حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ، قَالَ: أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي الْحَسَنُ بْنُ مُسْلِمٍ، عَنْ طَاوُسٍ، عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: شَهِدْتُ الْعِيدَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَكُلُّهُمْ كَانُوا يُصَلُّونَ قَبْلَ الْخُطْبَةِ.
Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ashim, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Al Hasan bin Muslim, dari Thawus dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “Aku menghadiri shalat Hari Raya bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman radliallahu ‘anhum, bahwa mereka semua melaksanakan shalat sebelum khutbah.”
(Bukhari no. 909).
Perbedaan dalam pelaksanaan Shalat Hari Raya (Idul Fitri dan Idul Adha) dengan Shalat Jumat, diantaranya :
- Hukum Shalat Id adalah Sunah Muakkadah, adapun Shalat Jum’at adalah Wajib bagi yang tidak mengalami udzur syar’i.
- Shalat Id dilaksanakan sebelum khutbah, sedangkan Shalat Jum’at dilaksanakan setelah khutbah.
- Shalat Jum’at dan Khutbahnya adalah satu paket, artinya dua-duanya wajib dilaksanakan. Apabila khutbah tidak dilaksanakan, otomatis Shalat Jum’atnya tidak sah. Untuk Shalat Id, jika khutbahnya tidak dilaksanakan, maka Shalat Id tetap sah.
- Shalat Jum’at wajib dilaksanakan secara bejama’ah, tidak bisa sendiri-sendiri. Adapun Shalat Idul Fitri boleh dilaksanakan sendiri-sendiri, walaupun afdhalnya adalah berjama’ah.
- Khutbah pada Shalat Jum’at, Khatib wajib berdiri. Adapun dalam pelaksanaan Khutbah Shalat Id, Khatib tidak disyaratkan berdiri.
- Jika Khatib Jum’at berhadas saat khutbah (batal wudhu’), maka boleh istikhlaf (diganti dengan jama’ah lain). Khatib pengganti boleh meneruskan khutbah atau mengulang dari awal. Jika tidak istikhlaf, khatib segera mengambil wudhu’ dan wajib mengulang khutbahnya dari awal. Adapun Khatib Shalat Id tidak disyaratkan harus dalam keadaan suci dari hadas. Jika di tengah khutbah dia batal, khutbah boleh diteruskan oleh sang khatib.
- Khutbah Jum’at diawali dengan hamdalah. Adapun Khutbah Id dimulai dengan takbir.
Catatan: Sebisa mungkin untuk tetap mengikuti dan mendengarkan Khutbah Id walaupun kita sudah tahu status hukumnya. Khutbah Id itu penting, sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan para wanita yang sedang haid untuk ikut menghadiri Shalat Id agar mendengarkan khutbah.
Wallahu A’lam.
Lihat Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuhu, Wahbah Zuhaili, Dar Al-Fikr, Jil. 3 hal 381.