Dua wanita yang diceritakan dalam ayat ini akan menanggung azab yang pedih. Mereka ialah istri Nabi Nuh as dan istri Nabi Luthh as. Meskipun mereka berdua hidup di bawah naungan dua orang laki-laki soleh, namun mereka celaka dan dilaknat, karena mereka tidak mendapat pertunjuk dan tidak beriman kepada Allah swt serta mereka menentang dan khianat kepada suami dan agama yang dibawa oleh suami mereka. Allah swt berfirman:
“Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)”.
Inilah kisah wanita pertama yang disebutkan dalam al-Qur’an, yaitu Istri Nabi Nuh as. Allah swt berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia berkata: “Wahai kaumku, sembahlah Allah swt, tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah swt) aku takut kamu ditimpa azab hari yang besar (kiamat)”. (QS. Al-araf:59)
Nabi Nuh as membawa ajaran yang mengajak manusia kepada mengesakan Allah swt. Allah swt firman:
“Dan sesungguhnya kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata): Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu. Agar kamu tidak menyembah selain Allah swt. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan”. (QS.Hud:25-26)
Setelah Nuh menyampaikan dakwahnya, terjadi perdebatan antara Nabi Nuh as dengan kaumnya. Mereka berkata:
“Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata”.(QS. Al-A’raff:60)
Mereka berkata juga berkata:
“Maka pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya berkata: “Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami”. (QS. Hud:27)
Mereka juga berkata:
“Dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina di antara kami yang lekas percaya, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang berdusta”. (QS.Hud:27)
Mereka menuduhnya seorang yang sesat dan mereka berkata kepadanya: “Sesungguhnya engkau manusia biasa seperti kami, dan kami tidak percaya bahwa engkau seorang yang terpilih untuk menyampaikan dakwah kepada kami, karena engkau tidak ada kelebihan dan keistimewaan dari kami, dan orang-orang yang menerima dakwahmu hanyalah dari golongan yang rendah dari segi keturunan dan kedudukan. Oleh itu, kami percaya bahwa dakwahmu itu dusta belaka. Nuh as menjawab dan memperlihatkan bukti-bukti yang nyata. Allah swt berfirman:
“Nuh berkata: “Hai kaumku, bagaimana pendapatmu, jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku, dan diberinya aku rahmat dari sisi-Nya, tetapi rahmat itu disamarkan bagimu. Apa akan kami memaksa kamu untuk menerimanya, padahal kamu tiada menyukainya”.(QS. Hud:28)
Nabi Nuh as meneruskan dakwahnya, tetapi mereka tetap menolaknya, bahkan mereka berkata kepadanya:
Mereka berkata: “Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahan terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan itu, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” (QS.Hud:32)
Perdebatan antara Nabi Nuh as dengan kaumnya tidak mendapat jalan penyelesaian, karena semua yang disampaikan Nabi Nuh as adalah perkara yang benar, sementara yang mereka sampaikan adalah perkara yang dusta. Maka Allah swt memberitahu Nabi Nuh as bahwa tidak ada di antara mereka orang yang dipercayai kecuali beberapa orang saja yang mendapat pertunjuk. “Oleh itu janganlah engkau berduka cita atas perbuatan mereka dan buatlah bahtera yang besar, kemudian jangan engkau ceritakan kepadaku tentang mereka. Sesungguhnya mereka akan karam”. Al-Qur’an al-karim telah menjelaskan perkara ini dalam firman Allah swt yang artinya:
“Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang-orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan”. (QS. Hud:36)
Inilah dakwah Nuh as. Bagaimanakah reaksi istrinya ketika melihat perdebatan yang terjadi antara Nuh dengan kaumnya? Nuh as bersusah payah mengajak kaumnya untuk mengesakan Allah swt, sedangkan kaumnya mempersembahkan kurban mereka kepada patung-patung yang mereka anggap sebagai Tuhan yang memberi rezeki dan dan memberi pertolongan. Nabi Nuh as pergi ke tempat peribadatan al-Shams, dan dia berdiri beberapa waktu di depan patung-patung yang bernama Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr. Sedangkan istrinya menyembah dan mendekatkan diri kepada patung-patung itu dengan membawa makanan dan minuman kepadanya sebagai tanda baktinya kepada patung-patung yang dibuat dari batu-batu. Tatkala Nuh as mengajak istri dan anaknya Kan’an untuk mengesakan Tuhan, mereka enggan mengikut dakwahnya. Bahkan istrinya menentang seraya berkata: “Apakah kami patut meninggalkan agama nenek moyang kami?. Nabi Nuh as berkata: Tuhan kamu tidak dapat memberi manfaat atau member kemudaratan kepada dirinya sendiri. Apakah ia sanggup memberi manfaat atau memberi kemudaratan kepada kamu dan kepada orang-orang yang menyembahnya? Bertahun-tahun lamanya istri Nabi Nuh as menentang dakwah yang dibawa oleh Nabi Nuh. Dia bersungguh-sungguh matahkan perjuangan suaminya dan menyebarluaskan fitnah di kalangan masyarakat. Bahkan dia sanggup mengatakan kepada kaumnya bahwa orang-orang yang mengikut dakwah Nabi Nuh as hanyalah dari kalangan orang-orang miskin dan lemah. Nabi Nuh as tidak pernah berputus asa, semuanya tantangan dihadapi dengan penuh ketabahan:
“Nuh berkata: Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari) kebenaran”. (QS. Nuh:5-6)
Kemudian Allah swt menjelaskan tentang keluhan Nabi Nuh as dalam al-Qur’an:
“Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka masukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan sangat menyombongkan diri. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan. Kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam. Maka aku katakan kepada mereka: “Mohonkanlah keampunan kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepada kamu dengan lebat dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah swt, padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian”. (QS. Nuh : 7-14)
Nabi Nuh senantiasa mengingatkan mereka tentang nikmat Allah swt dengan harapan mereka dapat mengambil iktibar dan pengajaran daripadanya. Allah swt berfirman:
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah swt telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat. Dan Allah swt menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita. Dan Allah swt menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya. Kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tubuh dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya. Dan Allah swt menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan. Supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu”. (QS. Nuh: 15-20)
Akhirnya Nabi Nuh as mengadukan hasil yang diperolehnya dari perdebatannya dengan kaumnya:
“Wahai Tuhanku, sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku, dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka, dan melakukan tipu daya yang amat besar, dan mereka berkata:“Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr. Dan sesudahnya mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia); dan janganlah engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan”. (QS. Nuh:21-24)
Setelah itu Nabi Nuh as menyempurnakan perintah Allah swt untuk membuat sebuah bahtera. Nabi Nuh as dan para pengikutnya bekerja mengumpul kayu dan meletakkannya di tengah-tengah kampung yang didiaminya. Semua itu disaksikan istrinya. Istrinya merasa heran dan bingung melihat fenomena itu. Lalu dia meminta penjelasan mengenai kayu yang dikumpul itu. Nabi Nuh as menjawab: “Aku akan membuat bahtera.”Istrinya bertanya: “Apa guna bahtera itu, sedangkan kita hidup di padang pasir yang tandus”. Dia menjawab: “Bahtera itu akan berlayar di lautan yang akan didatangkan oleh Allah swt. Istrinya bertanya: “Apakah diterima akal pernyataanmu itu? Apakah mungkin bahtera itu berlayar di padang pasir?” Nuh menjawab: “Sabarlah, engkau akan menyaksikannya kemudian.” Istrinya mengulang-ulang pertanyaannya, maka Nabi Nuh as menjawab: “Banjir akan terjadi dan semua bumi ini akan karam, manusia yang kafir dan takabur akan karam, sementara orang-orang mukmin yamg menaiki bahtera ini bersamaku akan diselamatkan oleh Allah swt ” Berita tentang bahtera itu menjadi hangat di kalangan kaum Nuh as, lalu mereka datang untuk menghinanya. Nabi Nuh as tidak menghiraukan kata-kata mereka, bahkan kerjanya membuat bahtera itu semakin dipercepatnya. Setiap kali mereka menghinanya, dia menjawab dengan tenang dan penuh keyakinan:
“Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu mengejek (kami). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang ditimpa oleh azab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal”.(QS. Hud: 38-39)
Hari demi hari, bahtera Nabi Nuh as sudah siap. Maka dia pergi mengumpul satu pasang dari semua jenis binatang, kemudian dia berkata kepada istrinya: “Tidak ada yang selamat dari banjir itu kecuali orang yang menaiki bahteraku ini.”Istrinya merasa takut, lalu dia berlari menemui orang-orang kafir untuk memberitahu mereka tentang apa yang telah dibut oleh Nabi Nuh as. Janji Allah swt itu benar. Semua yang dinyatakan Nuh as menjadi kenyataan apabila air terpancar dari bumi dan hujan pula tercurah dari langit. Air melimpah ruah hingga semua permukaan bumi tenggelam. Nabi Nuh as menaiki bahteranya, sementara istrinya dan anaknya Kan’an menyombongkan diri dan tidak mau menaiki bahtera Nabi Nuh as. Mereka menyombongkan diri sekalipun mereka tahu bahwa gunung-gunung dan bukit-bukit di sekeliling mereka tidak akan dapat menyelamatkan mereka. Oleh itu, istri Nuh as dan anaknya turut karam bersama kaumnya. Merekalah penghuni neraka di hari kemudian (kiamat). Inilah kesudahan kaum Nabi Nuh as. Di dunia mereka menanggung azab dan di akhirat juga mereka akan merasai azab yang lebih pedih.
Referensi:
Buku ULUMUL QUR’AN Kajian Kisah-Kisah Wanita dalam Al-Qur’an. Penulis Muhammad Roihan Nasution.