Hadis No. 6


إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ يَقُولُ اللهُ تَعَالىٰ : مَنْ ذَا الَّذِى يُحِبُّنَا فَنُحِبُّهُ وَ مَنْ ذَا الَّذِى يَطْلُبُنَا فَنَطْلُبُهُ وَمَنْ ذَا الَّذِى يَسْتَغْفِرُنَا فَنَغْفِرُلَهُ بِحُرْمَةِ رَمَضَانَ فَيَأْمُرُ اللهُ تَعَالىٰ الْكِرَامَ الْكَاتِبِينَ فى شَهْرِ رَمَضَانَ بِأَنْ يَكْتُبُوا لَهُمُ الْحَسَنَاتِ وَلاَيَكْتُبُوا لَهُمُ السَّيِّئَاتِ وَيَمْحُو اللهُ تَعَالىٰ عَنْهُمْ ذُنُوبَهُمُ الْمَاضِيَةَ

“Apabila malam pertama (bulan) Ramadan datang, maka Allah berfirman: Siapa yang mencintai Kami, maka Kami pun akan mencintainya. Siapa yang mencari Kami, maka Kami pun akan mencarinya. Dan siapa memohon ampunan kepada Kami, maka Kami pun akan mengampuninya demi kehormatan bulan Ramadan. Maka Allah memerintahkan para malaikat pencatat, untuk mencatat kebaikan mereka, tidak mencatat keburukan mereka dan Allah menghapus dosa-dosa mereka yang telah lampau.

Takhrij Hadis:

Hadis dengan lafaz ini belum dapat ditemukan perawinya. al-Khubawi mengutipnya dari kitab al-Hayah atau Zubdah al-Wa‘izin.[1] Hanya saja, makna potongan pertama diriwayatkan oleh al-Bayhaqi dalam Fada‘il al-Awqat dari Ibn Mas‘ud dengan lafaz sebagai berikut:

إذا كان أول ليلة من شهر رمضان فتحت أبواب الجنان فلم يغلق منها باب واحد الشهر كله، وغلقت أبواب النار فلم يفتح منها باب واحد الـشهر كله، وغلت عتاة الجن، ونادى مناد من السماء كل ليلة إلى انفجار الصبح، يا باغي الخير تمم وأبشر، ويا باغي الشر اقصر وأبصر، هل من مستغفر يغفر له… إلخ.[2]

“Jika datang awal malam bulan Ramadan, maka pintu-pintu surga terbuka, dan selama satu bulan penuh tidak ada satu pintu pun yang tertutup. Kemudian pintu neraka ditutup, dan selama satu bulan penuh tidak ada satu pintu neraka pun yang terbuka, dan jin diikat dengan kencang, kemudian ada yang berseru dari langit sejak malam hingga Subuh: “Wahai orang yang menginginkan kebaikan, sempurnakan dan bergembiralah! Wahai orang yang menginginkan keburukan, tahanlah dan perhatikanlah! Masih adakah orang yang meminta ampunan, maka ia akan diampuni…dst.”

Hukum Hadis: Mawdu‘/Palsu.

Hadis riwayat al-Baihaqi ini da‘if karena pada sanad-nya terdapat Nashib bin ‘Amru yang dinilai al-Bukhari sebagai munkar al-hadith dan al-Daraqutni sebagai da‘if.[3] Sedangkan riwayat yang disebutkan al-Khubawi adalah palsu, sebab ia belum dapat ditemukan kecuali dalam sumber yang tidak mu‘tabar.[4] Ini menjadikan Hadis tersebut tidak dikenali dalam sumber yang terpercaya.  Selain itu, makna Hadis ini juga bertentangan dengan hukum syari’at di mana sesuatu dosa yang dilakukan pada bulan Ramadan tetap akan dicatat dan diberi hukuman. Sebagaimana ditegaskan Allah Swt. dalam Surah al-Zalzalah ayat 7-8 yang artinya: “Maka siapa yang berbuat kebaikan sekecil atom akan diberikan pahalanya. Dan siapa yang berbuat kejahatan sekecil atom, maka akan diberikan balasannya.” Ibn ‘Abbas dan Imam al-Shafi‘i, sebagaimana diriwayatkan al-Baihaqi, menegaskan bahwa: jika suatu amalan pada bulan-bulan tertentu mendapat pahala yang berlipat ganda, maka dosa yang dilakukan pada bulan-bulan itupun akan diberikan balasan yang berlipat ganda pula.[5]


[1] al-Khubawi, Durrah al-Nasihin, hlm. 7-8.

[2] Abu Bakar Ahmad bin Husayn bin ‘Ali al-Bayhaqi, Fada’il al-Awqat, Tah. ‘Adnan ‘Abd al-Rahman al-Qaysi, Maktabah al-Manarah, Makkah,1990, hlm. 168-170, h.n. 51.

[3] Lih. biografi Nashib dalam Muhammad bin Ahmad bin ‘Uthman al-Dhahabi, Mizan al-I‘tidal fi Naqd al-Rijal, Tah. ‘Ali Muhammad al-Bajawi, Dar Ihya’ al-Kutub al-‘Arabi, Bayrut, t.th.  jil. 4, hlm. 239.

[4] Lihat pembahasan sebelumnya mengenai sumber rujukan dalam tasawuf.

[5] al-Bayhaqi, Fada’il al-Awqat, hlm. 81 dan 87.