab itu dia semakin sombong, congkak dan zalim terhadap Bani Israel. Harapan Asiah musnah apabila Fir’aun menghimbau kaumnya agar tidak terpengaruh dengan apa yang disampaikan oleh Musa. Dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya Musa dan saudaranya Harun adalah tukang sihir yang dengan sihir itu mereka akan mengeluarkan kamu dari bumi kamu sendiri”. Kemudian sebagian penasehat Fir’aun berkata: “Hai raja kami yang mulia, penjarakanlah mereka berdua, dan perintahkanah para petinggi dan perajuritmu agar mereka pergi ke kota-kota lain untuk mencari tukang sihir yang lebih hebat dan lebih mampu mengatasi sihir yang dibuat oleh Musa.”Fir’aun menyetujui pendapat itu lalu dia mengumpulkan semua tukang sihir dari berbagai tempat. Asiah mengetahui kehebatan para tukang sihir itu, tetapi keyakinannya terhadap Musa tidak luntur, karena masih terdengar di telinganya apa yang disampaikan Musa kepada suaminya:
“… maka lepaskanlah Bani Israel bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka, sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk”. (Qs.Thaha:47)
Asiah juga teringat ucapan Musa dan Harun yang terakhir kepada Fir’aun:
“Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu (ditimpakan) atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling.” (QS.Thaha:48)
Asiah mempercayai semua apa yang diucapkan oleh Musa, dan dia teringat jawaban Musa terhadap pertanyaan Fir’aun:
“Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu? Dia berkata: “Pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhanku, di dalam sebuah kitab. Tuhan kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa, yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai sebagai hamparan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka, kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan. Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah, bagi orang-orang yang berakal.” (QS.Thaha:51-54)
Asiah teringat semua kata-kata indah yang diucapkan oleh Musa, anak angkatnya itu. Maka dengan karunia Allah, Asiah adalah orang pertama yang beriman kepada dakwah Musa as Kemudian, Asiah menyampaikan dakwah itu kepada pembantunya dan tukang salon rambut anak-anaknya yaitu Masyithah istri kepada Hizqil dan Hizqil pula adalah laki-laki pertama dari kaum keluarga Fir’aun yang beriman kepada Musa. Rupa-rupanya, Masithah juga telah beriman kepada agama yang dibawa oleh Musa as. Sewaktu Asiah berbicara dengan Masyithah di ruang istana Fir’aun yang luas, dia mendengar Fir’aun berteriak sambil berkata: “Sesungguhnya Musa akan melihat kesudahan sihirnya esok, dan para tukang sihir akan mengalahkannya.”
Keesokan harinya, penduduk negeri itu keluar beramai-ramai pergi ke tempat perkumpulan tukang sihir dan Fir’aun. Kemudian para tukang sihir itu melemparkan tali yang ada pada mereka. Pada waktu itu, semua tali yang dilemparkan mereka menjadi ular yang menjalar. Pada awalnya Musa merasa takut dan ingi berundur ke belakang, tetapi Allah swt tetap bersamanya. Oleh sebab itu, Allah swt memerintahkan Musa supaya tetap menentang keangkuhan Fir’aun dan para tukang sihirnya. Sewaktu Asiah sedang dalam ketakutan dan kekhawatirannya, tiba-tiba atas perintah Allah swt, Musa mencampakkan tongkatnya lalu tongkat itu bertukar menjadi ular yang besar, dan ular besar itu mengangkat kepalanya dan memakan ular-ular para tukang sihir itu sehingga tidak seekor pun yang tinggal. Melihat kejadian itu, Asiah tertawa dan dia hampir berteriak. Akhirnya keluar dari mulutnya: “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan Musa.” Kemenangan Musa melawan para tukang sihir Fir’aun, membuat Asiah gembira dan bahagia. Namun kegembiraan itu tidak bertahan lama apabila dia melihatkan nasib para tukang sihir itu, di mana mukjizat Musa membuahkan keimanan dalam diri para tukang sihir Fir’aun. Mereka beriman kepada Musa dan agama yang dibawanya, dan mereka menyatakannya di hadapan Fir’aun dan rakyatnya. Akibatnya, Fir’aun mengazab mereka dengan bermacam-macam siksaan bahkan ada yang dibunuh. Setelah kejadian itu, Fir’aun kembali ke istana dengan kecewa, terhina dan malu. Manakala Asiah pula kembali ke istana dalam keadaan sedih karena dia belum mampu menyatakan keimanannya secara terang-terangan. Kekecewaan Fir’aun tidak berakhir sampai di situ saja. Fir’aun mulai berkata dengan nada mengancam. Allah swt berfirman:
“Biarkanlah aku membunuh Musa, dan hendaklah dia memohon kepada Tuhannya karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi”.(QS.al-Mu’minun:26)
Kemudian dengan tiba-tiba, Asiah melihat seorang laki-laki berdiri dan berbicara di majlis Fir’aun. Laki-laki itu ialah Hizqil, suami Masyithah. Melihat kejadian itu, Asia berkata di dalam hatinya:“Aku berharap agar dia diam, karena aku takut Fir’aun akan bertindak keras.”Hizqil berkata dengan susesuai dengan yang dijelaskan oleh Allah swt dalam firman-Nya:
“Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia mengatakan: “Tuhanku ialah Allah’, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika dia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika dia seorang yang benar, niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta. (Musa berkata): “Hai kaumku, untukmulah kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di muka bumi. Siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah jika azab itu menimpa kita.!”’(QS.al-Mu’minun:28-29)
Keberanian Hizqil itu sangat mengherankan Fir’aun, khususnya keberaniannya menyatakan keimanannya di depan orang ramai, padahal sebelumnya Fir’aun telah berusaha meyakinkan rakyatnya bahwa dialah satu-satunya Tuhan yang patut disembah. Hizqil tidak berhenti bebicara, bahkan dia semakin berani menasehati orang-orang yang tidak mau mengikuti agama yang benar. Di antara kalimatnya telah dijelaskan dalam Firman Allah swt:
“Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu, (yakni) seperti keadaan kaum Nuh, ‘Aad, Thamud dan orang-orang yang dating sesudah mereka. Dan Allah tidak menghendaki berbuat kezaliman terhadap hamab-hamba-Nya. Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir akan siksaan hari panggil memanggil (yaitu) hari (ketika) kamu (lari) berpaling ke belakang, tidak ada bagimu seorangpun yang menyelamatkan kamu dari (azab) Allah, dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorangpun yang akan membri petunjuk.”(Qs.Al-Mu’minun:30-33)
Hizqil meneruskan ucapannya dan nasehatnya, sementara Asiah mendengar dalam keadaan takut dan khawatir dari kekejaman suaminya. Keberanian Hizqil itu membuat Fir’aun bertekad bulat untuk membunuhnya. Fir’aun tidak mau mengambil pengajaran dari nasehat dan petunjuk yang disampaikan oleh orang dekatnya, padahal dia sadar bahwa Hizqil berasal dari keluarga dan golongannya sendiri. Kekejaman, ketakburan dan kedegilan Fir’aun menyebabkan dia memilih jalan kekafiran hingga ke akhir hayatnya.
Apabila Hizqil mengetahui bahwa Fir’aun bermaksud untuk membunuhnya, dia melarikan diri dan menjauhkan diri dari Fir’aun. Keikhlasan dan keberanian Hizqil menyampaikan kalimatul haq sekalipun di depan orang yang benci terhadap apa yang disampaikannya, maka Allah swt menyelamatkannya dan memeliharanya dari siksaan Fir’aun. Di dalam kamar istana, Fir’aun menyatakan perasaan bencinya yang luar biasa terhadap Musa: “Aku yang membesarkannya, kemudian dia datang membawa agama baru.” Kata-kata ini terungkap ketika Fir’aun teringat ramalan pendeta yang mengatakan bahwa suatu hari akan muncul seorang laki-laki dari Bani Israel yang akan melenyapkan kerajaannya. Pada saat Fir’aun dalam kekecewaan, Asiah tidak menemani suaminya dalam kekecewaannya. Fir’aun menyadarinya lalu dia bertanya kepada Asiah: “Mengapa engkau tidak ikut serta bersamaku menentang Musa? Bukankah engkau istriku?” Asiah menjawab: “Mengapa engkau membenci Musa?”Fir’aun bertambah bingung, seraya berkata: “Aku benci kepadanya, karena dia tidak mengakui aku sebagai Tuhan yang maha besar, bahkan dia mendakwa bahwa ada lagi Tuhan selainku?”Asiah berkata: “Jangan engkau salah sangka terhadap Musa? Bagaimana jika dia di pihak yang benar? Mengapa engkau percaya kepada menterimu Haman? Sebenarnya Haman menginginkan supaya engkau benci terhadap Musa agar tidak ada orang lain yang engkau cintai selain dirinya sendiri. Mengapa engkau tidak katakan bahwa Haman di pihak yang salah dan Musa di pihak yang benar?” Fir’aun membisu sejenak, kemudian dia memandang Asiah, karena kata-katanya sangat membingungkannya. Sejak itu Fir’aun mulai meragui semua ucapan dan tingkah laku Asiah dan tukang salon rambut anak-anaknya, Masyithah istri Hizqil salah seorang keluarga Fir’aun yang telah beriman kepada Musa. Setelah itu, Fir’aun memperhatikan gerak gerik keduanya di istana. Lebih dari itu Fir’aun mulai meragui semua orang yang hidup di sekelilingnya, khususnya setelah mendapat berita bahwa istri Hizqil telah beriman kepada Musa. Asiah sangat takut kalau seandainya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan ke atas diri pembantunya itu. Oleh itu, Asiah berusaha meredakan kemarahan Fir’aun. Dia berkata: “ Pembantu itu tidak sedikitpun mengetahui masalah itu.”
Tujuan Asiah ialah supaya Fir’aun membatalkan hukuman yang akan dilaksanakan ke atas Masyithah yang baik hati. Tetapi Fir’aun tetap tidak menghiraukan kata-kata istrinya , malah dia memalingkan mukanya dari Asiah, seolah-olah dia berkata: “Engkau sendiri pun masih diragukan bahwa engkau salah seorang pengikut Musa.” Kemudian Fir’aun kembali memandang Asiah dengan pandangan yang tajam dan bengis, seraya berkata kepada pengawal-pengawalnya: “Bawa wanita itu ke mari. Di mana dia sekarang?” Kemudian para pengawal datang membawa pembantu Asiah, tukang salon rambut anakanaknya yaitu Masyithah. Mereka memegangnya dari semua sudut; sebagian memegang tangannya dan sebagian yang lain menarik rambutnya sehingga dia sampai di depan Fir’aun dengan penampilan yang tidak baik di pandangan mata. Fir’aun mulai bertanya: “Siapa Tuhanmu wahai pengkhianat?” Masyithah menjawab: “Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah yang telah menciptakan kita semua.”
Mendengar jawabannya itu, Fir’aun berteriak: “Engkau berani bicara seperti itu di depanku hai wanita?” Kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arah para pengawalnya seraya berkata: “Bakarlah dia dan anak-anaknya di depan semua penduduk agar mereka dapat menyaksikan kematian keluarga pengkhianat ini.”Tidak lama kemudian pengawal-pengawal itu datang membawa api. Fir’aun menyiksa Masyithah sambil bertanya: “Siapa Tuhanmu.” Masyithah menjawab: Tuhanku adalah Allah yang Maha Esa.” Setiap kali mendengar jawaban itu, Fir’aun semakin menyiksa Masyithah, sementara pengawal-pengawalnya yang lain pula menyiksa anak Masyithah yang masih menyusu. Tidak ada yang dapat dilakukan oleh Masyithah ketika itu kecuali melihat anaknya disiksa. Terdengar di telinganya seolah-olah anak kecil itu berkata: “Sabarlah wahai ibuku, sesungguhnya engkau berada dalam kebenaran.” Melihatkan kejadian yang dahsyat itu, Asiah merasa sangat pilu. Dari kedua matanya berjatuhan air mata kesedihan. Akhirnya dia berkata: “Celakalah engkau hai Fir’aun. Mudah-mudahan engkau merasai azab Tuhanmu dan Tuhannya.”Kata-kata Asiah yang tidak diduga itu, menyebabkan Fir’aun memandangnya dengan penuh kemarahan, lalu dia berkata: “Asiah juga telah terkena sentuhan syaitan Musa dan dia telah gila.”Asiah menjawab: “Tidak. Tidak ada sentuhan apa-apa. Bahkan aku waras dan sadar, karena aku telah beriman kepada Allah, Tuhanku dan Tuhanmu seta Tuhan mereka semua,” seraya mengisyaratkan dengan jarinya ke arah pengawal dan menteri Fir’aun. Kemudian dia menambahkan: “Allah Tuhan sekalian alam.”
Kejadian itu membuat Fir’aun semakin gila, lalu dia memerintahkan pengawalnya supaya Asiah disiksa dengan siksaan yang sama dengan siksa yang ditimpakan kepada pembantunya. Tetapi sebelum penyiksaan itu dilaksanakan, Fir’aun terlebih dahulu mengarahkan seorang pengawal membawa ibu Asiah ke tempat itu agar ibu Asiah tahu apa yang akan terjadi kepada anaknya. Setelah ibunya sampai di tempat itu, ibunya dibawa berjumpa dengan anaknya Asiah untuk mengetahui perkara yang sebenarnya. Ibunya bertanya kepada Asiah: “Apakah engkau benar beriman kepada Musa?” Asiah menjawab: “Ya, wahai ibuku, karena ajaran yang dibawa oleh Musa itu adalah ajaran yang benar.” Mendengar jawaban itu, si ibu berusaha sedaya upaya untuk mempengaruhi Asiah, tetapi semua usahanya itu gagal. Akhirnya Fir’aun memerintahkan para pengawalnya untuk menyiksa Asiah. Asiah disiksa dan dipukul di depan Fir’aun dan para pengikutnya. Setiap kali Asiah mengeluh, Fir’aun memerintahkan supaya azab itu ditambah dengan harapan Asiah kembali ke jalan yang benar menurut sangkaanya. Tetapi Asiah hanya mengulangulang doa berikut ini:
“Ya Tuhanku, bangunlah untukku rumah di sisi-Mu dalam syurga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.”(QS.at-Tahrim:11)
Allah swt memperkenankan doa Asiah dan Dia menggolongkannya bersama orang-orang yang benar dan orang-orang yang mati syahid serta ditempatkan di tempat yang mulia di istana indah di syurga.
Referensi:
Buku ULUMUL QUR’AN Kajian Kisah-Kisah Wanita dalam Al-Qur’an. Penulis Muhammad Roihan Nasution.