Kisah Balqis Raja Saba (Seolah-Olah Ia Tahtaku)


Sulaiman bin Daud menjadi raja menggantikan ayahnya Daud as dari kalangan Bani Israel. Allah swt mengangkatnya sebagai Nabi dan memberinya kekuasaan untuk mengatur jin, manusia, burung dan angin. Dia meminta kepada Allah swt supaya dianugerahi satu kerajaan yang tidak ada seorangpun memperoleh kerajaan seperti itu. Maka Allah swt mengabulkan permintaannya dan menuruti kehendaknya. Apabila Sulaiman as keluar dari istananya, burung mengembangkan sayapnya dan membawanya ke tempat tujuan. Selain itu, manusia dan jin bekerja untuknya. Begitulah tingginya kedudukan Sulaiman as di kalangan semua makhluk, karena Allah swt memberinya kerajaan yang tidak diberikan kepada orang lain. Apabila Allah swt bermaksud memberi kebaikan kepada seseorang makhluk-Nya, Dia memberinya tanpa dapat dikira.

Sulaiman as adalah seorang laki-laki berkulit putih, gagah perkasa, berwajah bersih, berambut tebal dan selalu berpakaian putih. Ketika ayahnya Daud as menjadi raja, ayahnya selalu meminta pendapatnya dalam menyelesaikan berbagai urusan kerajaan. AlQur’an al-Karim banyak menceritakan kepemerintahannya dan kepemerintahan ayahnya. Firman Allah swt:

“Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, ketika .keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu, maka kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka kami berikan hikmah dan ilmu pengetahuan dan kami tundukkan kepadanya gunung-gunung dan burung-burung, semuanya bertasbih bersama Daud. Dan Kamilah yang melakukannya”. (QS.Al-Anbiya:78-79)

Kisah kambing yang dinyatakan di dalam ayat di atas adalah sebagaimana berikut: Pada zaman pemerintahan Daud as, terdapat sekumpulan kambing yang berkeliaran di bawah pokok anggur yang telah berbuah hingga merusakkan tanaman tersebut. Maka Nabi Daud as menghukum supaya kambing itu diberikan kepada pemilik pokok anggur itu. Sulaiman as berkata kepada ayahnya: “Hai ayahku, da lagi hukum yang lebih baik dari itu”. Daud as bertanya: “Apakah itu?” Sulaiman as menjawab: ‘Engkau serahkan pokok anggur itu kepada pemilik kambing untuk dipeliharanya sampai berbuah seperti semula, dan engkau berikan kambing itu kepada pemilik pokok anggur itu. Kemudian apabila pokok anggur itu berbuah seperti semula, engkau kembalikan kepada pemiliknya dan engkau pulangkan kambing itu kepada pemiliknya.”

Begitulah kecerdikan dan kepintaran Sulaiman as. Sulaiman as adalah seorang laki-laki yang banyak berperang demi membela agama Allah swt. Ketika Sulaiman as mengetahui bahwa pada suatu tempat terdapat kerajaan yang tidak menggunakan hukum yang diturunkan oleh Allah swt, dia memeranginya. Jika Sulaiman as hendak berperang, maka dia memerintahkan tenteranya untuk menyiapkan satu tempat. Kemudian dia membawa manusia, binatang dan alat-alat perang ke tempat itu. Apabila peralatan dan keperluan perang telah lengkap, maka dia memerintahkan angin supaya membawa mereka ke medan perang yang dikehendakinya. Sehubungan itu, Allah swt berfirman:

“Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakinya”. (QS.Shad:36)

Menurut ahli sejarah, Sulaiman as diberi enam ratus kursi, kemudian pembesar-pembesar manusia mendatanginya dan duduk di sebelahnya. Kemudian datang pula pembesar-pembesar jin dan duduk di samping manusia. Selain mereka, Sulaiman as memanggil burung-burung. Berhubung karena jumlah burung-burung itu banyak, Sulaiman memerintahkan burung-burung itu untuk menaungi mereka. Kemudian Sulaiman as memanggil angin dan memerintahkannya supaya angin itu menerbangkan mereka. Jarak yang mereka tempuh pada setiap pagi adalah sama dengan perjalanan selama sebulan. Allah swt berfirman:

 “Dan kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu petang sama dengan perjalanan sebulan (pula)”.(QS. Saba:12)

Pada suatu hari, Sulaiman hendak pergi berperang lalu dia memilih seekor burung untuk mengepalai burung-burung yang lain. Ketika sedang dalam perjalanan, dia bertanya: “Berapa jauhkah kita dari sumber air?” Manusia menjawab: “Kami tidak tahu hai Nabi Allah. Kemudian Sulaiman as bertanya kepada para jin. Mereka menjawab: “Kami tidak tahu hai Nabi Allah”. Sulaiman as marah seraya berkata: “Aku tidak tenang sehingga aku tahu berapa jauh kita air dari sumber air”. Orang-orang yang di sekelilingnya berkata: “Kamu jangan marah, karena ada makhluk di sekelilingmu yang mengetahui sumber-sumber air, yaitu burung Hudhud”. Sulaiman as mencari burung Hudhud. Tiba-tiba dia dapati Hudhud tidak hadir. Maka Sulaiman as berkata melalui firman Allah swt:

 “Mengapa aku tidak melihat burung Hudhud? Apakah dia termasuk yang tidak hadir? Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-benar menyembelihnya atau benar-benar ia datang kepadaku dengan alas an yang terang”.(QS.An-Naml:20-21)

Sulaiman as bersumpah akan menghukum burung Hudhud dengan siksaan yang keras atau menyembelihnya, kecuali jika burung Hudhud datang dengan hujah dan alasan yang jelas serta meminta maaf atas kesalahannya. Sebenarnya burung Hudhud mempunyai alasan yang cukup kuat atas ketidakhadirannya itu, di mana ketika burung Hudhud melewati istana Balqis raja negeri Saba’ di Yaman, dia melihat taman di belakang istana raja. Keindahan taman itu menyebabkan Hudhud ingin mengambil rumput-rumput dari situ, lalu ia hinggap pada salah satu pohon di taman itu. Di pohon itu ia bertemu dengan burung Hudhud lain. Hudhud Sulaiman as bertanya: “Mengapa engkau tidak bergabung dengan Sulaiman as dan apa yang kau buat di sini?” Hudhud Balqis menjawab: “Siapa Sulaiman itu?”. Hudhud Sulaiman as menjawab: “Allah swt telah mengutus seorang laki-laki sebagai Rasul dan memberinya kekuasaan memerintah angin, jin, manusia dan burung.” Hudhud Balqis berkata: “Benarkah ceritamu ini?” Hudhud Sulaiman as menjawab: “Engkau telah dengar apa yang aku ceritakan.” Hudhud Balqis berkata lagi: “Ceritamu suatu yang mengherankan, tetapi aku akan menceritakan padamu cerita yang lebih mengherankan.” Hudhud Sulaiman as bertanya: “Apa itu.” Hudhud Balqis menjawab: “Sesungguhnya kaum ini diperintah oleh seorang perempuan yang kaya dan bertahta yang mereka itu menyembah selain Allah swt yaitu menyembah matahari”.

Hudhud Sulaiman as teringat bahwa dirinya telah lama tidak menghadirkan diri di majlis Nabi Allah Sulaiman as, maka dengan segera ia terbang menemui rajanya sambil memperhatikan istana Balqis hingga menghilang dari pandangan matanya. Tatkala ia sampai ke tempat para tentera Sulaiman as, mereka berkata: “Sulaiman telah berjanji untuk menghukummu.” Mendengar pernyataan para tentera itu Hudhud terbayang hukuman yang akan diterapkan Sulaiman as ke atas dirinya, di mana Sulaiman as akan mencabut bulunya sehingga ia tidak bisa terbang lagi buat selamanya. Jika ini terjadi, maka ia akan menjadi binatang yang melata di muka bumi atau Sulaiman as menyembelihnya, maka ia tidak akan mempunyai keturunan. Hudhud bertanya kepada mereka:“Tidakkah Sulaiman memberikan pengecualian?” Mereka menjawab: “Memang, dia berkata: Atau ia membawa alasan yang jelas”. Hudhud itu mendatangi Sulaiman as lalu menundukkan kepalanya sebagai tanda merendahkan diri kepada tuannya seraya berkata: “Sesungguhnya aku melihat sesuatu yang belum pernah tuan ketahui” Mendengar penjelasan Hudhud itu, kemarahan Sulaiman as mulai reda. Baginda Sulaiman as ingin mengetahui berita yang dibawa oleh Hudhud itu. Hudhud berkata: “Ya Nabi Allah, aku melihat seorang perempuan memerintah di kerajaan Saba’. Dia memiliki segala-galanya serta memiliki takta yang besar. Tetapi mereka dikuasai oleh Syaitan dan dijauhkannya dari jalan yang benar. Mereka adalah pengikut Watsaniyah penyembah matahari, dan takta raja mereka dihiasi dengan bermacam-macam barang dan perhiasan yang sungguh berharga. Sesungguhnya syaitan menengah mereka dari menyembah Allah swt yang Maha Esa yang mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui yang tersembunyi dan yang nyata”.

Hudhud itu menambahkan:“Aku sangat heran, tidakkah raja dan kaumnya yang mempunyai kekuatan dan kekayaan yang banyak sepatutnya bersujud kepada Pencipta alam yang memberi semua yang mereka miliki?” Berita yang dibawa oleh Hudhud itu mengejutkan Sulaiman as lalu Baginda berkata: “Memang perkara itu benar-benar mengherankan.” Kemudian Sulaiman as memandang Hudhud seraya berkata: “Kita akan melihat kebenaran berita yang engkau sampaikan. Jika engkau benar, bawalah suratku ini kepada mereka dan tunggu sampai engkau tahu pendapat dan jawaban mereka”. Hudhud terbang membawa surat Sulaiman as kepada Raja Balqis. Setibanya di istana Balqis ia menjatuhkan surat itu di depan Balqis di atas tempat tidurnya. Balqis sangat takut melihat surat itu, maka dia mengambilnya dan melemparkan pakaian-pakaiannya serta memerintahkan supaya tempat tidur itu dikeluarkan dari kamar. Setelah itu Balqis keluar dan memanggil para pembesar-pembesar kerajaan. Dia berkata di depan mereka:

Dia (Balqis) berkata:“Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sepucuk surat yang mulia. Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi)nya menyebut: Dengan nama Allah swt yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Janganlah kamu berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri”. (QS.An-Naml:29-31)

Tujuan Balqis memanggil para pembesarnya adalah untuk mendapat petunjuk dari mereka. Kesungguhan Balqis itu mendapat jawaban dari mereka bahwa mereka adalah orang-orang kuat dan anak-anak perang. Oleh sebab itu, mereka menyerahkan perkara itu kepada Balqis untuk membuat suatu keputusan. Firman Allah swt:

“Mereka menjawab: “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang tinggi (dalam peperangan), dan keputusan berada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan”. (QS.An-Naml:33)

Balqis melihat bahwa kata-kata para pembesarnya lebih cenderung ke arah kekerasan dan peperangan, sedang dia tidak sependapat dengan mereka. Balqis lebih cenderung mengadakan perdamaian dengan Sulaiman as dalam mengatasi masalah itu. Balqis yang bijaksana itu sadar bahwa perdamaian akan membawa kepada kebaikan dan keamanan. Itulah yang sepatutnya dilakukan oleh seorang yang bijaksana dalam menangani masalah seumpama itu. Balqis berkata kepada mereka: “Apabila raja-raja menaklukkan suatu kampung dan memasukinya dengan cara kekuatan dan kekerasan, mereka pasti melakukan kerusakan dan menghancurkan tanaman-tanaman, tumbuh-tumbuhan dan bangunan. Selain itu, mereka menyebabkan para pembesar menjadi hina di mata masyarakatnya, memperhambakan manusia, dan melakukan penganiayaan dan kezaliman padanya.” Balqis mengakhiri ucapannya dengan mengatakan bahwa dia akan mengirim hadiah yang berharga dan bernilai di dalam kerajaannya kepada Sulaiman as. Dia berkata: “Sesungguhnya aku akan mengirim hadiah kepada Sulaiman. Aku akan berbuat baik demi kerajaanku dan tahtaku. Dan menerusi hadiah itu aku akan dapat mengenal sikap dan tujuan Sulaiman. Jika dia menerima hadiah itu bermakna dia adalah seorang raja dari raja-raja yang suka terhadap dunia, dan aku lebih mulia dan lebih kuat daripadanya, tetapi jika dia tidak menerima hadiah itu, bermakna dia adalah seorang raja utusan Allah swt dan kita akan melihat tindakannya setelah itu”. Kemudian Balqis mengarahkan para pembesarnya supaya mengumpul hadiah yang akan dihadiahkan kepada Nabi Sulaiman as. Setelah semuanya terkumpul, para pembesar berangkat menuju utara tempat tinggal Sulaiman as, sementara Hudhud terbang dengan cepat menuju Sulaiman as untuk menyampaikan berita yang telah didengarnya termasuk hadiah yang dikirimkan oleh Balqis.

Apabila Sulaiman as mengetahui hal itu, dia mengarahkan para pengikutnya supaya membuat persiapan untuk menyambut kedatangan rombongan Balqis itu. Sulaiman as mengarahkan jin supaya membangun suatu bangunan yang luar biasa dan istana yang tiada bandingannya di permukaan bumi yang dapat menarik perhatian orang yang melihatnya. Tatkala para pembesar Balqis sampai di istana Sulaiman, mereka terperanjat dan terkejut menyaksikan istana yang besar itu, sementara Sulaiman as menyambut mereka dengan wajah yang berseri-seri dan mengucapkan selamat datang sambil bertanya apa yang mereka bawa untuknya. Mereka menyerahkan hadiah yang dikirimkan oleh raja mereka. Pengiriman hadiah itu bertujuan supaya Sulaiman as setuju menerima persahabatan dengan raja mereka. Tetapi Allah swt menganugerahkan kebijaksanaan yang luar biasa kepada Sulaiman as agar Baginda menolak hadiah itu dengan cara yang lemah lembut sebagaimana Allah swt jelaskan dalan firman-Nya:

“Apakah (patut) kamu memberikan harta kepadaku? Maka apa yang diberikan Allah swt kepadaku lebih baik dari apa yang diberikan-Nya kepadamu, tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu”. (QS.an-Naml:36)

Maksud kata-kata Sulaiman as itu ialah: “Kembalilah kamu dengan hadiahmu, karena sesungguhnya Allah swt telah memberiku rezeki yang banyak dan kehidupan yang bahagia dan Dia memberiku kemuliaan dan kerajaan yang belum pernah diberikan-Nya kepada orang lain. Sebenarnya kamu belum mengenal hakikat nikmat yang dianugerahkan Allah swt kepadamu. Apakah mungkin aku terima harta yang akan melalaikan aku dari tugas dakwah yang benar? Sesungguhnya harta adalah harta Allah swt dan Dia banyak memberiku harta kekayaan. Sekarang aku bercita-cita sedaya upaya untuk memuji dan bersyukur kepada-Nya atas segala nikmat yang dianugerahkannya kepadaku dan kepada dua ibu bapakku, dan aku berdoa semoga aku ditempatkan kelak bersama nenek moyangku yang shalih.” Kemudian Sulaiman as mengarahkan utusan Balqis untuk pulang dengan ucapan:

“Kembalilah kepada mereka sesungguhnya kami akan mendatangi mereka dengan bala tentera yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba’) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina”.(QS.an-Naml:37)

Kemudian utusan Balqis itu kembali, lalu menceritakan segala yang berlaku. Balqis berkata: “Kita tidak ada pilihan kecuali pergi kepadanya dan kita perkenankan permintaannya dan kita terima dakwahnya. Dengan kata lain hendaklah kita mendengar dan taat kepadanya.” Kemudian Balqis keluar bersama kaumnya menemui Sulaiman as dalam keadaan patuh dan tunduk kepada perintahnya.Tatkala Sulaiman as mengetahui kedatangan mereka, dia berkata kepada para jin: “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu yang sanggup membawa taktanya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri?” Ifrit dari golongan jin berkata:

“Aku akan datang kepadamu dengan membawa takta itu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu. Sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya (dan) dapat dipercayai”. (QS.an-Naml:38-39)

Seorang yang mempunyai ilmu pengetahuan berkata:

“Aku akan membawanya (takhta itu) kepadamu sebelum matamu berkedip”. (QS.an-Naml:40)

Jin menawarkan baktinnya kepada Sulaiman as bahwa ia sanggup memindahkan tahta Balqis sebelum sulaiman berdiri dari tempat duduknya, sementara manusia yang memiliki ilmu pengetahuan dari Allah swt sanggup memindahkan tahta Balqis dalam sekedip mata saja. Melihat persaingan itu, Sulaiman as teringat kepada karunia Allah swt kepadanya, lalu dia berkata: “Ini adalah karunia dan nikmat Allah swt untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau mengingkarinya. Barang siapa yang bersyukur, sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Mulia, dan barang siapa yang ingkar, dia akan rugi dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah swt Maha Kaya atas sekalian alam.” Seterusnya Sulaiman as memandang manusia, jin dan semua yang ada di sekelilingnya seraya berkata: “Buatlah prubaha pada tahtanya (Balqis) agar kita mengetahui apakah dia mengenalnya atau dia termasuk orangorang yang tidak mengenalnya”. Tatkala Balqis sampai di tempat Sulaiman as, Sulaiman as bertanya: “Apakah tahtamu sama dengan ini?” Balqis tidak percaya bahwa taktanya dibawa dari kerajaan Saba’ di Yaman dalam waktu sesingkat itu, karena dia telah meninggalkan tahtanya di kerajaan Saba’. Bagaimana pula ia ada di kerajaan Sulaiman as? Dalam situasi kebingungungan, Balqis menjawab: “Seakan-akan tahta ini tahtaku.” Dia merasa ragu seketika, tetapi setelah mengamatinya dan melihat tanda-tanda yang terdapat pada tahtanya, barulah dia percaya bahwa itu tahtanya. Kemudian Balqis dibawa berkunjung ke istana yang dibuat dari kaca, Balqis menyangkanya kolam air yang menyebabkan dia mengangkat kainnya sehingga nampak kedua betisnya. Salah seorang di antara yang hadir berkata kepadanya: “Itu bukan kolam air. Ia han adalah istana yang diperbuat dari kaca”. Balqis malu mendengar penjelasan itu dan dalam waktu yang sma, keimanan mulai meresap ke dalam hatinya, lalu dia bekata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku ketika aku menjauhkan diri dari-Mu, dan ketika aku menjauhkan diri dari rahmat-Mu. Sekarang aku berserah diri kepada-Mu, dan mentaatiMu. Mudah-mudahan Engkau meridhoiku, karena Engkau Maha Penyayang. Jika engkau tidak mengampuni dan menyayangiku, maka tidak ada yang dapat memaafkan kesalahanku selain Engkau”. Allah swt berfirman:

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah swt Tuhan semesta alam”. (QS.an-Naml:44)

Inilah kisah Sulaiman as yang memiliki kerajaan yang tidak pernah dimiliki oleh orang lain sesudahnya. Di samping itu Sulaiman as memperoleh pangkat kenabian dari Allah swt. Kesejahteraan ke atas Nabi Sulaiman bin Daud as.

 

Referensi:

Buku ULUMUL QUR’AN Kajian Kisah-Kisah Wanita dalam Al-Qur’an. Penulis Muhammad Roihan Nasution.