Kisah Hajar (Wanita Mesir)


Rasulullah saw bersabda yang bermaksud: “Apabila kamu menyerang Mesir, maka berbuat baiklah kepada penduduknya, karena dengan mereka ada perjanjian dan tali persaudaraan.” Apakah maksud tali persaudaraan yang disebutkan oleh Rasulullah itu? Jawabannya adalah karena Siti Hajar, ibu Ismail adalah dari Mesir. Hajar adalah contoh teladan yang baik dan istri yang taat dan setia kepada suami dalam melaksanakan perintahnya. Sebagai bukti yang nyata atas kesetiaan Hajar kepada suaminya, dia sanggup menanggung berbagai kesulitan dan kesukaran ketika berhijrah dan berpindah dari bumi Mesir ke Palestin kemudian ke Makkah. Bukti lain tentang ketaatannya yang luar biasa ialah ketika dia berhijrah bersama anaknya Ismail ke tanah Hijaz, Ibrahim as meninggalkannya dan anaknya Ismail yang masih masih menyusu di al-Hijaz, sedangkan Hijaz pada ketika itu adalah sebuah daerah yang tidak ada padanya tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan, dan juga terletak di tengah-tengah padang pasir yang kering dan tandus. Itulah gambaran ringkas tentang hidup seorang ibu yang sangat dikagumi dan ibu kepada orang-orang Arab, Hajar yang berasal dari Mesir.

Kisah Hajar dimulai dari kepulangan Ibrahim as dari Mesir ke tempat asalnya Palestin, di mana ketika dia kembali ke Palestin, dia membawa hamba-hamba, binatang-binatang ternak, dan harta kekayaan yang banyak. Selain itu dia membawa Hajar al-Qibtiyah al-Mesriyah, serang hamba yang dihadiahkan raja Mesir kepada Sarah. Pada suatu hari Sarah berkata kepada Ibrahim as: “Tuhan tidak mengurniaimu anak dariku, maka suruhlah hambaku Hajar masuk, mudah-mudahan Allah swt memberimu anak daripadanya.” Sarah menghadiahkan Hajar kepada Ibrahim as, untuk dinikahinya.

Kemudian Hajar hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki yang cerdik dan tampan bernama Ismail. Ibrahim as dan Sarah sangat gembira atas kelahiran anak itu. Tetapi kegembiraan Sarah tidak berkepanjangan, karena sifat cemburu mulai menyelusup ke dalam hatinya, karena dia beranggapan bahwa hambanya (Hajar) lebih hebat dari dirinya. Sifat cemburunya semakin mendalam sehingga dia tidak sanggup lagi hidup berdekatan dengan Hajar dan anaknya Ismail. Pada suatu hari Ibrahim as datang melihat Sarah. tiba-tiba dia dapati Sarah dalam keadaan sedih dan gelisah. Sarah bercita-cita supaya Ibrahim as membawa Hajar dan Ismail ke suatu tempat yang jauh dari rumah mereka, sehingga dia tidak lagi mendengar suara tangisan dan ketawa anak itu.

Maka untuk memperkenankan keinginan Sarah itu Allah swt mewahyukan kepada Ibrahim as supaya dia memperkenankan permintaan istrinya. Ibrahim as menyediakan bekalan yang secukupnya di perjalanan, kemudian dia menaiki tunggangannya bersama Hajar dan Ismail. Tetapi ke mana dia akan pergi membawa mereka? Ibrahim as pergi ke tempat yang telah diperintahkan oleh Allah swt. Akhirnya dia sampai ke suatu tempat yang tandus lagi kering, yang tidak ada padanya tumbuh-tumbuhan dan tidak ada tempat bernaung. Ibrahim as menyuruh Hajar membuat kemah di padang pasir itu. Kemudian dia berdoa semoga Allah swt memelihara Hajar dan anaknya.

Setelah itu Ibrahim as meninggalkan mereka di bumi yang tandus itu tanpa bekalan, air dan kurma yang cukup untuk bisa bertahan lama. Ibrahim as pergi meninggalkan mereka dengan mengucapkan selamat tinggal kepada keduanya. Hajar mengikutinya dan memegang bajunya seraya berkata: “Kepada siapa engkau serahkan kami?” Ibrahim as tidak menjawab satu kata pun, kemudian Hajar bertanya lagi: “Adakah Allah yang memerintahkanmu untuk berbuat demikian kepada kami?’ Ibrahim as berkata: “Ya.” Kemudian Hajar berkata: “Kalau begitu, Allah swt tidak akan menyia-nyiakan kami.” Air dan buah kurma yang dibawa oleh Hajar telah habis, sedangkan padang pasir yang panas lagi kering itu tidak dapat membekalkan suatu apapun. Hajar tahu anaknya Ismail sangat haus, maka dia memandang ke arah bukit yang terdekat di lembah itu. Kemudian dia naik ke atas bukit dengan harapan dia dapat mendengar suara atau melihat manusia. Tetapi dia tidak melihat atau mendengar suatu apapun.

Ketika dia sudah sampai di atas bukit, dia teringat kepada anaknya, lalu dia turun, karena takut terjadi sesuatu yang tidak diingini terjadi kepada anaknya. Setelah melihat keadaan anaknya dia kembali lagi ke atas bukit. Begitulah Hajar berlari-lari antara bukit Shafa dan Marwah. sebab itu, dia adalah orang pertama melaksanakan Sa’i di antara Shafa dan Marwah. Dalam pelaksanaan haji, berlari antara Shafa dan Marwah merupakan salah satu rukun haji sebagai mengingat peristiwa kesusahan yang dialami oleh Hajar, seorang ibu yang sanggup berkorban demi anaknya. Setelah Ibrahim as meninggalkan Hajar dan Ismail, dia berdoa:

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak ada tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, hai Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur”.(QS. Ibrahim:37)

Hajar turut berdoa kepada Allah swt, maka dengan keberkatan doa kedua hamba Allah swt yang shalih itu, Allah swt memperkenankan doa mereka, di mana ketika bekalan air telah kehabisan, maka dengan rahmat Allah swt terpancar air dari bawah bumi dari bekas pukulan kaki Ibrahim. Melihat air yang terpancar itu, Hajar bersujud sebaga tanda syukurnya kepada Allah swt.

Kemudian dia dan anaknya meminum air itu dengan sepuas-puasnya. Air mata air yang berkah inilah yang disebut perigi zam-zam yang masih ada hingga hari ini. Perigi zam-zam digunakan oleh para tamu Allah swt untuk diminum ketika melaksanakan ibadah haji. Sebagaimana diketahui bahwa perigi atau air mata air yang terdapat di bumi yang gersang selalu mengundang burung-burung untuk datang kepadanya, begitu juga halnya dengan perigi zam-zam, di mana banyak burung-burung yang singgah di sekitarnya.

Pada suatu hari, Qabilah Jurhum berjalan di sekitar perigi Zamzam. Tiba-tiba mereka melihat burung-burung yang berterbangan di kawasan itu, pada hal, sepanjang perjalanan mereka yang berulang kali, mereka belum pernah melihat burung di kawasan itu, lalu mereka berkata: “Burung tidak akan berkeliling dan tidak akan hinggap pada suatu tempat kecuali padanya ada air.” Kemudian mereka mengutus salah seorang untuk memastikannya. Maka tatkala utusan itu sampai di kawasan sekitar perigi Zamzam, dia menjumpai air yang terpancar dari sebuah perigi. Kemudian dia kembali menemui kaumnya dan memberitahukan apa yang telah dilihatnya. Kabar gembira itu menyebabkan mereka pergi ke perigi zam-zam. Mereka menemui Hajar seraya berkata: “Jika engkau suka, kami akan menemanimu dan tinggal bersamamu di tempat ini, dan air ini tetap milikmu”. Hajar membenarkan mereka tinggal bersamanya dan menetap di tempat suci itu.

Berdasarkan kisah ini, Qabilah Jurhum adalah qabilah yang pertama menetap di Makkah al-Mukarramah. Mereka menetap di tempat itu bersama Hajar dan Ismail as sehingga Ismail as dewasa. Kemudian Hajar meninggal dunia, sementara Ismail menikah dengan seorang perempuan dari Qabilah Jurhum. Berhubung karena Hajar dan Ismail as hidup di kalangan Qabilah Jurhum, maka mereka dapat menguasai Bahasa Arab dengan baik. Sebab itulah Hajar disebut ibu orang-orang Arab.

Kisah tentang penyembelihan Ismail as diketahui oleh Hajar. Meskipun dia sedih tetapi dia menyetujuinyanya. Ketika itu datang Iblis menemui Hajar seraya berkata: “Adakah engkau tahu ke mana Ibrahim membawa anakmu?” Hajar menjawab: ‘Dia pergi untuk mencari kayu api di lembah ini.” Iblis berkata: “Demi Allah swt, Ibrahim membawanya untuk disembelih.” Hajar menjawab: “Itu tidak mungkin, karena Ibrahim lebih sayang kepadanya dari aku dan dia malu melakukan yang demikian?” Iblis berkata: “Sesungguhnya Ibrahim menyangka bahwa Allah swt memerintahkannya untuk melakukan yang demikian.” Hajar berkata dengan penuh kesabaran dan keimanan:

“Jika Allah swt memerintahkannya melakukan yang demikian, bermakna dia menjunjung perintah Allah swt dan mematuhi perintah-Nya”. Mudah-mudahan Allah swt memberi rahmat kepada Hajar, ibu orang-orang Arab dan wanita yang sanggup mengorbankan anaknya. Sebab itu, Hajar adalah contoh teladan yang baik untuk dijadikan sebagai ikutan dalam mentaati suami.

 

Referensi:

Buku ULUMUL QUR’AN Kajian Kisah-Kisah Wanita dalam Al-Qur’an. Penulis Muhammad Roihan Nasution.