حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ الضُّبَعِيُّ، عَنْ كَهْمَسِ بْنِ الْحَسَنِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ، عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا؟ قَالَ:
قُولِي: اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي.
قَالَ أَبُو عِيسَى: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Ja’far bin Sulaiman Adh Dhuba’i, dari Kahmas bin Al Hasan, dari Abdullah bin Buraidah, dari Aisyah, ia berkata: Wahai Rasulullah, apabila aku mengetahui malam apakah lailatul qadr, maka apakah yang aku ucapkan padanya? Beliau mengatakan:
“Ucapkan: ALLAAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN KARIIMUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU ‘ANNII (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi Maaf dan Maha Pemurah, Engkau senang memaafkan, maka maafkanlah aku).
Abu Isa berkata: Hadits ini adalah hadits hasan shahih.
(HR. Tirmidzi no. 3435).
Untaian do’a yang begitu indah walaupun singkat. Do’a merupakan harapan seorang hamba yang begitu tulus agar Allah mengijabah. Do’a yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu sarat makna dan menggetarkan jiwa. Betapa tidak, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kita agar meminta ampunan dengan memuji Allah terlebih dahulu dengan menyebut nama-Nya, Al-Afuw (Yang Maha Pemaaf).
Seperti kita ketahui, bahwa Allah mempunyai 99 nama yang kita kenal dengan Al-Asma’ul Husna (Nama-nama Allah Yang Paling Baik). Dan kita berdo’a dengan menyebut nama-Nya terlebih dahulu sebgaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Q.S. Al-A’raf : 180 :
وَلِلَّهِ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ فَٱدْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا۟ ٱلَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِىٓ أَسْمَٰٓئِهِۦ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ.
Dan Allah memiliki Asmā’ul-ḥusnā (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebutnya Asmā’ul-ḥusnā itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.
Dalam hal mengampuni dan memaafkan , Allah Ta’ala menyebut dirinya dengan nama Al-Ghaffar, Al-Ghafur dan Al-Afuw. Apakah ada perbedaan makna di masing-masing nama tersebut?
Al Imam Abu Hamid Muhammad Bin Muhammad Al-Ghazali dalam kitab beliau Al-Maqshad Al-Asna Fi Syarh Ma’ani Asmaillah Al-Husna menjelaskan perbedaan ketiga nama tersebut sebagai berikut:
Al-Ghaffar, Allah mengampuni hamba-Nya yang melakukan dosa-dosa yang berulang dan menutupinya di dunia dan tidak menyiksa hamba tersebut di akhirat. Dia menutup keburukan hamba-Nya di dunia dan menampakkan kebaikan hamba tersebut. Sedangkan Al-Ghafur, maknaya sama dengan Al-Ghaffar, namun Al-Ghafur lebih diartikan bahwa Allah mengampni dosa hamba karena kedermawanan dan kebaikan-Nya. Dia memberikan ampunan dengan menyeluruh hingga mencapai tahap kesempurnaan dan derajat tertinggi. Sedangkan Al-Afuw (Maha Pemaaf), Allah menghapus dosa sang hamba. Maaf lebih tinggi dari ampunan. Maaf itu menghapus, sedangkan ampunan itu hanya menutupi, tidak menghapus.
Ringkasnya, Al-Ghaffar dan Al-Ghafur memiliki makna bahwa Allah mengampuni dosa hamba-Nya, tapi catatan amal keburukan sang hamba masih ada, belum terhapus. Jika nanti dihisab di Hari Akhir, catatan dosa itu tetap masih ada dan itulah yang membuat kita tetap malu di akhirat walaupun diampuni. Adapun Al-Afuw, Allah bukan hanya mengampuni dan memaafkan dosa sang hamba, tapi juga menghapus catatan dosa yang dilakukan sang hamba. dengan dihapusnya catatan dosa, maka ketika dihisab, yang nampak hanya catatan amal kebaikan saja.
Pantas kiranya Rasulullah mengajarkan do’a ini agar kita memperoleh Lailatul Qadar. Rugi sekali jika kita malas mengiba ampunan maaf Allah di 10 malam terakhir padahal Allah membuka kesempatan itu lebar-lebar kepada kita.
Kembali ke pepatah Jawa: “Mumpung Padhang Rembulan, Mumpung Jembar Kalangane.” Artinya? cari sendiri ya…
Wallahu A’lam.