إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيلَةٍ مِن رَمَضَانَ صُفِّدَت الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الجِنِّ وَغُلِّقَت أَبوَابُ النِيرَانِ وَلَم يُفتَح بَابٌ مِنهَا، وَفُتِّحَت أَبوَابُ الجِنَانِ وَلَم يُغلَق بَابٌ مِنهَا، وَيَقُولُ اللهُ تَعَالَى فِي كُلِّ لَيلَةٍ مِن رَمَضَانَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ: هَل مِن سَائِلٍ فَأُعطِيَهُ سَؤَالَهُ؟ هَل مِن تَائِبٍ فَأَتُوبَ عَلَيهِ، هَل مِن مُستَغفِرٍ فَأَغفِرَ لَهُ؟ وَيَعتِقُ اللهُ بِكُلِّ يَومٍ مِن رَمَضَانَ أَلفَ أَلفِ عَتِيقٍ مِنَ النَّارِ قَد استَوجَبَ العَذَابَ، وَإِذَا كَانَ يَومُ الجُمُعَةِ يَعتِقُ فِي كُلِّ سَاعَةٍ أَلفَ أَلفِ عَتِيقٍ مِنَ النَّارِ، فَإِذَا كَانَ آخِرُ يَومٍ مِن رَمَضَانَ يَعتِقُ بِعَدَدِ مَن أَعتَقَ مِن أَوَّلِ الشَّهرِ.
“Apabila tiba malam pertama bulan Ramadan, maka setan-setan dan jin-jin Marid diikat, sedang pintu-pintu neraka ditutup. Tidak ada satu pintu pun di antaranya yang dibuka. Dan pintu-pintu surgapun dibuka. Tidak ada satu pintu pun di antaranya yang ditutup. Sedang Allah pada malam hari setiap bulan Ramadan, berfirman tiga kali: “Apakah ada orang yang meminta, maka akan aku beri permintaanya? Apakah ada orang yang bertaubat, maka akan aku terima tuabatnya? Apakah ada orang yang memohon ampunan, maka akan aku ampuni ia?” Dan Allah membebaskan pada setiap hari bulan Ramadan sejuta tawanan dari neraka, yang seharusnya diazab. Dan apabila tiba Hari Jum’at, maka Allah membebaskan setiap jam sejuta tawanan dari neraka. Dan apabila tiba hari terakhir dari bulan Ramadan, maka Allah akan membebaskan sebanyak orang yang dibebaskan sejak awal Ramadan.”
Takhrij Hadis:
Hadis dengan lafaz lengkap seperti ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam al-Shu‘ab dari Ibn Mas‘ud dengan sedikit perbedaan lafaz. Dalam lafaz al-Baihaqi disebutkan dengan redaksi: “60 ribu tawanan” sebagai ganti dari “sejuta tawanan.” Juga tidak terdapat kata-kata: “Dan apabila tiba hari Jum’at, maka Allah membebaskan setiap jam sejuta tawanan dari neraka.”[1]
Sanad al-Baihaqi dinilai baik, karena tidak ditemukan perawi yang dikritik meskipun tidak sampai ke derajat perawi sahih. Selain itu, Hadis ini cukup banyak shawahid-nya. Karena itu, riwayat al-Baihaqi adalah hasan. Sedangkan lafaz yang disebutkan al-Khubawi adalah gharib, karena adanya perbedaan seperti yang dijelaskan di atas.
[1] al-Bayhaqi, Shu‘ab al-Iman, jil. 3, hlm. 304, h.n. 3606.