Wajib Niat Sebelum Fajar


أَخْبَرَنِي الْقَاسِمُ بْنُ زَكَرِيَّا بْنِ دِينَارٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ شُرَحْبِيلَ، قَالَ: أَنْبَأَنَا اللَّيْثُ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَيُّوبَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ، عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، عَنْ حَفْصَةَ، عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:

.مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

Telah mengabarkan kepadaku Al Qasim bin Zakaria bin Dinar, dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Syurahbil, dia berkata: Telah memberitakan kepada kami Al Laits, dari Yahya bin Ayyub, dari ‘Abdullah bin Abu Bakr, dari Salim bin ‘Abdullah, dari ‘Abdullah bin ‘Umar, dari Hafshah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

“Barangsiapa yang tidak berniat puasa pada malam hari sebelum terbit fajar, tidak ada puasa baginya.”

(HR. Nasa’i no. 2291).

Niat dalam ibadah adalah masalah pokok yang tidak boleh diabaikan. Ibadah tanpa niat tentu sia-sia dan membatalkan ibadah itu sendiri.  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

.إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى

Segala amal itu tergantung niatnya dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya.”

(Muttafaq Alaihi).

Termasuk puasa, baik wajib atau sunnah, puasa Ramadhan atau puasa selainnya, wajib niat. Yang menjadi perbedaan pendapat para ulama mengenai kapan harus berniat puasa, terlebih puasa Ramadhan. Jika dilihat dari teks hadis di atas, sepintas dapat kita pahami bahwa niat puasa hanya sah dilakukan sebelum masuk waktu fajar (Subuh), jika tidak demikian maka puasa diangap tidak sah. Namun demikian, para ulama berbeda pendapat mengenai kapan (waktu) berniat untuk melakukan puasa sebagai berikut:

  • Jumhur ulama, termasuk ulama madzhab Syafi’i, Maliki dan Hambali berpendapat bahwa niat puasa wajib, baik puasa Ramadhan, puasa nadzar, puasa kafarat dan puasa qadha’ wajib berniat sebelum Subuh. Adapun waktu boleh dilakukan setelah Maghrib sampai sebelum Subuh. Artinya, orang yang sengaja maupun lupa berniat puasa wajib di malam harinya, maka puasanya tidak sah dan wajib qadha’. Adapun untuk puasa sunnah boleh diniatkan sebelum masuk waktu Zuhur, selama orang itu tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan dan minum, muntah dengan sengaja, jima’ dan lain sebagainya.
  • Madzhab Hanafi memaknai hadis di atas adalah khusus untuk puasa wajib yang waktunya boleh kapan saja saja (tidak ditentukan) seperti  puasa kafarat, puasa nadzar dan puasa qadha’. Adapun puasa wajib yang waktunya memang sudah ditentukan seperti puasa Ramadhan dan puasa sunnah seperti puasa Senin dan Kamis, puasa Syawal dan lain-lain boleh diniatkan setelah Subuh sampai dengan sebelum Zuhur.  Artinya, orang yang lupa berniat puasa Ramadhan sebelum Subuh, boleh berniat selepas Subuh sampai sebelum Zuhur.

Adapun niat puasa Ramadhan adalah:

.نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ اَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هذِهِ السَّنَةِ ِللهِ تَعَالَى

“Nawaitu shauma ghodin ‘an adaa’i fardhi syahri romadhoona hadihis-sanati lillahi ta’aalaa.”

Artinya: “Saya niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban di bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah Ta’ala.”

Bagaimana solusinya jika suatu hari di bulan Ramadhan kita lupa berniat pada malam harinya?

Ada keringanan di dalam madzhab Maliki bahwa sah berniat di awal malam bulan Ramadahan untuk berniat puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan. Jika mengambil pendapat ini, maka tidak wajib berniat tiap malam untuk berpuasa  Ramadhan. namun sebagai tindakan kehati-hatian, hendaknya tetap berniat tiap malam bulan Ramadhan untuk berpuasa.

Niat puasa Ramadhan sebulan penuh:

نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ رَمَضَانَ كُلِّهِ لِلهِ تَعَالَى.

“Nawaitu shauma syahri Ramadhaana kullihi Lillahhi Ta’aalaa”

Artinya: “Aku berniat puasa Ramadhan sebulan penuh karena Allah Ta’ala.

Wallahu A’lam.