Kisah Istri Luth as (Salah Seorang yang Masuk Neraka)


Dua wanita yang diceritakan dalam ayat di atas akan menanggung azab yang pedih. Mereka ialah istri Nabi Nuh as dan istri Nabi Luthh as. Meskipun mereka berdua hidup di bawah naungan dua orang laki-laki soleh, namun mereka celaka dan dilaknat, karena mereka tidak mendapat pertunjuk dan tidak beriman kepada Allah swt serta mereka menentang dan khianat kepada suami dan agama yang dibawa olah suami mereka. Inilah kisah wanita kedua yang disebutkan dalam al-Qur’an, yaitu Istri Nabi Luthh as. Allah swt berfirman:

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat)”. (QS. Al-A’raf:59)

Pada suatu ketika Ibrahim as dan Luth as berhijrah ke Mesir. Setelah bertahun tahun menetap di Mesir, mereka berhasil mengumpul harta yang banyak. Mereka meninggalkan Mesir dengan membawa harta dan binatang ternak yang terkumpul di Mesir. Ibrahim as menyuruh Luth as untuk membawa harta yang banyak itu ke Kota Sadum yang pada waktu itu menjadi ibu kota. Nabi Luth as menetap di bandar Sadum, sementara Ibrahim as meneruskan perjalanannya ke Palestin.Tetapi sayangnya Kota Sadum ketika itu penuh dengan kejahatan dan kezaliman. Penduduk Sadum adalah orang-orang yang tidak bermoral. Mereka mengamalkan hidup homoseksual sesama sendiri. Mereka melakukan perbuatan keji di muka umum dengan tamu-tamu mereka secara terang-terang. Nabi Luth as diutus oleh allah swt sebagai Rasul. Dengan hati yang tulus dia menjalankan tanggungjawabnya sebagai Rasul untuk mengajak kaumnya kepada berbuat baik dan hidup bersih serta memperingatkan mereka dari berbuat dosa dan kejahatan. Nabi Luth as bekata:

“Mengapakah kamu mengerjakan perbuatan kotor (homoseksual) itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelum kamu? Sesungguhnya kamu mendatangi laki-laki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka) bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas”. (QS. Al-A’raf:80-81)

Nabi Luth as tinggal di bandar Sadum dengan seorang wanita bernama Wailah atau Mahlah yang berasal dari kota itu. Dia adalah seorang wanita kaya dari keluarga yang tidak bermoral dan berakhlak yang sangat buruk. Meskipun demikikian, Allah swt tmentakdirkan Nabi Luth menikah dengannya dengan persetujuan Nabi Ibrahim as. Kota Sadum adalah kota yang dipenuhi dengan manusia yang tidak bermoral, dan tidak berprikemanusiaan. Nabi Luth telah diperintahkan untuk menyampaikan dakwahnya di negeri ini, dan melarang mereka dari melakukan perbuatan keji yang tidak pernah dilakukan oleh orang sebelumnya, dengan harapan semoga ia menjadi iktibar bagi orang-orang sesudah mereka. Di antara keburukan penduduk Sadum ialah menyamun dan merampas barang-barang yang dibawa oleh orang-orang yang lalu di Sadum, serta khianat, melakukan kemungkaran di majlis-majlis dan tempat-tempat perkumpulan. Mereka tidak mengindahkan nasehat yang disampaikan Nabi Luth. Mereka gemar mengintai setiap orang yang membawa barang-barang perniagaan ke Sadum lalu mereka mendatanginya.

Setiap orang dari mereka mengambil sedikit dari barang-barang itu. Ketika peniaga itu meminta bayaran, mereka menjawab: “Adakah engkau patut meminta bayaran dari barang yang sedikit ini? Seterusnya mereka berpura-pura untuk mengembalikan barangbarang itu, maka dengan demikian peniaga berputus asa dan akhirnya dia membiarkan barang-barangnya dalam keadaan rugi. Nabi Luth as menyampaikan kepada mereka:

“Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu. Maka bertakwalah kepada Allah swt dan taatlah kepadaKu”.(QS.Asy-Syu’ara:161-163)

Mereka menjawab dengan kata-kata yang amat menyedihkan:

“Usirlah Luth bersama keluarganya dari negerimu, karena mereka orang-orang (mendakwa dirinya) bersih”. (QS. An-Naml:56)

Bukankah kesucian dan kemuliaan disukai dan diharapkan oleh semua manusia? Bukankah kesucian diperlukan dalam hidup ini? Bukankah kesucian lahir dan batin diidam-idamkan oleh semua orang? Kita merasa heran, mengapa kaum Luth menganggap kesucian itu sebagai suatu jinayah. Bukankah pandangan ini sangat berbahaya? Nabi Luth tanpa jemu-jemu meneruskan dakwahnya, sementara istrinya Wailah bersikap sebagai penyampai rahasia Nabi Luth as kepada kaumnya. Mereka senantiasa mengintai tamu yang datang ke rumah Nabi Luth. Seterusnya istri Nabi Luth as dan kaumnya terus menerus menyusahkan, melemahkan dan menghambat dakwahnya.

Mereka patut mendapat siksaan di dunia dengan azab yang pedih. Nabi Luth berkata kepada mereka:“Sesungguhnya azab Tuhan akan datang jika mereka tidak meninggalkan perbuatan-perbuatan keji. Tetapi mereka menjawab:

“Datangkanlah kepada kami azab Allah swt, jika kamu termasuk orang-orang yang benar”.(QS. Al-Ankabut:29)

Oleh karena itu Nabi Luth memohon pertolongan Tuhannya:

“Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu”. (QS. Al-Ankabut:30)

Pada waktu itu para Malaikat sedang dalam perjalanan menuju Kota Sadum untuk melaksanakan perintah Allah swt. Sebelum tiba di kota itu, Malaikat Jibril, Mikail dan ‘Izrail telah terlebih dahulu mendatangi Nabi Ibrahim as. Nabi Ibrahim menghidangkan anak lembu yang gemuk kepada mereka. Mereka tidak menyentuhnya sehingga Nabi Ibrahim merasa takut. Oleh karena itu, mereka berkata: “Sesungguhnya kedatangan kami adalah untuk memberitahumu tentang kelahiran seorang anak laki-laki dari istrimu Sarah, yaitu Ishaq, kemudian Yaqub. Seterusnya pada malam ini, kami akan pergi ke Sadum untuk menimpakan azab kepada penduduknya”. Ibrahim membantah dan berharap agar azab itu dilambatkan, dan kaum Nabi Luth as diberi peluang. Tetapi harapannya tidak dapat dikabulkan oleh para Malaikat, karena ia sudah menjadi keputusan Tuhan dan ketetapan-Nya.

Para Malaikat sampai di pinggir Kota Sadum, maka mereka mengutus seseorang untuk memberitahukan Nabi Luth atas kedatangan mereka. Tatkala berita itu sampai kepada Nabi Luth as, dia sangat takut dan dia berkata: “Sesungguhnya hari ini adalah hari yang sangat sulit”. Allah swt berfirman:

“Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para Malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah dan merasa sempit di dadanya karena kedatangan mereka, dan dia berkata: “Ini adalah hari yang amat susah”. (QS. Hud:77)

Nabi Luth as berjalan di depan para Malaikat itu. Menurut sebagian riwayat Nabi Luth as melihat Malaikat itu ketika berjalan menuju rumahnya, sementara orang lain tidak dapat melihat mereka. Adapun Wailah, dia pergi menjumpai kaumnya untuk memberitahukan kedatangan para tamu Nabi Luth. Tidak lama kemudian kaumnya pun sampai, lalu mereka mengelilingi rumah Nabi Luth as:

“Datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji”.(Qs. Hud:78)

Mereka bernasib buruk, karena kedatangan mereka bertujuan melakukan perbuatan keji dengan utusan-utusan Allah swt. Mereka patut disiksa dan diazab dengan azab yang pedih. Nabi Luth as berdiri di pintu rumahnya menghadapi mereka seraya berkata:

“Hai kaumku, takutlah kamu kepada Allah swt dan jangan kamu menghina aku di depan para tamuku. Bukankah kamu orang-orang yang berakal? Mengapa kamu tidak mengerti?Dan tidakkah ada seorang yang berakal di antara kamu?”(Qs.Hud:78)

Luth as berkata:“Putri-putriku telah Allah halalkan kepada kamu untuk kamu nikahi dan mereka lebih baik dan lebih suci bagi kamu”. Walaupun Nabi Luth as telah memberi penjelasan kepada mereka, namun dengan dorongan istrinya Wailah, mereka tetap dengan pendirian mereka untuk terus melakukan perbuatan keji d parangan para tamu Nabi Luth. Mereka menjawab:

“Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap putri-putrimu; dan sesungguhnya kamu telah tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki”. (QS. Hud:79)

Nabi Luth as tidak ada lagi harapan untuk melembutkan hati mereka, padahal di rumahnya ada kekuatan yang dapat menghalang kejahatan mereka dan dapat memelihara kesucian anak-anaknya. Kemudian dia mengarahkan pandangannya kepada para tamunya sambil berkata: “Seandainya aku mampu atau aku mempunyai kekuatan untuk menghapuskan mereka, tentu aku akan menghapuskan mereka.” Allah swt berfirman:

“Luth berkata:“Seandainya aku ada mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)”. (QS.Hud:80)

Kesedihan dan kemarahan Nabi Luth as sudah memuncak. Ketika itulah para Malaikat memperlihatkan hakikat mereka yang sebenarnya demi menentramkan jiwa Nabi Luth as. Maka mereka berkata: “Sesungguhnya kami adalah utusan Tuhanmu untuk menyelamatkanmu dan menolongmu untuk menentang kejahatan mereka. Oleh itu, tenangkan pikiranmu, karena kejahatan mereka tidak akan sampai kepadamu. Bahkan mereka akan mengalami kekalahan.”

“Para utusan (Malaikat) berkata: “Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggumu. Oleh karena itu, pergilah membawa keluarga dan pengikut-pengikutmu di akhir malam, dan janganlah ada seorangpun di antara kamu yang tertinggal, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka, karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat”. (QS.Hud:81)

Nabi Luth as memandang para utusan Allah swt itu dengan penuh kegembiraan, karena ketulusan dan keikhlasannya selama ini telah mendapat penghargaan. Nabi Luth as mengucapkan selamat datang kepada para tamunya. Kemudian para Malaikat itu memberitahukan bahwa kesudahan dan kehancuran kaumnya akan berlaku dalam tempo 24 jam yang akan datang. Tetapi dia tidak tahu, azab apa yang akan menimpa mereka jika azab itu datang pada waktu subuh. Tidak lama kemudian, Nabi Luth as merasa bahwa kaumnya telah berubah, di mana ketakutan menghantui mereka, sehingga dengan segera mereka meningalkan Nabi Luth as, sedang Nabi Luth as sendiri tidak tahu apa yang membuat mereka takut. Nabi Luth as memperoleh kemenangan ketika Allah swt menghapuskan kesusahan dan kesedihannya. Kemudian para Malaikat itu memerintahkan Luth as dan keluarganya supaya mereka keluar pada akhir malam meninggalkan Kota Sadum yang kehancurannya sudah mendapat keizinan dari Allah swt.

Nabi Luth as tidak dibenarkan membawa istrinya Wailah, karena dia telah digolongkan kepada kaumnya yang akan menerima siksa dan azab yang pedih. Sebab kejahatan dan pengkhianatan yang telah lama dilakukannya ke atas suaminya tidak dapat dimaafkan. Nabi Luth as bersama anak-anaknya dan pengikut-pengikutnya yang lain keluar meninggalkan Kota Sadum. Setelah itu Jibril memulai tugasnya dengan mencabut Kota Sadum dari dasarnya, dan membalikkannya serta mengangkatnya ke angkasa, kemudian mencampakkannya ke bumi, maka penduduk Sadum mati ditimpa batu-batu yang besar.

Akhirnya Kota Sadum meletup dan letupan itu mengeluarkan air sehingga ia menjadi lautan dan semua penduduknya menemui ajalnya. Wailah telah merasai azab yang pedih di dunia, dan dia akan merasai azab akhirat kelak. Kita katakan kepadanya: Masuklah ke dalam neraka bersama orang-orang yang masuk ke dalamnya sebagai balasan dari pengkhianatanmu kepada suamimu.

 

Referensi:

Buku ULUMUL QUR’AN Kajian Kisah-Kisah Wanita dalam Al-Qur’an. Penulis Muhammad Roihan Nasution.