Hadis no. 68


سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ فَضَائِلِ التَّرَاوِيْحِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ فَقَالَ: يَخْرُجُ المْـُؤْمِنُ ذَنْبُهُ فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أَمُّهُ، وَفِي اللَّيْلَةِ الثّاَنِيَةِ: يَغْفِرُ لَهُ وَلِأَبَوَيْهِ إِنْ كَانَا مُؤْمِنَيْنِ، وَفِي اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ: يُنَادِي مَلَكٌ مِنْ تَحْتِ الْعَرْشِ اسْتَأْنِفِ الْعَمَلَ غَفَرَ اللهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ. وَفِي اللَّيْلَةِ الرَّابِعَةِ: لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثُلُ قِرَاءَةِ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيْلِ وَالزَّبُوْرِ وَالْفُرْقَانِ. وَفِي اللَّيْلَةِ الْخَامِسَةِ: أَعْطَاهُ اللهُ تَعَالَى مِثْلَ مَنْ صَلَّى فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الْمَدِيْنَةِ وَمسْجِدِ الْأَقْصَى. وَفِي اللَّيْلَةِ السَّادِسَةِ: أَعْطَاهُ اللهُ تَعَالَى ثَوَابَ مَنْ طَافَ بِالْبَيْتِ الْمَعْمُوْرِ وَيَسْتَغْفِرُ لَهُ كُلُّ حَجَرٍ وَمَدَرٍ. وَفِي اللَّيْلَةِ السَّابِعَةِ: فَكَأَنَّمَا أَدْرَكَ مُوْسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ وَنَصَرَهُ عَلَى فِرْعَوْنَ وَهَامَنَ. وَفِي اللَّيْلَةِ الثَّامِنَةِ: أَعْطَاهُ اللهُ مَا أَعْطَى إَبْرَاهِيْمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ. وَفِي اللَّيْلَةِ التَّاسِعَةِ: فَكَأَنَّمَا عَبَدَ اللهَ عِبَادَةَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وَفِي اللَّيْلَةِ الْعَشَرَةِ: يَرْزُقُ اللهُ تَعَالَى خَيْرَ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ. وَفِي اللَّيْلَةِ الْحَادِيَةَ عَشَرَةَ: يَخْرُجُ مِنَ الدُّنْيَا كَيَوْمِ وُلِدَ مِنْ بَطْنِ أُمِّهِ. وَفِي اللَّيْلَةِ الثَّانِيَةَ عَشَرَةَ: جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَوَجْهُهُ كَالْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ. وَفِي اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةَ عَشَرَةَ: جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ آمِنًا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ. وَفِي اللَّيْلَةِ الرَّابِعَةَ عَشَرَةَ:… إِلَى قَوْلِهِ: وَفِي اللَّيْلَةِ الثَّلَاثِيْنَ: يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: يَا عِبَادِي كُلْ مِنْ ثِمَارِ الْجَنَّةِ وَاغْتَسِلْ مِنْ مَاءِ السَّلْسَبِيْلِ وَاشْرَبْ مِنَ الْكَوْثَرِ أَنَا رَبُّكَ وَأَنْتَ عَبْدِيْ .

“Nabi ditanya tentang keutamaan-keutamaan tarawih di bulan Ramadan. Maka beliau bersabda: “Malam pertama, dosa-dosa keluar dari orang mukmin, seperti saat ia dilahirkan oleh ibunya. Pada malam kedua, ia diampuni, dan juga kedua orang tuanya, jika keduanya mukmin. Pada malam ketiga, seorang malaikat berseru di bawah ‘Arash: “Mulailah beramal, semoga Allah mengampuni dosamu yang telah lewat!” Pada malam keempat, ia memperoleh pahala seperti pahala membaca Taurat, Injil, Zabur, dan al-Furqan. Pada malam kelima, Allah memberinya pahala seperti orang yang shalat Masjidil Haram, Masjid Madinah dan Masjid Aqsa. Pada malam keenam, Allah memberinya pahala orang yang berthawaf di Baytul Ma‘mur dan dimohonkan ampun oleh setiap batu dan cadas. Pada malam ketujuh, seolah-olah ia mencapai derajat Nabi Musa dan kemenangan atas Fir‘aun dan Haman. Pada malam kedelapan, Allah memberinya apa yang pernah diberikan kepada Nabi Ibrahim. Pada malam kesembilan, seolah-olah ia menyembah Allah sebagaimana ibadah Nabi. Pada malam kesepuluh, Allah mengaruniainya kebaikan dunia dan akhirat. Pada malam kesebelas, ia keluar dari dunia seperti saat ia dilahirkan dari perut ibunya. Pada malam kedua belas, ia datang pada hari Kiamat sedang wajahnya bagaikan bulan di malam purnama. Pada malam ketiga belas, ia datang pada hari Kiamat dalam keadaan aman dari setiap keburukan. Pada malam keempat belas …… Pada malam ketiga puluh, Allah berfirman: “Wahai hamba-Ku, makanlah buah-buahan surga, mandilah dari air Salsabil, dan minumlah dari Kawthar. Akulah Tuhanmu dan engkau hamba-Ku.

Takhrij Hadis:

Penulis belum dapat menemukan perawi Hadis ini. Hadis ini juga tidak ditemukan di dalam kitab mu‘tabar tentang Hadis-hadis keutamaan amalan tertentu yang menyebutkan Hadis ini. al-Khubawi sendiri mengutip Hadis ini dari kitab Majalis.[1]

Hukum Hadis: Mawdu‘/Palsu.

Meskipun Penulis belum menemukan perawi yang meriwayatkan Hadis ini, tetapi karena tanda-tanda kepalsuan Hadis ini sudah sangat jelas, maka Hadis ini dinilai palsu. Di antara tanda-tanda kepalsuan Hadis ini adalah adanya janji mendapatkan pahala seperti yang dikerjakan oleh Nabi-nabi. Dalam hal ini Ibn Qayyim berkata: “Sepertinya si pendusta yang hina ini tidak mengetahui bahwa selain Nabi, apabila ia shalat sepanjang umur Nabi Nuh a.s., ia tidak akan mendapatkan pahala seperti yang didapatkan oleh seorang Nabi.”[2]

Alasan yang kedua, Hadis ini begitu jelas menyebutkan dan memastikan pahala yang dijanjikannya. Seandainya Hadis ini sahih atau da‘if saja, maka mustahil ulama-ulama Hadis seperti al-Maqdisi, al-Mundhiri, Ibn Hajar, al-Suyuti, al-Munawi dan lain-lainnya tidak menyebutkan Hadis ini dalam kitab-kitab mereka ketika membahas tentang shalat tarawih. Ini menunjukkan dua kemungkinan: Pertama, Hadis ini tidak ketahui oleh mereka, maka Hadis ini boleh dikatakan tidak mempunyai asal yang jelas (لا أصل له). Kedua, mereka mengetahui Hadis ini, tapi karena palsu, maka mereka tidak menyebutkannya sebagai dalil kelebihan shalat tarawih.


[1] al-Khubawi, Durrah al-Nasihin, hlm. 20-21.

[2] ‘Umar Hasan Fallatah, al-Wad‘ fi al-Hadith, Maktabah al-Ghazali, Dimashq, 1981, jil. 2, hlm. 72; Ibn Qayyim, al-Manar al-Munif, hlm. 50.