Hadis No. 3


رَغِمَ أَنفُ رَجُلٍ ذُكِرتُ عِندَهُ وَلَم يُصَلِّ عَلَيَّ، وَرَغِمَ أَنفُ رَجُلٍ عِندَهُ أَبَوَاهُ أَو أَحَدُهُمَا فَلَم يَعمَل فِي حَقِّهِمَا عَمَلًا يُدخِلهُ الجَنَّةَ، وَرَغِمَ أَنفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيهِ رَمَضَانَ وَتَمَّ رَمَضَانَ قَبلَ أَن يُغفَرَ لَهُ.

 “Tersungkurlah hidung seseorang – maksudnya, ia ditimpa kehinaan dan kerendahan – ketika disebut namaku di sisinya, sedang ia tidak bershalawat untukku. Dan tersungkurlah hidung seseorang yang kedua orang tuanya atau salah satu dari keduanya ada di sisinya, sedang ia tidak melakukan suatu perbuatan untuk memenuhi hak keduanya, yang menyebabkan ia masuk surga. Dan tersungkurlah hidung seseorang yang didatangi bulan Ramadan, sedang Ramadan itu usai tapi ia belum diampuni (dosa-dosanya).”

Takhrij 
Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh al-Tirmidhi, Ahmad, al-Hakim dan Ibn Hibban dari Abu Hurayrah.[1]

Hukum Hadis: Sahih
al-Tirmidhi menilai Hadis ini hasan gharib. al-Hakim, Ibn Hibban, dan al-Dhahabi menilainya sahih. Ibn Hajar men-sahih-kan Hadis ini karena mempunyai banyak shawahid.[2] Karena itu, Hadis ini dapat dinilai sahih dengan alasan di atas.

[1] al-Tirmidhi, SunanKitab al-Da‘awat, Bab Raghma Anf Rajul, h.n. 3545; Ahmad, Musnad, jil. 2, hlm. 253; Muhammad Abu ‘Abd Allah al-Hakim al-Nisaburi, al-Mustadrak ‘ala al-Sahihayn fi al-Hadith, Dar al-Fikr, Bayrut, 1978, Kitab al-Du‘a’, Bab Raghma Anf Rajul, jil. 1, hlm 549; ‘Ali bin Balban al-Farisi, al-Ihsan Bitaqrib Sahih Ibn Hibban, Tah. Kamal Yusuf al-Hut, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Bayrut, 1987, Kitab al-Raqa’iq, Bab al-Ad‘iyah, h.n. 905.

[2]Ahmad bin ‘Ali bin Hajar al-‘Asqallani, Fath al-Bari Sharh Sahih al-Bukhari, Dar al-Fikr, Bayrut, t.th., jil. 11, hlm. 168.