Ibrahim as telah melakukan tantangan keras terhadap raja yang angkuh dan ganas di Iraq, raja yang mengaku dirinya tuhan. Ibrahim as berusaha mematahkan dakwaan raja yang bodoh itu, yaitu raja Babil an-Namrud bin Kan’an bin Kusy bin Sam bin Nuh as. Pada masa itu, Namrud adalah seorang raja yang populer. Para ahli sejarah menganggap bahwa Namrud adalah salah seorang dari dua raja kafir yang paling populer di dunia yaitu Namrud dan Bukhtanshar. Manakala dua raja Mukmin yang paling populer di dunia adalah Sulaiman as dan Zulqarnain. Dalam sejarah, Namrud memerintah Babil selama empat ratus tahun. Pemerintahannya penuh dengan kezaliman, penganiayaan dan penindasan. Namrud adalah seorang raja yang sombong, congkak dan raja yang mengutamakan kesenangan dunia dari iman kepada Allah. Oleh karena itu, wajarlah Allah swt mengutus seorang Rasul yang akan memberinya petunjuk dan membawanya ke jalan yang benar lagi diridhoi Allah swt.
Inilah sunnah Allah swt terhadap makhluknya, yakni Allah swt mengutus seorang Rasul yang akan mengajak manusia ke jalan yang benar, jalan yang lurus, dan juga mendorong manusia untuk melakukan kebaikan dan mengajak mereka supaya berakhlak mulia demi keselamatan mereka dari tipu daya syaitan. Allah swt mengutus Ibrahim as kepada Namrud yang congkak dengan tujuan mengajaknya supaya beriman kepada Allah swt dan beribadah kepada Tuhan yang Maha Esa. Tetapi kebodohan dan kesombongan raja itu, dia menolak agama yang dibawa oleh Ibrahim as, Bahkan sebaliknya dia mengemukakan berbagai alasan sekalipun tidak dapat diterima oleh akal bahwa dirinya adalah Tuhan. Ketika Ibrahim as berkata: “Tuhanku adalah Tuhan yang menghidupkan dan mematikan”. Namrud berkata: “Aku pun dapat menghidupkan dan mematikan.” Dia mencontohkannya dengan dua orang yang dijatuhi hukuman mati, maka jika dia memerintahkan untuk membunuh salah seorang dari keduanya, berarti dia telah mematikan salah seorang dari keduanya dan menghidupkan yang lain.
Ibrahim as berhasil mematahkan alasan dan hujjah Namrud dengan mengatakan:
“Maka sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat”.(QS. Al-Baqarah:258)
Mendengar pertanyaan Ibrahim as itu, raja itu bingung dan membisu seribu bahasa.
“Maka terdiamlah orang kafir itu, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim ” .
Semenjak kejadian itu, Namrud menyimpan rasa dendam yang sangat dalam terhadap Ibrahim as. Hal itulah yang menyebabkan Ibrahim as bertekad bulat hendak berhijrah kepada Allah dan menjauhkan diri dari Namrud. Ketika Ibrahim as hendak meninggalkan kaumnya, dia berkata:
“Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku (kepadaku). Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Perkasa dan Bijaksana”.(QS. Al-Ankabut:26)
Ibrahim as berangkat ditemani istrinya Sarah yaitu wanita yang pertama membenarkan dakwahnya dan anak saudaranya Lut as yang telah terlebih dahulu beriman kepadanya. Mereka berhijrah dengan membawa bekal yang dapat memenuhi keperluan mereka. Tidak lama kemudian mereka sampai di Hurran, yaitu salah satu tempat yang terletak di antara Iraq dan Palestin. Kemudian mereka meneruskan perjalanan ke Palestin dengan harapan dapat memperoleh keperluan mereka di sana. Belum berapa lama Ibrahim as tinggal di Palestin, seluruh bumi Palestin ditimpa kemarau. Yang mengakibatkan penduduk Pelastin hidup dalam kesusahan karena harga barang di pasaran semakin bertambah mahal. Kesusahan hidup yang berlarutan, membuat Ibrahim as bersama istrinya Sarah dan Lut as berhijrah lagi ke Mesir.
Pada waktu itu Mesir di bawah pemerintahan al-Haksus yaitu seorang raja yang zalim. Sarah adalah seorang wanita cantik lagi muda. Lebih dari itu, kecantikan wajahnya dihiasi dengan keimanan yang menyebabkan wajahnya semakin berseri-seri. Kecantikan yang dimiliki Sarah menyebabkan banyak laki-laki yang ingin memilikinya. Pada suatu hari, pengawal raja yang zalim itu melihat Sarah bersama suaminya Ibrahim as lalu dia menceritakan kecantikannya kepada al-Haksus dengan tujuan supaya raja itu tertarik kepada Sarah. Kata-kata lakilaki itu mulai masuk ke dalam hati raja itu. Akhirnya dia bertekad untuk memenuhi hasratnya untuk memiliki Sarah. Kemudian raja itu memanggil Ibrahim as untuk membicarakan sesuatu perkara penting. Tetapi Ibrahim as telah terlebih dahulu mengetahui maksud dan tujuan al-Haksus.
Ketika Ibrahim as sampai di depannya, al-Haksus bertanya tentang hubungan Ibrahim as dengan Sarah. Ibrahim as sadar bahwa seandainya dia memberi tahukan perkara yang sebenarnya, dia akan disiksa dan dianiaya. Oleh sebab itu, Ibrahim as menjawab: “Dia adalah adikku.” Mendengar jawabannya, al-Haksus tahu bahwa Sarah belum menikah, maka dia pun segera memerintahkan pengawal dan pembantunya untuk membawa Sarah ke istana dan menyediakan kamar dan tempat yang istimewa untuknya.” Ibrahim as dengan segera pergi menemui Sarah untuk menceritakan apa yang telah terjadi dan memperingatkannya sebagai berikut: “Jika raja itu bertanya tentang hubungan kita, katakanlah bahwa engkau adikku dan janganlah engkau nafikan pengakuan yang telah aku nyatakan di depannya.” Tidak lama kemudian, para pengawal al-Haksus datang untuk membawa Sarah ke istana. Tatkala raja itu melihat Sarah, dia bermaksud untuk menyentuhnya.
Maka atas pertolongan Allah swt tangan al-Haksus terasa terbelenggu dan akhirnya tangannya menjadi lumpuh sehingga dia tidak dapat berbuat apa-apa. Kemudian alHaksus berkata kepada Sarah: Hai Sarah, doakanlah kepada Allah agar tanganku lepas dan sembuh, setelah itu aku tidak akan menyentuhmu. Mendengar kata-kata al-Haksus, Sarah mendoakannya. Permohonan Sarah itu diterima oleh Allah swt, maka Allah swt melepaskan tangan al-Haksus dan sakitnya hilang. Tetapi al-Haksus yang memang dikenal dengan kezalimannya, tidak mengambil pengajaran dari apa yang telah tejadi. Sebaliknya dengan berani, dia menghampiri Sarah dengan maksud hendak menyentuhnya. Tiba-tiba tangannya lumpuh pada kali kedua. Dan sekali lagi dia meminta pertolongan Sarah. Katanya: “Hai Sarah, doakanlah kepada Allah semoga tanganku sembuh, dan aku berjanji tidak akan menyentuhmu lagi”. al-Haksus mengulangi perbuatannya untuk kali ketiga. Akibatnya tangan alHaksus menjadi lumpuh kembali. Dia berteriak kepada Sarah meminta pertolongan supaya Sarah mendoakannya untuk kali yang terakhir. Al-Haksus berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.
Sarah yang baik hati, berdoa sekali lagi kepada Allah swt, maka penyakit al-Haksus disembuhkan oleh Allah swt. Kemudian al-Haksus berteriak memanggil para pengawalnya seraya berkata: “Bawa dia dari sini dan biarkan dia pergi.” Ketika pengawal itu datang, al-Haksus berkata kepadanya: Sesungguhnya engkau telah membawa syaitan ke mari, bukan manusia. Keluarkan dia dari bumiku ini.” Setelah itu al-Haksus tahu bahwa Sarah sebenarnya telah bersuami dan dia harus dibebaskan dan dibiarkan pergi. Malah al-Haksus sadar bahwa Sarah tidak boleh disentuh. Oleh karena itu, dia membebaskan Sarah, dan menghadiahkan seorang hamba cantik bernama Hajar kepada Sarah untuk berbakti kepadanya.
Di Mesir, Ibrahim as berhasil memperoleh kebahagiaan dan kesenangan. Hartanya semakin bertambah banyak, karena dia gigih bekerja mencari rezeki. Kekayaan dan kesenangan yang dinikmati Ibrahim as sekeluarga membuatnya tidak terlepas dari hasad dan dengki orang-orang yang di sekelilingnya. Ibrahim as tahu bahwa kedengkian mereka padanya adalah disebabkan oleh karunia yang diberikan Allah swt. Sebagai seorang hamba yang salih, Ibrahim as senantiasa bersyukur dan berterima kasih kepada Allah swt yang telah memperkenankan doanya sewaktu Sarah di dalam genggaman raja yang zalim itu. Ibrahim as terus menerus berdoa semoga Allah memelihara dan menyelamatkan istrinya dari kejahatan orang yang berniat buruk kepada istrinya. Sarah pula turut bersyukur dan berterima kasih kepada Allah swt atas nikmat-Nya tang tidak terhingga. Sarah tidak dapat melupakan kejadian yang berlaku ke atas dirinya ketika berada dalam kuasa raja yang zalim itu. Lebihlebih lagi ketika mengenang kejahatan raja yang bermaksud hendak merampas kehormatan dirinya. Demi membuktikan ketaatannya kepada yang Maha Pencipta, Sarah berwuduk lalu menunaikan shalat dan berdoa kepada Allah swt.
“Jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu”. (QS. Al-Baqarah:45)
Sewaktu Ibrahim as dan Sarah berpisah, Allah swt membuka hijab bagi Ibrahim. Ibrahim as dapat melihat semua yang terjadi ke atas istrinya sewaktu dalam genggaman al-Haksus sampai Sarah kembali ke pangkuannya. Pertolongan Allah swt itu menambah keyakinan dan kepercayaan Ibrahim terhadap keselamatan istrinya tercinta. Allah memelihara Sarah dan menjauhkannya dari kejahatan itu agar dia tetap suci kepada hamba Allah Ibrahim as. Rasa cinta Ibrahim as terhadap istrinya membuktikan ketaatan Sarah dalam beragama dan kesungguhannya dalam melaksanakan ibadah puasa, shalat serta kesabarannya menghadapi musibah.
Selain itu, Ibrahim as mencintai istrinya karena hubungan keduanya dalam rumah tangga sangat baik, ditambah pula dangan kecantikan Sarah yang luar biasa. Dalam salah satu pendapat menyatakan bahwa Sarah adalah wanita kedua tercantik setelah Hawa ra. Setelah Ibrahim melalui kehidupan Mesir untuk sekian lama dan dia berhasil mengumpul harta kekayaan, maka tibalah saatnya Ibrahim as kembali ke Tanah Suci. Keprgian Ibrahim ke tanah sucu ditemani istrinya Sarah, Luth as, beberapa orang hamba laki-laki, dan seorang hamba perempuan bernama Hajar al-Qibtiyah al-Mesriyah. Mereka membawa harta dan binatang ternak yang terkumpul dl Mesir.
Ibrahim as menyuruh Lut as untuk membawa harta yang banyak itu ke Kota Sadum yang pada waktu itu menjadi ibu kota. Tetapi sayangnya penduduk kota itu hidup dengan penuh kejahatan dan kezaliman. Allah swt telah mewahyukan dan menyampaikan khabar gembira kepada Ibrahim as bahwa dia dan anak cucunya kelak akan memimpin dan menguasai negara. Bahkan Allah swt akan memperbanyak anak cucu Ibrahim as dan menjadikan mereka penganu agama Islam yang dapat memimpin manusia di bumi secara adil berlandaskan hukum yang ditetapkan oleh Allah swt. Dari masa itu negara-negara Arab beruntung dan bernasib baik memperolehi keistimewaan seperti itu. Ibrahim as dan Sarah hidup di Pelastin selama dua puluh tahun, namun mereka belum dikaruniai seorang anak. Bertahuntahun Sarah menanti kehadirannya, wajahnya mulai berkerut, tubuhnya mulai lemah, penglihatannya mulai kabur, impiannya belum juga menjada kenyataan. Sementara Ibrahim a.s senantiasa berdoa kepada Allah swt agar dikaruniai keturunan yang baik.
Pada suatu hari, Sarah mendatangi Ibrahim as seraya berkata: “Tuhan belum mengizinkan, engkau mendapat seorang anak dariku. Oleh itu, menikahlah dengan hamba ini. Mudah-mudahan dengan melalui dia, Allah mengkaruniai kita seorang anak.”Hamba yang dimaksud oleh Sarah itu adalah Hajar, seorang wanita yang patuh, taat, jujur, mulia, dan selalu berbakti kepadanya dan suaminya Ibrahim as. Menurut pendapat Sarah, pernikahan Ibrahim as dengan Hajar akan menyelamatkannya dari wanita lain yang ingin merampas Ibrahim as darinya, karena kejujuran dan ketulusan Hajar sebagai hamba, tidak akan menyebabkan kesan buruk kepada mereka. Ibrahim as setuju dengan permintaan Sarah itu dan dia mulai menyintai Hajar. Dengan pernikahan itu Ibrahim as semakin tekun dan khusuk dalam beribadat kepada Allah swt. Setelah beberapa tahun pernikahan Ibrahim as dengan Hajar, Hajar mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang comel lagi pintar, yaitu Ismail as. Kehadiran Ismail as memberi kebahagiaan kepada mereka. Rumah mereka senantiasa dihiasi dengan ucapan tasbih, tahmid sebagai tanda syukur kepada Allah yang Maha Esa lagi Maha Kuasa yang memberi ketenangan dan kebahagiaan.
“Kesejahteraan atasmu atas kesabaranmu, maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu”.(QS. A-Ra’ad:24)
Tetapi kebahagiaan itu tidak selamanya dimiliki, karena manusia boleh berubah dan manusia biasanya lebih mengutamakan kepentingan dirinya dari kepentingan orang lain. Itulah yang terjadi kepada Sarah, di mana tidak berapa lama setelah kelahiran Ismail, Sarah tidak dapat lagi menyembunyikan kecemburuan, kekesalan, keraguan, kesedihan dan kegelisahannya. Kemesraan yang ditunjukkannya selama ini kepada Hajar dan anaknya Ismail as tidak semanis tempo hari. Hari demi hari kemesraan itu semakin pudar, bahkan kemesraan itu seolah-olah dibuat-buat. Sarah memang patut merasa sedih dan patut meneteskan air mata, karena dia tidak memiliki anak kandung sendiri yang cantik dan pintar seperti Ismail as. Urusan makhluk berada dalam genggaman Allah swt dan di bawah kekuasaan-Nya. Ketentuan Allah tidak dapat dikawal, dipercepat atau diperlambat oleh manusia, Sebab itu Sarah tetap berusaha menahan dan menentang perasaan dan hawa nafsunya.
Adapun Ibrahim as senantiasa mendatangi Sarah agar tetap gembira dan bahagia, tetapi Sarah tidak dapat membendung kesedihannya. Sebab itu, dia meminta Ibrahim as supaya membawa Hajar dan anaknya Ismail ke tempat yang jauh agar dia tidak lagi mendengar suara Ismail, dan tidak lagi mengetahui berita tentang mereka berdua. Adapun sebab Sarah meminta kepada Ibrahim as supaya dia menjauhkan Hajar dan anaknya adalah karena cintanya terhadap Ibrahim as. Dia menginginkan agar Ibrahim as senantiasa bersamanya, dan kasih sayangnya tidak berbagi dengan orang lain. Begitulah kecemburuan seorang wanita terhadap kelebihan orang lain. Menurut Hajar permintaan Sarah itu tidak adil, karena selama ini dia seorang hamba dan pembantu yang sangat disayangi. Sampai hatikah Sarah berbuat demikian? Demi mematuhi perintah Allah swt dan mentaati wahyu-Nya, Ibrahim a.s menyetujui kehendak Sarah.
Kemudian dia menaiki tunggangannya untuk membawa Hajar dan anaknya Ismail ke tempat yang dikehendaki oleh Allah swt. Hajar sangat sulit menerimanya, karena dia terpikir betapa susahnya memelihara anaknya seorang diri. Namun Allah telah menetapkan demikian. Sesungguhnya Allah melakukan apa yang Dia kehendaki. Setelah perjalanan yang jauh, Ibrahim as berhenti di tempat yang diperintahkan oleh Allah swt. Dia berhenti di sebuah padang pasir tandus lagi kering yang kemudian tempat itu dikenal dengan nama Baitullah al-Haram. Ibrahim as berhenti dan menurunkan anak dan istrinya di tempat itu. Hajar dan Ismail diberi bekal dengan sedikit makanan dan minuman yang tidak memadai untuk hidup di padang pasir yang tandus itu. Kemudian Ibrahim as meninggalkan tempat itu menuju kediaman istrinya, Sarah di Palestin.
Demi mentaati perintah Allah swt, Ibrahim as harus kuat meninggalkan Hajar dan Ismail di lembah itu. Ketika Ibrahim as berangkat, Hajar bertanya: “Ke mana engkau pergi?” Ibrahim as tidak menjawab. Hajar mengulangi pertanyaannya sambil mengikuti Ibrahim as dan berjalan di belakangnya. Bahkan dia memegang pakaian Ibrahim as dan menghalangi suaminya dari meneruskan perjalanannya. Kemudian Hajar bertanya lagi: “Ke mana engkau pergi hai Ibrahim, dan kepada siapa engkau serahkan kami di tempat yang tandus ini?” Hajar tidak mendapat jawaban yang dapat meringankan kegelisahannya dan menenteramkan jiwanya, karena dia tahu betapa bahayanya jika dia ditinggalkan dengan anaknya yang masih kecil dalam keadaan lapar di padang pasir itu. Hidup anaknya akan terancam jika tiada air yang mencukupi. Semua ini jelas terbayang dalam fikiran Hajar. Meskipun semua usaha telah dilakukannya untuk menghalangi suaminya namun Ibrahim as tetap pergi meninggalkannya dan anaknya yang masih kecil. Akhirnya, Hajar dapat memahami bahwa Ibrahim as bertindak demikian karena mendapat wahyu dari Allah swt, dan semua itu di luar kekuasaannya. Itulah suratan takdir hidup Hajar yang penuh dengan ranjau dan duri. Oleh karena itu, Hajar bertanya untuk kali yang terakhir kepada suaminya. Pertanyaan kali ini lebih memperlihatkan keimanannya sebagai istri yang baik. Dia bertanya: “Adakah Allah yang memerintahkanmu bertindak demikian?” Dengan segera Ibrahim as menjawab: “Ya”. Hajar berkata: “Sesungguhnya Allah swt tidak akan mengabaikan kami.” Kemudian Ibrahim as meninggalkan Hajar dan Ismail.
Ketika Ibrahim as sampai di al-Thaniah, dia menadahkan kedua tangannya ke langit sambil berdoa:
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah rezeki kepada mereka dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur.”(QS. Ibrahim:37)
Kita tinggalkan kisah Hajar dan Ismail buat sementara dan kita akan lanjutkan kemudian. Sekarang mari kita lanjutkan kisah Sarah yang masih menunggu kehadiran seorang anak, sedangkan umurnya sudah lanjut.
Tamu al-Khalil
Allah swt berfirman:
Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim, Malaikat-Malaikat yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan “salam.” Ibrahim menjawab “salam”. (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal. Kemudian dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya kemudian dibawanya daging anak lembu gemuk (yang dibakar), lalu dihidangkannya kepada mereka, Ibrahim berkata: “Silahkan kamu makan” (tetapi mereka tidak mahu makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata: “Janganlah kamu takut,” dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishaq). Kemudian istrinya tercengang lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata: “(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul.” Mereka berkata: “Demikianlah Tuhanmu berfirman”. Sesungguhnya Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui”. (QS. Adz-Dzariyat :24-30)
Hari itulah hari yang paling bersejarah bagi Sarah, karena pada hari itu dia memperoleh nikmat yang besar. Seorang wanita tua yang mandul mendapat kabar gembira bahwa dia akan memperoleh seorang anak. Dan pada hari itu juga Allah swt memerintahkan supaya desa kaum Lut as yang didiami oleh orang-orang yang aniaya dan zalim dihancurkan.
Ketika Ibrahim as sedang melaksanakan shalat dan berta’abbud kepada Allah swt di rumahnya, tiba-tiba tiga orang pemuda yang takwa dan khusyu’ yang kelihatan dari kaumnya datang ke rumahnya. Mereka mengucapkan salam kepada Ibrahim as dan Ibrahim as menjawab: “Kesejahteraan atas kamu juga,” sambil memandang wajah mereka dengan teliti. Kemudian Ibrahim as menyediakan tempat duduk yang baik kepada mereka. Ketiga tamu itu adalah Malaikat Jibril, Mikail dan Israfil. Setelah Ibrahim as mempersilakan para tamu itu masuk, Ibrahim as terus ke kandang ternak yang berisi kambing, lembu dan anak-anak lembu yang gemuk. Sedangkan Sarah dalam keadaan ketakutan melihat mereka. Ibrahim kemudian memilih seekor anak lembu yang paling baik. Kemudian anak lembu itu dibakarnya dengan baik agar baunya merangsang selera para tamunya. Setelah semua dipersiapkan, Ibrahim as dan Sarah menghidangkan makanan itu di depan para tamu yang mereka tidak mengenalnya. Ibrahim as mendekatkan makanan itu lalu mempersilahkan mereka untuk menikmatinya.
Dia berkata: “Makanan ini enak, karena dibakar di atas batu yang panas. Makanlah, “Malaikat itu berkata:“Hai Ibrahim, kami tidak makan kecuali ada bayaran.” Ibrahim as berkata: “Makanan ini ada bayaran, jangan kamu takut, makanlah.” Jibril bertanya: “Apa bayarnya?” Ibrahim as menjawab: “Kamu ucapkan bismillah ketika mulai makan dan alhamdulillah setelah selesai makan.”Malaikat Jibril memandang Malaikat Mikail seraya berkata: “Patutlah Tuhan menjadikan laki-laki ini sebagai kekasihnya.” Ibrahim as menunggu seketika, ternyata mereka tidak mau makan. Ibrahim as terkejut dan rasa takut mulai datang. Ketika Sarah melihat para tamunya tidak menyentuh makanan yang telah disediakan dia berkata:“Sesungguhnya tamu kita ini sangat mengherankan. Kita sediakan makanan untuk mereka dan kita hormati mereka, tetapi mereka tidak mau menyentuh makanan itu.”Sarah berdiri di depan para tamu itu, sementara Ibrahim as pula terus menawarkan makanan yang telah dihidangkan, tetapi para tamu itu tetap tidak mau makan, karena mereka tidak membutuhkan makanan. Kemudian Jibril menyentuh anak lembu yang telah di bakar itu dengan sayapnya, lalu lembu itu berdiri dan berjalan mengejar induknya yang ada di dalam kandang. Ibrahim as terkejut melihat para tamunya. Jibril dan sahabat-sahabatnya berkata:
“Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah Malaikat-Malaikat yang diutus kepada kaum Luth”. (QS. Hud:70)
Kami adalah Malaikat yang ditugaskan malam ini untuk membinasakan kaum Luth tanpa mereka sadari apa yang akan terjadi ke atas diri mereka, karena mereka telah merusak di muka bumi. Dengan izin Allah swt kami akan membinasakan mereka dan rumah-rumah mereka akan hancur seperti sampah yang berterbangan, maka tidak ada seorang pun yang selamat dari bencana itu. Inilah tugas kami hai Ibrahim as Sebab itu jangan engkau takut. Sesungguhnya kami adalah utusan Tuhan dan Malaikat-Nya. Sarah ketawa dan gembira atas kehancuran kaum Luth as yang semakin ingkar dan zalim, padahal mereka mengetahui bahwa azab Allah swt akan datang.
Luth as telah menasehati kaumnya, tetapi mereka tidak pernah takut akan azab yang akan menimpa mereka. Mereka lebih suka menuruti kemauan syaitan dan mengutamakan seks sesama laki-laki tanpa menyadari bahwa mereka telah kehilangan harga diri dan peradaban manusia. Sewaktu Sarah dalam kegembiraannya mendengar kehancuran kaum Luth, tiba-tiba Malaikat itu menyampaikan berita gembira tentang kelahiran seorang bayi bernama Ishaq as dan kemudian Ya’qub as. Mendengar berita gembira itu Sarah segera keluar dari rumah sambil berteriak menampar-nampar mukanya yang biasanya dilakukan oleh para wanita waktu itu ketika mendengar kabar gembira. Kemudian Sarah berkata: “Hal ini sungguh mengejutkan. Apakah aku akan melahirkan anak, sedang aku seorang wanita tua, dan suamiku pula telah mencapai 90 tahun? Mungkinkah hal ini bisa terjadi?” Sesungguhnya hal ini sungguh luar biasa.” Para Malaikat itu menjawab:
“Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? Itu adalah rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan-Nya atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.”
Sebagaimana Sarah heran dan bingung, Ibrahim as juga heran lalu melontarkan pertanyaan: “Aku mendengar bahwa kamu datang membawa kabar gembira. Bagaimanakah itu bisa terjadi ?”
“Dia berkata: Apakah kamu memberi khabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut. Maka dengan cara bagaimanakah (terlaksananya) berita gembira yang kamu khabarkan?”
Para Malaikat menjawab:
“Kami menyampaikan khabar gembira kepadamu dengan benar. Maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa”.
Para Malaikat menyampaikan kabar gembira bahwa bayi yang akan lahir itu adalah seorang anak laki-laki yang alim, penyabar dan lemah lembut seperti ayahnya Ibrahim as. Itulah dia Ishaq as saudara Ismail as. Kabar gembira yang diterima oleh Ibrahim dan Sarah itu bukan saja berita tentang kelahiran Ishaq saja, tetapi mereka juga dikabarkan tentang kelahiran Yaqub anak Ishaq. Para Malaikat itu mengakhiri pembicaraan mereka dengan menjelaskan bahwa Allah swt akan melimpahkan rahmat dan keberkatan kepada keturunan Ibrahim as dan Sarah serta agama Ibrahim as akan diikuti oleh para anak-anak dan cucunya. Dengan pernyataan para Malaikat itu, Ibrahim as dan Sarah sangat gembira, Kemudian Sarah yang pada waktu itu berumur 90 tahun.mulai terasa bahwa dia telah mengandung anak yang sekian lama ditunggu-tunggunya, sementara Ibrahim as terus menerus bersyukur dan berdoa kepada Allah Salu wt dengan mengucapkan:
“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tuaku Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Mendengar (Memperkenankan) doa. Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya (hari kiamat)”.
Bertahun-tahun lamanya Ibrahim as menanti kehadiran Ishaq as. Tibalah saatnya Ishaq dilahirka oleh Sarah. Hari berganti hari dan tahun berganti tahun, Ishaq semakin besar dan menjadi anak muda tampan yang layak untuk berumah tangga. Allah swt memanjangkan umur Sarah dan memberinya kesehatan dan kekuatan tubuh sehingga dia dapat menyaksikan Ishaq menikah dengan seorang perempuan bernama Rifqa binti Batwabil. Kemudian Ishaq senantiasa berdoa agar dia dikaruniai seorang anak. Maka dengan berkat doanya, Rifqa hamil dan melahirkan dua orang putra kembar. Salah seorang dari keduanya bernama Ya’qub. Sarah sangat gembira dengan kehadiran cucunya. Keterlambatan Sarah mendapatkan anak mempunyai rahasia yang tersirat, yaitu dia dikaruniai umur yang panjang sehingga dia dapat menyaksikan anaknya pada masa kanak-kanak, remaja, dan dewasa sampai diangkat menjadi Rasul. Bertahun-tahun lamanya Sarah hidup bersama Ibrahim as dan dia sempat menyaksikan pembinaan Bait al-Maqdis. Setelah seratus tiga puluh tahun, atau seratus dua puluh tujuh tahun menurut pendapat yang lain, wanita yang senantiasa senyum itu menghembuskan nafas yang terakhir di kota al-Khalil di Palestin. Dia telah berbakti kepada suami, anak-anak dan cucunya. Mudah-mudahan Allah melimpahkan rahmat dan keberkatan kepada Sarah dan kepada ahlul bait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Mulia.
Referensi:
Buku ULUMUL QUR’AN Kajian Kisah-Kisah Wanita dalam Al-Qur’an. Penulis Muhammad Roihan Nasution.