إِذَا صَامُوْا رَمَضَانَ وَخَرَجُوْا إِلَى عِيْدِهِمْ يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: يَا مَلَائِكَتِي كُلُّ عَامِلٍ يَطْلُبُ أَجْرَهُ، وَعِبَادِيَ الَّذِيْنَ صَامُوْا شَهْرَهُمْ وَخَرَجُوا إِلَى عِيْدِهِمْ يَطْلُبُوْنَ أُجُوْرَهُمْ، إِشْهَدُوا أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ. فَيُنَادِي مُنَادٍ: يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ ارْجِعُوا إِلَى مَنَازِلِكُمْ قَدْ بُدِّلَتْ سَيِّآتِكُمْ بِالْحَسَنَاتِ. فَيَقُولُ اللهُ تَعَالَى: يَا عِبَادِي صُمْتُمْ لِي وَأَفْطَرْتُمْ لِي فَقُوْمُوا مَغْفُوْرًا لَكُمْ
“Apabila orang-orang itu berpuasa pada bulan Ramadan lalu keluar menuju (shalat) hari raya, maka Allah Ta‘ala berfirman: Wahai malaikat-malaikat-Ku, tiap-tiap orang yang beramal meminta pahalanya. Dan juga hamba-hamba-Ku yang telah berpuasa pada bulan (Ramadan), dan keluar menuju (shalat) hari raya, mereka meminta pahala-pahala mereka, maka saksikanlah olehmu sekalian, bahwa Allah benar-benar telah mengampuni mereka. Maka terdengarlah seruan, ‘Wahai umat Muhammad, kembalilah kamu sekalian ke rumahmu masing-masing! Sesungguhnya kesalahan-kesalahanmu telah diganti dengan kebaikan-kebaikan.’ Kemudian Allah Ta‘ala berfirman, ‘Wahai hamba-hamba-Ku, kamu sekalian telah berpuasa untuk-Ku, maka bangkitlah kamu dalam keadaan telah mendapatkan ampunan.’”
Takhrij Hadis:
Hadis dengan redaksi seperti ini belum dapat ditemukan. al-Khubawi menukilnya dari kitab Zubdah al-Wa‘izin.[1] Namun terdapat satu riwayat al-Bayhaqi dalam Fada’il al-Awqat melalui Hisham bin al-Walid, yaitu seorang shaykh yang di-kuniah-kan dengan Abu al-Hasan, dari al-Dahhak dari Ibn ‘Abbas dalam Hadis yang panjang di dalamnya terdapat redaksi:
إِذَا كَانَتْ غَدَاةُ الْفِطْرِ بَعَثَ اللهُ الْمَلَائِكَةَ فِي كُلِّ بِلَادٍ، فَيَهْبِطُوْنَ إِلَى الأَرْضِ فَيَقُوْمُوْنَ عَلَى أَفْوَاهِ السَّكَكِ فَيُنَادُوْنَ بِصَوْتٍ يَسْمَعُ مِنْ خَلْقِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا الْجِنَّ وَالْإِنْسَ فَيَقُوْلُوْنَ: يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ، اخْرُجُوا إِلَى رَبٍّ كَرِيْمٍ يُعْطِي الُجَزِيْلَ يَعْفُوْ عَنِ الذَّنْبِ الْعَظِيْمِ. فَإِذَا بَرَزُوْا إِلَى مُصَلَّاهُمْ يَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: مَا جَزَاءُ الْأَجِيْرِ إِذَا عَمِلَ عَمَلَهُ؟ قَالَ: فَتَـقُوْلُ الْمَلَائِكَةُ: إِلَهَـنَا وَسَيِّدَنَا جَزَاءُهُ أَنْ تُوَفِّيَهُ أَجْرَهُ. قَالَ: فَيَقُـوْلُ: فَإِنِّي أُشْـهِدُكُمْ يَا مَلَائِكَتِي إِنِّي قَدْ جَعَلْتُ ثَوَابَهُمْ مِنْ صِيَامِهِمْ شَهْرَ رَمَضَانَ وَقِيَامِهِمْ رِضَايَ وَمَغْفِرَتِي .[2]
al-Tabarani meriwayatkan Hadis seperti riwayat al-Bayhaqi ini dalam al-Kabir dari Aws al-Ansari, sebagaimana yang disebutkan oleh al-Mundhiri.[3]
Hukum Hadis: Munkar, amat da‘if.
Penahkik kitab Fada’il al-Awqat mengatakan bahwa dua perawi pada sanad al-Bayhaqi belum dapat ditemukan. Perawi yang dimaksud adalah Hisham bin al-Walid dan Hammad bin Sulayman al-Sadusi.[4] Sedangkan riwayat al-Tabarani seperti yang dikatakan al-Mundhiri, pada sanadnya terdapat Jabir al-Ju‘fi, ia pada awalnya perawi yang thiqah, sehingga Shu‘bah menilainya sebagai diantara orang yang paling thiqah. Akan tetapi pada masa tuanya, ia berubah sehingga dituduh pendusta oleh beberapa ulama. Menurut al-Nasa’i dan beberapa ulama lain ia matruk (ditinggalkan). Yahya mengatakan Hadisnya tidak ditulis (la yuktab hadithuh) dan tidak ada kemuliaannya. Ibn Hajar berpendapat ia kaum Rafidah dan da‘if.[5] Karena itu, sanad ini amat da‘if. Demikian pula sanad al-Bayhaqi, karena terdapat dua perawi yang tidak ditemukan identitasnya. Sedangkan riwayat yang disebutkan al-Khubawi adalah munkar.
[1] al-Khubawi, Durrah al-Nasihin, hlm. 294.
[2] al-Bayhaqi, Fada’il al-Awqat, hlm. 249-253, h.n. 109.
[3] al-Mundhiri, al-Targhib, jil. 2, hlm. 153.
[4] Lihat ‘Adnan ‘Abd al-Rahman dalam tahqiq Fada’il al-Awqat, hlm. 249.
[5] al-Mundhiri, al-Targhib, jil. 2, hlm. 153; lih. biografi Jabir al-Ju‘fi dalam al-Dhahabi, Mizan al-I‘tidal, jil. 1, hlm. 379-384; Ibn Hajar, Taqrib al-Tahdhib, hlm. 137.