Yang Sangat Rugi di Bulan Ramadhan


حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدَّوْرَقِيُّ، حَدَّثَنَا رِبْعِيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ إِسْحَقَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

.رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ عِنْدَهُ أَبَوَاهُ الْكِبَرَ فَلَمْ يُدْخِلَاهُ الْجَنَّةَ

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ibrahim Ad Dauraqi, telah menceritakan kepada kami Rib’i bin Ibrahim, dari Abdurrahman bin Ishaq, dari Sa’id bin Abu Sa’id Al Maburi, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Celakalah seseorang, aku disebut-sebut di depannya dan ia tidak mengucapkan shalawat kepadaku. dan celakalah seseorang, Bulan Ramadhan menemuinya kemudian keluar sebelum ia mendapatkan ampunan, dan celakalah seseorang yang kedua orang tuanya berusia lanjut namun kedua orangtuanya tidak dapat memasukkannya ke dalam Surga (karena kebaktiannya).”

(HR. Tirmidzi no. 3468).

Ya Salaam… Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah mengatakan celaka, maka musibah besar bagi pelakunya! Pribadi paling lembut sedunia saja sampai mengatakan demikian! Artinya, tiga hal jika dilakukan akan membuat pelakunya merana di akhirat kelak , naudzubillah, yaitu:

  1. Orang yang tidak mau bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika nama beliau disebutkan.
  2. Orang yang mendapati bulan Ramadhan namun ia tidak diampuni dosanya sampai Ramadhan meninggalkannya.
  3. Orang yang tidak berbakti kepada orang tuanya.

Jika dilihat dari redaksi hadis di atas, kata “celaka” mungkin maknanya sama dengan “kualat” untuk konteks zaman sekarang. Kata kualat merupakan kata celaan dan laknat yang ditujukan untuk orang-orang yang melakukan dosa besar.

Orang yang tidak mau bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seakan-akan orang ini tidak mau bersyukur dengan diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seakan-akan dia tidak mau memperoleh syafaat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhirat. Dan seakan-akan dia tidak kenal siapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam padahal ia berstatus muslim. Jangankan dia, Allah dan para malaikat saja bershalawat kepada beliau. Biasakan anak kita bershalawat, terlebih ketika nama beliau disebutkan. Demi Allah, saya menulis hadis ini dengan untaian air mata rindu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berdoa agar anak keturunan kita semua adalah Ahli Shalawat dan memperoleh syafa’at beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, aamiin.

Begitu juga dengan orang yang tidak diampuni dosanya ketika Ramadhan berlalu. Di saat hamba-hamba Allah yang lainnya begitu berupaya keras untuk mendapatkan Lailatul Qadar dan ampunan Allah, dia mengabaikan kesempatan emas itu. Dia melewati Ramadhan begitu saja dengan hal sia-sia. Dia tidak bertaubat kepada Allah dimana orang lain bertaubat di bulan itu. Ibarat kehausan di tengah sungai dengan air jernihnya yang menyegarkan. Ibarat tikus mati di lumbung padi. Rugi, rugi dan rugi!

Dan satu lagi, orang yang tidak mau berbakti kepada kedua orang tua. Apakah dia tidak menyadari bahwa ridha Allah adalah ridha orang tua. Apakah dia tidak menyadari bahwa lawan dari ridha adalah murka? Apa hebatnya jika mati tapi masuk neraka? Apakah dia tidak menyadari bahwa dia ada dan hidup di dunia ini dengan segala kenikmatan karena wasilah orang tua yang melahirkan, mendidik dan membesarkannya? Pantas saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan label “celaka” untuk manusia yang modelnya seperti ini. Istilah mengatakan: Anak tak tahu di untung!

Hadis di atas adalah peringatan bagi kita semua agar memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk beribadah kepada Allah seakan-akan bahwa Ramadhan ini adalah Ramadhan terakhir kita.

Wallahu A’lam.