Menjual buah yang berpenyakit


وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ حَدَّثَنَا أَبُو ضَمْرَةَ عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ أَبِى الزُّبَيْرِ أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « لَوْ بِعْتَ مِنْ أَخِيكَ ثَمَرًا فَأَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ فَلاَ يَحِلُّ لَكَ أَنْ تَأْخُذَ مِنْهُ شَيْئًا بِمَ تَأْخُذُ مَالَ أَخِيكَ بِغَيْرِ حَقٍّ ». (رواه مسلم: ٤٠٥٨)

Artinya: Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abbad, telah menceritakan kepada kami Abu Dhamrah, dari Ibnu Juraij, dari Abu az-Zubair, bahwa dia mendengar Jabir bin Abdullah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika engkau menjual buah kepada saudaramu lalu buah itu terkena musibah (bencana yang merusaknya), maka tidak halal bagimu untuk mengambil darinya sesuatu pun. Dengan alasan apa engkau mengambil harta saudaramu tanpa hak?”. (HR. Muslim: 4058)