Q.S. Al-Baqarah : 184
شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ.
“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).”
Hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ يَزِيدَ، حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ، عَنْ أَبِي حَصِينٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: كَانَ يَعْرِضُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
.الْقُرْآنَ كُلَّ عَامٍ مَرَّةً فَعَرَضَ عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ فِي الْعَامِ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ
Telah menceritakan kepada kami Khalid bin Yazid, telah menceritakan kepada kami Abu Bakr, dari Abu Hushain, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, ia berkata:
“Biasa Jibril mengecek bacaan Al-Qur`an Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sekali pada setiap tahunnya. Namun pada tahun wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Jibril melakukannya dua kali.
(HR. Bukhari 4614).
Salah satu faktor yang menyebabkan bulan Ramadhan menjadi bulan paling mulia adalah karena Al-Qur’an diturunkan pada malam hari di bulan tersebut. Menurut pendapat para ulama, hadits di atas menggambarkan betapa Nabi Shallalhu ‘Alaihi Wa Sallam mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an di setiap bulan Ramadhan. Bahkan di bulan Ramadhan terakhir sebelum beliau wafat, Jibril menyimak (mengecek) bacaan Al-Qur’an Rasulullah sebanyak dua kali. Melalui hadits inilah para ulama zaman dahulu berlomba-lomba mengkhatamkan di bulan Ramadhan. Para ulama lebih menyibukkan diri mereka untuk mengkhatamkan Al-Qur’an dibanding mengajar seperti biasanya selain di bulan Ramadhan, bahkan tidak sedikit dari mereka yang menutup sementara pengajiannya dalam rangka mengkhatamkan Al-Qur’an. Di Indonesia, penutupan sementara untuk majelis ta’lim di bulan Ramadhan disebut dengan ‘Tawaqufan” dan nanti dibuka kembali setelah sepekan atau dua pekan pasca hari raya Idul Fitri.
Seperti kita ketahui bahwa pahala puasa di bulan Ramadhan berlipat-lipat di banding puasa sunnah di bulan selainnya. Satu huruf Al-Qur’an bernilai satu kebaikan dan dilipat gandakan menjadi 10, walaupun dibaca oleh orang yang tidak berpuasa. Jika dibaca oleh orang yang berpuasa, tentu pahalanya lebih berlipat, tidak mungkin sama dengan orang yang sedang tidak berpuasa. Inilah mungkin yang menjadi motivasi para ulama dahulu untuk mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an lebih dari satu kali di bulan Ramadhan.
Para ulama yang biasa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan, diantaranya:
- Imam Syafi’i Rahimahullahu Ta’ala mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 60 kali selama bulan Ramadhan. Jika 60 kali, maka beliau mengkhatamkan Al-Qur’an dua kali setiap hari.
- Imam Bukhari mengkhatamkan Al-Qur’an di siang hari dan setelah shalat tarawih beliau khatam setiap tiga malam.
- Qatadah Ibn Da’amah (Tabi’in) murid dari Ibn Mas’ud, Anas Ibn Maik dan Ibn Abbas, beliau mengkhatamkan Al-Qur’an setiap 3 hari, untuk sepuluh hari terakhir, beliau mengkhatamkannya setiap hari.
- Dan masih banyak para ulama dahulu yang melakukan hal yang sama.
Wallahu A’lam.