Hadis No. 2


نُزِلَت صُحُفُ إِبرَاهِيمَ عَلَيهِ السَّلَامُ  أَوَّلَ لَيلَةٍ مِن رَمَضَانَ، وَأُنزِلَتِ التَّورَاةُ لِسِتٍّ مِن رَمَضَانَ، وَالإِنجِيلُ لِثَلَاثَةَ عَشرَةَ، وَالزَّبُورُ لِثَمَانِيَ عَشرَةَ مِن رَمَضَانَ، وَالقُرآَنُ لِأَربَعٍ وَعِشرِينَ.

Lembaran-lembaran Ibrahim diturunkan pada malam pertama bulan Ramadan, Taurat diturunkan pada malam keenam Ramadan, Injil diturunkan pada malam ketigabelas, Zabur diturunkan pada malam kedelapanbelas dari bulan Ramadan, dan al-Qur’an diturunkan pada malam keduapuluh empat.”

Takhrij Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad dalam al-Musnad, al-Baihaqi dalam al-Sunan dan al-Asma’ wa al-Sifat, al-Asfahani dalam al-Targhib, al-Tabarani dalam al-Mu‘jam al-Kabir seperti diisyaratkan oleh al-Haythami. Semuanya melalui ‘Imran al-Qattan dari Qatadah dari Abu Mulayih dari Wasilah bin al-Asqa‘.[1]

Hadis ini diriwayatkan juga oleh Ibn Durays dalam Fada’il al-Qur’an secara maqtu sebagai perkataan Abu al-Jald.[2]

Hukum Hadis: Hasan

Menurut Yahya, ‘Imran al-Qattan adalah orang yang da‘if. Sedangkan menurut Ibn Hibban, ia termasuk orang yang thiqah. Ahmad berkata: “Saya berharap bahwa ia salih al-Hadith.”[3]

al-Haythami dalam Majma‘ al-Zawa’id mengingatkan bahwa dalam sanad Hadis ini terdapat perawi yang bernama ‘Imran al-Qattan yang mempunyai kredibilitas seperti di atas, sedangkan perawi selainnya adalah thiqah. al-Suyuti menilai Hadis ini hasan dan al-Munawi sependapat dengan al-Suyuti. Namun ia mengingatkan bahwa dalam sanad Hadis ini terdapat ‘Imran al-Qattan seperti yang diingatkan al-Haythami.[4] Kesimpulannya, Hadis ini hasan, meskipun ‘Imran di-da‘if-kan oleh Yahya, karena ada dua orang ulama yang menguatkannya, yaitu Ahmad bin Hanbal dan Ibn Hibban.

[1] Ahmad bin Muhammad bin Hanbal al-Shaybani, Musnad, al-Maktabah al-Islami, Bayrut, 1978, jil. 4, hlm. 107; Ahmad bin Husayn bin ‘Ali al-Bayhaqi, al-Sunan al-Kubra, Dar al-Fikr, t.th., Bayrut, Kitab al-Jizyah, Bab Dhikr Kutub Anzalaha Allah, jil. 9, hlm. 188; Ahmad bin Husayn bin ‘Ali al-Bayhaqi, al-Asma’ wa al-Sifat, Dar al-Kuttab al-‘Arabi, Bayrut, 1985, hlm. 243; Isma‘il bin Muhammad bin al-Fadl al-Asfahani, al-Targhib wa al-Tarhib, Dar al-Hadith, al-Qahirah, 1993, jil. 2, hlm. 378, h.n. 1818; ‘Ali bin Abu Bakar al-Haythami, Majma‘ al-Zawa’id, Dar al-Kutub al-‘Arabi, 1982, jil. 1, hlm. 197.

[2] Muhammad bin Ayyub bin al-Durays, Fada’il al-Qur’an wa Ma Unzil bi al-Makkah wa Ma Unzil bi al-Madinah, Tah. Ghazwah bin Budayr, Dar al-Fikr, Dimashq, 1988, hlm. 92, h.n. 192.
[3] al-Haythami, Majma‘ al-Zawa’id, jil. 1, hlm. 197.
[4] Muhammad ‘Abd al-Ra’uf al-Munawi, Fayd al-Qadir fi Sharh al-Jami‘ al-Saghir, Dar al-Ma‘rifah, Bayrut, 1972, jil. 2, hlm. 75, h.n. 2734.