Kisah Layya binti Mansa (Istri Ayyub as yang Penyabar


Ayyub as memiliki harta yang banyak dari berbagai jenis kekayaan termasuk binatang ternak, hamba dan tanah yang luas di ath-Tsaniyah di Hauran. Anaknya banyak, hidupnya senang dan bahagia serta ridho dengan setiap pemberian Allah swt. Tetapi kesenangan dan kebahagiaan itu tidak bertahan lama ketika semua hartanya musnah, anak-anaknya meninggal dunia dan tubuhnya ditimpa penyakit yang menular ke seluruh tubuhnya kecuali jantung dan lidahnya. Sungguhpun demikian, Ayyub as tetap berzikir dengan lidah dan hatinya sehingga kesabarannya menjadi perumpamaan. Ayyub as adalah penghulu orang-orang sabar, di mana sepanjang perjalanan sejarah belum pernah ada orang yang mengalami penderitaan seperti yang dialami oleh Ayyub as. Rasulullah saw pernah ditanya oleh Sa’ad bin Abi Waqqash, siapakah manusia yang paling berat cobaannya. Rasul menjawab:

“Para Nabi, kemudian orang (saleh) yang lebih rendah kebaikannya, kemudian orang yang lebih rendah kebaikannya. Hamba itu dicoba sesuai dengan agamanya. Jika agamanya kuat, cobaan yang ditimpakan keatasnya berat, dan jika agamanya lemah, dia dicoba sesuai dengan kadar agamanya. Maka jika cobaan itu terus menerus ditimpakan keatasnya selama dia berjalan di muka bumi, semua dosanya diampunkan”.( HR.Ibnu Majah,Kitab al-Fitan,Bab ash-Shabr ‘ala al-Bala’,N0.4023.)

Para perawi hadis berbeda pendapat dalam menentukan berapa lama penderitaan yang ditanggung oleh Ayyub as. Menurut salah satu riwayat, penyakit yang menimpa Ayyub as sungguh menyedihkan karena setiap daging di tubuhnya jatuh sepotong demi sepotong sehingga tubuhnya hanya tinggal tulang dan urat saja. Dalam keadaan yang sungguh mengerikan itu, istrinya paling banyak mendampinginya. Dia sanggup menghadapi segala cobaan bersama suaminya dan dia tetap setia menemaninya dalam kesusahannya. Meskipun Ayyub as ditimpa sakit, beliau tetap berzikir memuji Allah swt. Dia berkata: “Aku memuji-Mu wahai Tuhan semua makhluk. Engkau telah memberiku kebaikan dan memberiku harta dan anak yang selalu menyibukkan akal fikiranku. Sekarang Engkau mencabutnya dan menjauhkannya dari akal fikiranku sehingga tidak ada lagi yang mengantarai kita. Seandainya musuhku iblis mengetahui kebaikanMu kepadaku, tentu dia cemburu.” Mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Ayyub as itu, istrinya Layya binti Mansa bin Yusuf bin Ya’qub meneteskan air mata.

Hal yang paling menyedihkan istrinya ialah keadaan suaminya yang telah lama sakit hingga tidak ada orang yang sudi menjenguknya dan menenteramkan jiwanya, bahkan orang benci duduk berdekatan dengan mereka berdua. Ketika Ayyub as dikeluarkan dari kampungnya dan diasingkan ke tempat yang terpencil, jauh dari orang ramai serta tiada orang yang belas kasihan, istrinya Layya tetap setia mendampinginya dan tetap mencurahkan kasih sayang dan cintanya. Seterusnya Layya hanya mampu meneteskan air mata setiap kali mendengar Ayyub as yang terus menerus bertasbih dan berdoa. Setiap doa yang keluar dari mulutnya membuat Layya semakin iba. Di antara doa Ayyub: “Hai Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah memberiku harta dan anak sehingga tidak ada seorangpun yang kecewa apabila ada orang yang datang meminta di pintuku. Sesungguhnya Engkau tahu yang demikian. Sekarang aku hanya sanggup berbaring di tempat tidur, tetapi meskipun demikian, aku biarkan keadaan itu berlalu begitu saja, dan aku kata kepada diriku: Hai diriku, sesungguhnya engkau tidak dijadikan untuk berbaring saja di tempat tidur, tetapi aku biarkan yang demikian adalah karena mengharap keridhoan-Mu wahai Tuhanku.”

Setelah sekian lama Ayyub as ditimpa sakit, Layya merasakan dunia semakin sempit, dan keadaan semakin meruncing, di mana harta benda mereka telah habis. Layya mulai berfikir apakah usaha yang patut dilakukannya sedangkan penyakit Ayyub as semakin memakan tubuhnya? Layya pulang ke kampungnya untuk mencari kerja sebagai pembatu untuk mendapatkan sesuap nasi. Layya berusaha menunaikan tanggungjawab terhadap suaminya yang sedang sakit dengan harapan penyakit suaminya semakin berkurang. Sesungguhnya Layya hanya mengharapkan pertolongan dari Allah swt. Sebenarnya tanpa disadari oleh Layya, penyakit yang menimpa Ayyub as merupakan cobaan ke atas dirinya.

Sebagai seorang istri, Layya tetap sabar dan tidak pernah berputus asa serta tidak pernah bosan mendampingi suaminya yang telah kehilangan harta dan anak. Layya sadar bahwa dia telah pernah menikmati kesenangan, kebahagiaan dan penghormatan, tetapi kini dia menghadapi kemiskinan, penyakit dan penghinaan orang terhadap mereka berdua. Meskipun demikian, dia tetap sabar dan tabah menghadapi semua cobaan yang menimpa dirinya. Setiap waktu, Layya membawa debu dan tanah untuk diletakkan di bawah tempat pembaringan Ayyub as dengan tujuan agar tempat itu tidak basah akibat luka-luka suaminya yang kian parah. Pada suatu ketika, cobaan yang dihadapi oleh Layya sudah memunca, Layya menemui suaminya seraya berkata: “Hai suamiku Ayyub, jika engkau memohon kepada Tuhan, tentu Dia akan menyembuhkan penyakitmu.” Ayyub as menjawab: “Aku telah hidup bertahun-tahun dalam keadaan sehat, dan ini adalah cobaan dari Tuhanku agar aku dapat bersabar. Segala puji bagi Allah swt Tuhan sekalian alam. Seandainya aku dapat bersabar 70 tahun, ia masih dianggap sedikit jika dibandingkan dengan nikmat yang dianugerahkan oleh Allah swt kepadaku.”

Layya kurang senang mendengar jawaban Ayyub as. Oleh sebab itu, dia keluar mencari kerja sebagai pembantu di rumahrumah penduduk. Tetapi tatkala mereka mengetahui bahwa Layya adalah istri Ayyub as, mereka enggan menerimanya sebagai pembantu, karena takut ditimpa bala seperti yang dialami oleh Ayyub as. Layya mulai terasa betapa susahnya untuk mendapatkan sepotong roti, karena tidak ada seorangpun yang mau menerimanya menjadi pembantu. Penderitaan yang menimpa Layya menyebabkan dia hampir terlupa akan kecantikan dan usianya yang masih muda. Kemudian Layya terfikir untuk menjual salah satu sanggul rambutnya. Maka dia pergi ke rumah orang kaya yang mempunyai anak gadis. Di sana dia berjumpa dengan anak gadis itu lalu menawarkan salah satu sanggul rambutnya untuk dijual. Sebagai gantinya Layya diberi makanan yang baik. Setelah itu, Layya membawa makanan itu kepada Ayyub as. Maka tatkala dia menghidangkan makanan itu di depan suaminya, suaminya bertanya: “Dari mana engkau peroleh makanan ini?” Layya menjawab: “Aku bekerja dengan orang”.

Pada hari kedua, Layya pergi mencari pekerjaan, tetapi meskipun dia sudah bersusah payah ke sana ke mari, namun dia belum mendapat pekerjaan yang diharapkannya. Oleh karena itu, dia menjual sanggul rambutnya yang lain kepada salah seorang anak orang kaya. Dan sebagai gantinya, dia memperoleh makanan yang baik. Kemudian Layya membawa makanan itu kepada Ayyub as, tetapi Ayyub as tidak senang menerimanya dan dia bersumpah tidak akan memakan makanan itu sehingga Layya memberitahu dari mana diperolehinya. Melihat keseriusan Ayyub as untuk mengetahui sumber makanan itu, Layya membuka kepalanya. Tatkala dia melihat keadaan istrinya, Ayyub as merasa sedih, lalu dia mengangkat kepalanya ke langit sambil berkata:

“Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. (QS. Al-Anbiya:83)

Salah seorang di antara orang yang mendengar doanya berkata: “Seandainya dalam ilmu Allah swt Ayyub itu seorang yang baik, tentu dia tidak menimpakan bala seperti ini ke atasnya.” Mendengar kata-kata itu, Ayyub merasa sangat sedih lalu dia berdoa kepada Allah swt:”Wahai Tuhanku, Apabila Engkau tahu bahwa aku tidak pernah tidur dalam keadaan kenyang sedang aku tahu ada orang yang lapar, maka benarkanlah aku dan benarkanlah aku dari langit.” Ayyub as meneruskan doanya: “Ya Allah, jika Engkau tahu bahwa aku tidak pernah memiliki dua pasang baju sedang aku tahu ada orang yang tidak mempunyai pakaian, maka benarkanlah aku dan benarkanlah aku dari langit.” Kemudian dia sujud seraya berkata: “Wahai Tuhanku, demi kebesaran-Mu, aku tidak akan mengangkat kepalaku sehingga Engkau kabulkan permintaanku.”

Begitulah sifat tawaduk yang ditunjukkan Ayyub as kepada Tuhannya dalam berdoa agar Allah swt menyembuhkan penyakitnya. Layya tidak berputus asa dalam mencari makanan untuk mereka berdua. Pada suatu hari Layya datang membawa beberapa potong roti yang diperolehinya dari satu kaum, lalu menghidangkannya kepada Ayyub as, tetapi Ayyub as enggan menerima roti itu seraya berkata: “Kembalikan roti itu kepada pemiliknya, mungkin anak mereka sedang mencarinya. ”Layya membawa roti itu dengan perasaan yang kesal. Tiba-tiba ketika dia memulangkannya, dia dapati anak pemilik roti itu terjaga dari tidur lalu mencari roti tersebut. Layya pun berkata: “Wahai Ayyub, alangkah tingginya kesabaran dan keimananmu! Mudah-mudahan Allah swt merahmatimu.” Setelah itu Layya kembali kepada Ayyub as. Dalam perjalanan, dia bertemu dengan syaitan yang menjelma menyerupai seorang laki-laki yang baik. Syaitan itu berkata: “Sesungguhnya suamimu telah lama sakit, jika dia ingin sembuh, hendaklah dia menyembelih lalat dengan nama patung si pulan. Setelah itu dia akan sembuh.”

Ketika Layya bertemu dengan suaminya, dia menceritakan kejadian itu. Tiba-tiba suaminya Ayyub as marah seraya berkata: “Si keji itu (dia maksudkan syaitan) telah mendatangimu.” Kemudian Ayyub as bersumpah jika Allah swt menyembuhkan penyakitnya, dia akan sebat istrinya dengan seratus kali sebat. Layya berkata: “Sampai kapankah Tuhanmu menyiksamu? Sudah di manakah hartamu, keluargamu dan sahabat-sahabatmu? Dan di manakah kedudukanmu yang silam.?” Ayyub as berkata: “Syaitan telah Berhasil memperdayamu. Apakah engkau tangisi masa lalumu dan kemuliaanmu yang silam?” Layya menjawab dengan sedih: “Wahai suamiku Ayyub, berdoalah engkau kepada Tuhanmu agar Dia menghilangkan penderitaan dan penyakitmu.”Sekali lagi Ayyub as mempertahankan pendiriannya: “Aku malu meminta kepada Allah swt agar Dia menyembuhkan penyakitku. Perkara yang paling aku khawatirkan sekarang ialah keimananmu terhadap ketentuan Allah swt. Demi Allah, jika aku sembuh, aku akan menyebatmu seratus kali sebat dan mulai hari ini aku haram memakan atau meminum yang datang melalui tanganmu, dan aku haramkan diriku memerintahkanmu untuk itu. Pergilah dari sini sehingga Allah swt memberi keputusan.”

Kemudian Layya pergi dalam keadaan sedih dan beberapa pertanyaan timbul dalam hatinya: “Mengapa aku hancurkan amal yang aku buat selama ini dengan bersungguh-sungguh? Mengapa aku perlihatkan muka yang muram dan lesu di depan suamiku yang sedang sakit? Tidakkah menjadi kewajibanku meringankan bebannya dan menjaga perasaannya sehingga dia tidak membenciku sampai Allah swt memaafkannya dan menyembuhkan penyakitnya?”Layya bingung jalan mana yang harus ditempuhnya dan cara apa yang harus dilakukannya. Setelah kejadian itu Ayyub as tinggal seorang diri, sedang penyakitnya semakin serius dan kepedihannya semakin pilu. Sebab itu Ayyub as menyerahkan segala urusannya kepada Allah swt. Mudah-mudahan dengan berkah kesabarannya dan doanya, Allah swt mengembalikan kesehatan dan hartanya, maka Allah swt mewahyukan kepadanya: “Hentakkanlah kakimu ke bumi, engkau akan melihat air akan memancar, kemudian minumlah air itu dan mandilah dengannya hai Ayyub. Dengan demikian kesehatanmu akan kembali seperti semula, penyakitmu dan kepedihanmu akan hilang, dan wajahmu akan berseri dan kembali menjadi muda.”

Berdasarkan wahyu Allah swt itu, Ayyub as melaksanakan semua yang diperintahkan, maka penyakitnya telah sembuh dan luka-lukanya telah pulih seperti sedia kala. Adapun istrinya Layya, tidak sampai hati meninggalkan suaminya menghadapi segala kesusahan dan penderitaannya seorang diri. Lebih-lebih lagi apabila dia mengenang perjalanan hidupnya yang sekian lama menjaga dan mengurus Ayyub as. Cinta dan kasih sayangnya terhadap Ayyub as ketika sakit melebihi cintanya ketika sehat. Sebab itu, Layya sangat berkeinginan untuk kembali ke pangkuan suaminya untuk memohon maaf atas segala kesalahannya. Tatkala Layya sampai di rumahnya, dia dapati sesuatu yang belum pernah terlintas dalam fikirannya, di mana dia dapati Ayyub as telah sembuh seperti sedia kala, kesehatannya sempurna dan tubuhnya berisi sehingga Layya menyangka bahwa Ayyub as adalah orang lain. Tetapi tatkala dia mengenal suaminya, dia sangat gembira dan mukanya berseri dihiasi dengan senyuman seraya berteriak: Ayyub, Ayyub. Dengan tetesan air mata kegembiraan, Layya sujud kepada Allah swt sambil bertasbih memuji-muji-Nya.

Pada saat itu Allah swt mewahyukan kepada Ayyub as agar dia mengambil seikat rumput untuk digunakan memukul Layya dengan pukulan ringan dan perlahan, sebagai keringanan baginya dalam menunaikan sumpahnya dan sebagai kasih sayang kepada seorang wanita yang ikhlas, amanah lagi penyabar, seorang wanita yang kesetiannya menjadi contoh teladan bagi manusia yang lain. Kemudian setelah itu, Allah swt menganugerahi mereka seorang anak dan mengembalikan harta kekayaan mereka. Sesungguhnya Layya adalah wanita yang banyak beribadah kepada Allah swt dan banyak bersabar dalam menghadapi penderitaan dan ujian bersama suaminya Ayyub as. Dalam Al-Qur’an al-karim Allah swt menceritakan kesabaran Ayyub as dan kesetiaan istrinya. Allah swt berfirman:

“Kami anugerahkan dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput) maka pukullah dengan itu (istrimu) dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya).” (QS. Shad:43-44)

Semoga Allah swt merahmati Layya dan semoga kisahnya yang indah dan menarik ini memberi manfaat kepada kita, anakanak dan istri-istri kita.

 

Referensi:

Buku ULUMUL QUR’AN Kajian Kisah-Kisah Wanita dalam Al-Qur’an. Penulis Muhammad Roihan Nasution.