مَنْ قَامَ سَاعَةً فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ قَدْرَ مَا يَحْلُبُ الرَّاعِي شَاةً أَحَبَّ إِلَى اللهِ مِنْ صِيَامِ الدَّهْرِ كُلِّهِ، وَالَّذِي بَعَثَنِي بِالْحَقِّ نَبِيًّا لَقِرَاءَةُ آيَةٍ مِنَ الْقُرْآنِ لَيْلَةَ الْقَدْرِ أَحَبَّ إِلَى اللهِ مِنْ أَنْ يَخْتُمَ فيِ غَيْرِهَا مِنَ اللَّيَالِي.
“Siapa shalat pada malam Qadar, selama seorang penggembala memerah susu kambingnya, itu lebih dicintai Allah dari pada berpuasa sepanjang tahun. Dan demi Allah yang telah mengutusku dengan kebenaran sebagai seorang Nabi, sesungguhnya membaca satu ayat al-Qur’an pada malam Qadar lebih disukai Allah dari pada mengkhatamkannya pada malam-malam lain selain malam Qadar.”
Takhrij Hadis: Maw‘izah. Bukan hadis
Hadis ini belum dapat ditemukan perawinya. al-Khubawi menukilnya dari kitab al-Maw‘izah.[1]
Hukum Hadis : –
Hukum Hadis ini belum dapat dipastikan. Namun seperti yang akan dijelaskan pada bab ketiga nanti, Hadis seperti ini lebih mirip Hadis palsu.
[1] al-Khubawi, Durrah al-Nasihin, hlm. 305.