Kisah Zulaikha (Cintanya Sangat Mendalam)


Al-Qur’an al-Karim telah mengemukakan kisah Zulaikha’ dengan Yusuf as; kisah yang menggambarkan tabiat dan keinginan wanita yang biasanya terdorong oleh hawa nafsu tanpa menghiraukan cara yang dipergunakan, sama ada cara itu mengandung unsur penganiayaan atau melanggar kebenaran dan keadilan. Kisah Zulaikha’ merupakan pengajaran bagi orang yang berfikir.

Zulaikha’ adalah istri kepada al-Aziz. Zulaikha’ dikenali dengan nama Ra’il binti Raa’bil. Suaminya al-Aziz adalah seorang pembesar Mesir yang bernama Atfir bin Ruhaib, menteri keuwangan pada masa pemerintahan salah seorang raja Mesir yang bernama Rayyan bin al-Walid. Abdullah bin Mas’ud, salah seorang sahabat Rasulullah saw pernah manyatakan bahwa al-Aziz, suami Zulaikha’ adalah salah seorang dari tiga orang yang memiliki ilmu firasat. Beliau berkata: “Terdapat tiga orang yang paling pakar dalam bidang ilmu firasat. Mereka itu ialah: a) al-Aziz Mesir. b) Anak perempuan Nabi Syuaib as yang bertemu dengan Musa as. c) Abu Bakar as-Siddiq. Sekarang mari kita ikuti kisah Atfir (al-Aziz) yang telah membeli Yusuf dari pedagang-pedagang yang mengeluarkannya dari dasar perigi. Allah swt telah memberi Yusuf as kedudukan yang baik di muka bumi dan telah menyelamatkannya dari tipu muslihat saudarasaudaranya. Sesungguhnya Allah swt yang Maha Kuasa sanggup melaksanakan apa yang dikehendaki-Nya, dan tidak ada seorangpun yang dapat menegah dan menolak kehendak-Nya. Atfir berkata kepada istrinya Zulaikha’:

“Berikanlah kepadanya tempat (dan layanan) yang baik, boleh jadi dia bermanfaat kepada kita atau kita pungut dia sebagai anak angkat” (QS.Yusuf:21)

Zulaikha’ setuju dengan permintaan suaminya untuk memelihara dan menjaga Yusuf as. Maka tatkala Nabi Yusuf as dewasa dan cara berfikirnya telah matang, Allah swt menyempurnakan nikmat-Nya kepada Yusuf as dengan menghiasinya dengan akhlak yang mulia dan wajah yang tampan, dan memberinya kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan serta menganugerahinya nikmat kenabian seperti kakek-kakeknya Ishaq dan Ya’kub. Sebagai balasan terhadap kebaikan Yusuf as Allah swt menjadikannya seorang yang berkuasa di muka bumi .

“Dan tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula”.(QS. Ar-Rahman:60)

Selama Yusuf as berada di rumah al-Aziz, dia hanya menghabiskan waktunya dalam beribadah kepada Allah swt di samping menjalankan kerja yang telah diamanahkan kepadanya, karena dengan memperbanyak zikir dan munajat kepada Allah swt, penderitaan yang dialami oleh Yusuf as sewaktu berada dalam perigi yang selalu menghantui fikirannya dan mimpi-mimpi ngerinya dapat diatasinya. Kehidupan ini ibarat roda; adakalanya susah dan adakalanya senang. Begitulah kehidupan yang dialami oleh Yusuf as, di mana Allah swt ingin menguji keimanannya, karena dengan keimanan yang kuat, dia pasti sanggup memerangi hawa nafsunya dan sanggup menghadapi segala cobaan yang menimpa dirinya. Cobaan dan ujian utama yang dihadapi oleh Yusuf as ialah ketampanan yang dimilikinya, karena setiap orang yang memandang Yusuf as, pasti tergoda sehingga ada yang mengatakan bahwa Yusuf adalah Malaikat.

“Ini bukanlah manusia, sesungguhnya ini tidak lain hanyalah Malaikat yang mulia”. (QS.Yusuf:31)

Hari demi hari Yusuf as semakin besar, dari zaman kanakkanak beranjak kepada remaja. Semakin meningkat usianya, semakin matang cara berfikirnya, dan semakin baik dan mulia akhlaknya, sehingga nur ilahi sempurna pada dirinya. Nur yang ada pada diri Yusuf as inilah yang membuat istri al-Aziz, tertarik kepada anak angkatnya. Zulaikha’ tidak jemu-jemu melihat Yusuf as, waktu duduk, berdiri, diam atau berjalan. Bahkan Zulaikha’ sering termenung menghayalkan ketampanan, kelembutannya sehingga khirnya Zulaikha’ jatuh cinta kepadanya. Cinta itu semakin lama semakin mendalam di kalbu Zulaikha’. Getaran dan denyutan jantungnya hanya tertumpu kepada Yusuf as saja. Siang malam dia berhasrat untuk dapat berdampingan dengan Yusuf as. Setiap kali Yusuf as berada di depan mata Zulaikha’, Zulaikha’ terasa istana kediamannya seakan-akan luas dan tenang. Tetapi sebaliknya jika pemuda tampan dan menawan itu tidak ada di sampingnya, istana dirasa sepi dan sempit.

Pada suatu hari, muncul berbagai pertanyaan dalam hati Zulaikha’: “Apakah cara yang dapat aku lakukan untuk menarik perhatian pemuda itu? Dia telah dibesarkan di istana, sedang aku pula istri Aziz Mesir yang dihormati, disegani dan berkedudukan tinggi? Jalan manakah yang harus aku lalui untuk dapat memilikinya dan mencurahkan rasa cintaku yang telah membara dan tidak terkawal?” Zulaikha’ telah berusaha melupakan Yusuf as, tetapi dia tidak tahan apabila pemuda yang pendiam, tenang dan bersifat amanah itu muncul di depannya. Cinta Zulaikha’ terhadap Yusuf as semakin membara. Kegelisahan di hatinya semakin bertambah, matanya tidak mau tidur, tubuhnya semakin kurus dan kecantikan wajahnya semakin pudar. Sebab itu dia tidak dapat menahan emosinya, dan tidak dapat membendung hawa nafsunya.

Maka pada suatu hari Zulaikha’ berusaha memperangkap Yusuf as dan mengajak anak angkatnya itu memenuhi keinginannya. Tetapi sebagai pemuda yang beriman dan bertakwa kepada Allah swt Yusuf as tetap berpaling dan dia pergi meninggalkan Zulaikha’ untuk meneruskan kerjanya. Benarlah gelar yang diberikan kepadanya yaitu al-Karim bin al-Karim bin al-Karim (mulia). Pemuda yang mulia seperti Yusuf as tidak mungkin melakukan perbuatan keji, khususnya di rumah seorang laki-laki yang telah membeli, memelihara dan memuliakannya sejak kecil. Ditambah lagi laki-laki itu telah memberinya kepercayaan untuk tinggal bersama keluarganya di rumahnya. Apakah mungkin semua kebaikannya dibalas dengan keburukan? Keengganan Yusuf memenuhi keinginan ibu angkatnya Zulaikha’, membuat Zulaikha’ semakin penasaran dan semakin terdorong untuk merancang perbuatan yang lebih berbahaya. Tetapi semua usaha yang dilakukan oleh Zulaikha’ tidak dapat mempengaruhi Yusuf as, karena Allah swt senantiasa memelihara dan menjaganya.

Meskipun semua usaha yang dilakukan oleh Zulaikha’telah gagal, namun dia belum berputus asa. Pada suatu malam, Zulaikha’ bertekad bulat untuk menggoda dan memerangkap Yusuf as, maka dia berhias dengan segala perhiasan yang dimilikinya agar paras yang akan diperlihatkannya pada malam itu dapat menarik dan menawan hati Yusuf as. Kemudian dia mempersiapkan diri untuk melakukan perkara yang lebih dahsyat sebagaimana dinyatakan oleh Allah swt dalam al-Qur’an:

“….Dan wanita (Zulaikha’) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menunjukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata:“Marilah ke sini. ”Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah swt, sesungguhnya Tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim tidak akan beruntung. Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andai kata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah agar kami palingkan dia dari kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih”. ((QS.Yusuf:23-24)

Zulaikha’ berlakon di depan Yusuf as seperti wanita yang jatuh cinta. Kemudian dia mengajak Yusuf as ke kamar. Seperti biasanya, Yusuf as memenuhi permintaan ibu angkatnya sebagai mentaati perintahnya. Tatkala Yusuf as masuk ke kamar itu, Zulaikha’ terus menutup tirai dan mengunci pintu lalu berkata: “Mari sini, aku telah sedia untukmu.” Allah swt tidak membiarkan hamba-Nya dan nabi-Nya, Yusuf as terjerumus kepada dosa, meskipun pada masa itu Yusuf as masih remaja yang mungkin tergoda dengan tipu daya Zulaikha’ yang telah memerangkapnya dengan berbagai cara.

Tujuan Zulaikha’ menghampiri Yusuf as sedikit demi sedikit adalah agar Yusuf as membalas cintanya dan memenuhi keinginannya. Tetapi godaan Zulaikha’ itu dijawab oleh Yusuf as: “Aku berlindung kepada Allah swt dari melakukan pengkhianatan kepada wanita yang telah berbuat baik kepadaku dan menempatkan aku di rumahnya. Sebab jika aku melakukan perbuatan keji ini, berarti aku termasuk orang yang tidak mengenang jasa dan lupa kepada kebaikan orang. Seterusnya aku tidak mau mengkhianati orang yang telah menolongku dan memberiku kebahagiaan dan kesenangan di istana sepanjang hayatku. Sesungguhnya aku merasa heran mengapa engkau sebodoh ini. Apakah engkau sangka, dengan menutup pintu dan tirai, perbuatanmu dianggap satu rahasia? Jangan engkau lupa, seandainya perbuatan keji itu engkau lakukan, Allah swt tetap melihat dan mengetahuinya. Sesungguhnya aku tidak akan menuruti hawa nafsumu dan tidak akan mengalah kepada syaitan yang senantiasa mendorong kepada perbuatan maksiat. Sebab seandainya perbuatan keji itu aku lakukan, aku tidak akan memperoleh keberuntungan. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tidak akan memperoleh keberuntungan.”

Keengganan Yusuf as memenuhi keinginan Zulaikha’ yang berparas cantik dan menawan semua orang yang melihatnya, membuat Zulaikha’ semakin bertambah marah, karena dia tidak menyangka bahwa anak angkatnya itu enggan mematuhi perintahnya dan memberinya kepuasan batin, sehingga muncul dalam pikirannya, bukankah penolakan itu suatu penghinaan kepada dirinya? Itulah persoalan yang menambah kemarahannya dan mendorongnya supaya lebih giat dalam memerangkap dan mempengaruhi Yusuf as agar keinginannya dapat terlaksana. Sesungguhnya nur kenabian dan nikmat iman yang menyinari dan menerangi hati Yusuf as membuatnya dapat menghindar dari perbuatan keji itu. “Hai Yusuf, larilah dan berpalinglah dari depannya.”

Begitulah bisikan yang sampai ke telinga Yusuf as. Maka Yusuf as berlari menjauhkan diri dari Zulaikha’ menuju pintu. Belum sempat dia keluar, dia terasa bajunya telah dipegang dari belakang. Ruparupanya Zulaikha’ telah memegang bajunya dengan tujuan menahannya supaya tidak keluar dari kamar itu. Yusuf as mengelak dengan keras sehingga bajunya koyak dari belakang. Sewaktu Yusuf as sampai di depan pintu dan bermaksud untuk keluar, tibatiba al-Aziz muncul di depannya. Melihatkan keadaan Yusuf as yang tergesa-gesa dengan baju yang koyak, al-Aziz merasa heran, karena sebelumnya Yusuf as tidak pernah demikian. Sewaktu alAziz dalam kebingungan, tiba-tiba Zulaikha’ muncul seraya berkata:

“…Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud hendak berbuat jahat (seorang) dengan istrimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab yang pedih….” (QS.Yusuf:25)

Maksud kata-kata Zulaikha’ ialah bahwa Yusuf as tidak menghargai al-Aziz dan tidak menjaga keluarganya, bahkan Yusuf as bermaksud untuk melakukan perbuatan keji dengan Zulaikha’ dan menggoda ibu angkatnya sendiri. Yusuf as memandang al-Aziz, karena dia telah dianiaya dan dizalimi dengan penganiayaan yang tidak dapat dipikulnya. Kemudian dia berkata: “Dialah yang menggoda aku dan memegang bajuku yang suci, lihatlah bajuku ini sebagai bukti bahwa dia yang mengejarku.” Yusuf as berusaha membela diri, dan Zulaikha’ berusaha berdusta di depan suaminya, sementara al-Aziz hanya diam memandang keduanya. Sewaktu mereka dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba anak paman Zulaikha’, seorang anak laki-laki yang bijaksana, cerdik dan cerdas datang menemui mereka. Maka al-Aziz menjelaskan perkara itu kepadanya dari awal hingga akhirnya. Anak laki-laki itu diam seketika, kemudian dia berkata:

“Jika bajunya koyak di depan, maka wanita itu benar, dan jika di belakang maka wanita itulah yang dusta dan Yusuf termasuk orangorang yang benar.” (QS.Yusuf:25-26)

Al-Aziz dan anak laki-laki itu melihat tempat yang koyak di baju Yusuf as sama ada di bagian belakang atau di bagian depan. Maka keduanya menyaksikan bahwa bagian yang koyak itu terdapat di sebelah belakang. Pada saat itu terbuktilah siapa yang benar dan siapa pula yang berbohong, maka jelaslah kesucian Yusuf as. Kemudian al-Aziz memandang Zulaikha’ seraya berkata: “Ini adalah tipu daya wanita. Mintalah keampunan dari Tuhanmu. Sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang bersalah.” Setelah itu al-Aziz memandang Yusuf pula seraya berkata: “Adapun engkau hai Yusuf, peliharalah mulutmu. Jangan sekali-kali engkau memberi tahu masalah ini kepada orang lain, karena jika engkau memberitahukannya kepada orang lain, fitnah akan tersebar luas, dan ia akan menjadi buah mulut dan bahan cerita orang ramai, akhirnya kita juga yang akan malu dan kecewa”. Yusuf as pergi meninggalkan tempat itu untuk meneruskan tugasnya, tetapi dia sangat lemah, karena memikirkan penganiayaan yang menimpa dirinya, sementara al-Aziz dan anak laki-laki itu pergi meninggalkan Zulaikha’ dalam keadaan sedih dan pilu. Tetapi rupanya perkara itu tidak hanya sampai di situ saja. Yusuf dimasukkan ke penjara dan ditahan di dalamnya selama beberapa tahun. Apakah yang terjadi di kota itu setelah kejadian itu?. Kejadian yang menimpa Yusuf as tersebar luas di kalangan wanita di kota itu. Mereka mengatakan bahwa Zulaikha’ jatuh cinta kepada anak angkatnya sendiri dan dia menggodanya dengan kecantikannya. Allah swt berfirman dalam al-Qur’an:

“Dan wanita-wanita di bandar berkata: “Istri al-Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya) sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu sangat mendalam. Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata”.(QS.Yusuf:30)

Berita itu akhirnya sampai ke telinga Zulaikha’. Dia merasa bahwa mereka menjatuhkan harga dirinya. Sebab itu, dia merancang untuk memperangkap mereka sebagaimana mereka teleh mencercanya. Pada suatu hari, Zulaikha’ mengundang mereka (kaum wanita) ke istana. Dia mengadakan pesta yang istimewa dan meriah. Kedatangan para wanita disambut oleh Zulaikha’ dengan ramah dan mesra. Dalam pesta itu dihidangkan makanan yang lezat, dan bermacam-macam buah-buahan serta setiap orang diberi pisau untuk pengupas buah-buahan tersebut. Para wanita itu duduk di tempat yang disediakan dan di tangan mereka ada pisau untuk mengupas dan memotong buahbuahan.

Kemudian Zulaikha’ berkata kepada Yusuf as “Keluarlah engkau dan berjalanlah di setiap barisan”. Yusuf as melaksanakan perintah Zulaikha’. Maka dia keluar ke majlis itu dalam keadaan malu, sedang kedua pipinya nampak kemerah-merahan seperti bunga mawar yang sedang berkembang. Ketika Yusuf as berjalan ke arah para wanita itu, mereka tercengang melihat ketampanannya dan keistimewaannya dibandingkan dengan pemuda-pemuda yang lain, karena sebelumnya mereka belum pernah melihat ketampanan seperti yang dimiliki oleh Yususf as; wajahnya yang berseri, parasnya yang menawan hati dan tubuhnya yang gagah perkasa. Kesempurnaan yang ada pada diri Yusuf as, menyebabkan para wanita yang hadir pada majlis itu hilang kesadaran sehingga mereka melukai tangan mereka sendiri dengan pisau yang disediakan oleh Zulaikha’dan mereka tidak merasa sakit sekalipun mereka telah memotong tangan mereka. Maka dari mulut mereka tercetus kata-kata: “Maha Suci Allah swt”.

“…Ini bukan manusia, sesungguhnya ini tidak lain hanyalah Malaikat yang mulia”.(QS.Yusuf:31)

Melihat kejadian itu, Zulaikha’ sangat gembira dan senang, karena dendamnya terbalas. Kemudian dia berkata: “Inilah Yusuf yang kamu mencaciku karenanya, padahal kamupun terpedaya dengan kecantikannya. Sekarang aku berterus terang kepada kamu bahwa akulah yang menggodanya dan akulah yang telah menyerahkan tubuhku kepadanya lalu dia menolak dan melarikan diri dariku. Jika dia tidak mematuhi perintahku, aku memasukkannya ke penjara, supaya dia merasa kegelapannya atau dia menghabiskan masa mudanya di dalamnya, maka aku memberinya dua pilihan, penjara atau patuh kepada perintahku.” Cinta dan kasih sayang Zulaikha’ terhadap Yusuf as telah terbukti. Hal ini telah dinyatakannya di depan para tamunya. Setelah pernyataan Zulaikha’, mereka menasehati Yusuf as agar menerima permintaan Zulaikha’, karena Zulaikha’ seorang wanita cantik dan mempunyai kedudukan serta memiliki harta yang dapat membahagiakannya. Maka mereka berkata kepada Yusuf as: “Tidakkah kesenangan dan kasih sayang Zulaikha’ terhadapmu hai Yusuf lebih baik bagimu dari penjara yang penuh dengan azab dan siksaan?” Yusuf as dikepung berbagai perangkap syaitan dari semua penjuru. Dia tidak ada jalan keluar kecuali meminta pertolongan dari Allah swt. Yusuf as berkata:

“Hai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dariku tipu daya mereka, tentu aku yang akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh”.(QS.Yusuf:33)

Maksud kata-kata Yusuf as itu ialah: “Sesungguhnya azab penjara lebih baik bagiku dari menuruti tipu daya wanita itu, dan keimananku terhadap qada’-Mu semakin bertambah kuat, maka penjara adalah sebaik-baik tempat bagiku untuk menyembah, bertaubat dan beristighfar kepada-Mu”. Walaupun Zulaikha’ telah lama menggoda dan merayu Yusuf as, tetapi usahanya itu tidak mendapat respon dari Yusuf as. Oleh sebab itu, Zulaikha’ memfitnah, menuduh dan memenjarakan Yusuf as. Sejak itu, Yusuf as menjalani hukuman di penjara sehingga kesuciannya terbukti dan berita itu diketahui Raja Mesir. Ketika Raja Mesir memaafkan Yusuf as, dia setuju keluar dari penjara seandainya pembebasannya atas dasar kebenaran dan kesuciannya. Tetapi seandainya pembebasannya karena pemberian seseorang, Yusuf as tidak mau keluar dari penjara. Sebab itu Yusuf as memohon kepada utusan Raja supaya dia diberi kesempatan berjumpa dengan Raja itu untuk menjelaskan sikap para wanita yang telah melukai tangan mereka. Raja memanggil para wanita itu lalu dia bertanya kepada mereka: “Apa pendapat kamu ketika kamu menggoda Yusuf”. Mereka hanya menjawab bahwa Yusuf as bersih dari tuduhan itu. Sebagian mereka menjawab: “Demi Allah, kami tidak pernah tahu tentang keburukan Yusuf. Sesungguhnya dia adalah laki-laki yang suci lagi dipercaya”. Kemudian Zulaikha’ berkata: “Kini kebenaran telah nyata dan jelas, sayalah yang menggoda dan memperangkapnya. Sesungguhnya dia laki-laki yang suci dan berjiwa luhur, karena dia rela masuk penjara sedangkan dia tidak bersalah, dan dia rela menanggung siksaan dan penganiayaan di penjara padahal aku yang bersalah. Aku membuat pengakuan itu tempo hari agar suamiku al-Aziz tidak mengetahui pengkhianatan dan kecuranganku”.

”….yang demikian itu agar dia (al-Aziz) mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak berkhianat kepadanya di belakangnya dan bahwasanya Allah swt tidak meridhoi tipu daya orang-orang yang berkhianat.” (QS. Yusuf:52)

Inilah kisah Zulaikha’ istri al-Aziz yang terdapat dalam buku-buku tafsir. Dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa setelah kejadian itu, Zulaikha’ hidup mengasingkan diri dari orang ramai, sementara Yusuf as memperoleh kemuliaan dan kedudukan yang tinggi di permukaan bumi, di mana dia diberi kekuasaan dalam mengurus kekayaan Mesir, agar manusia dapat mengetahui bahwa kebenaran pasti menang meskipun kemenangan itu diperoleh dalam jangka masa yang cukup lama. Melalui kisah ini, dapat diambil suatu hikmah dan pengajaran bahwa memerangi hawa nafsu merupakan ibadah yang sangat baik diamalkan oleh seluruh manusia, laki-laki atau perempuan, tua atau muda.

 

Referensi:

Buku ULUMUL QUR’AN Kajian Kisah-Kisah Wanita dalam Al-Qur’an. Penulis Muhammad Roihan Nasution.