Hadis no. 21


 

إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ يَجِيْئُ قَوْمٌ لَهُمْ أَجْنَحِةٌ كَأَجْنِحَةِ الطَّيْرِ فَيَطِيْرُوْنَ بِهَا عَلَى حَيْطَانِ الْجَنَّةِ، فَيَقُوْلُ لَهُمْ خَازِنُ الْجَنَّةِ: مَنْ أَنْتُمْ؟ فَيَقُوْلُوْنَ: نَحْنُ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى ال عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَيَقُوْلُ: هَلْ رَأَيْتُمُ الْحِسَابَ؟ فَيَقُوْلُوْنَ: لاَ، ثُمَّ يَقُوْلُ ثَانِيًا: هَلْ رَأَيْتُمُ الصِّرَاطَ؟ فَيَقُوْلُوْنَ: لَا، ثُمَّ يَقُوْلُ: بِمَ وَجَدْتُمْ هَذِهِ الدَّرَجَاتِ؟ فَيَقُوْلُوْنَ: عَبَدْنَا اللهَ تَعَالَى سِرًّا فِي دَارِ الدُّنْيَا وَدَخَلْنَا الـْجَنَّةَ سِرًّا فِي دَارِ الْآخِرَةِ .

Apabila Hari Kiamat datang, maka datanglah suatu kaum yang mempunyai sayap seperti sayap burung. Dengan sayap-sayap itu mereka terbang melintasi tembok-tembok surga. Maka berkatalah penjaga surga kepada mereka: “Siapakah kalian?” Mereka menjawab: “Kami umat Muhammad.” “Apakah kalian telah mengalami hisab?” tanya penjaga surga. “Tidak,” jawab mereka. “Apakah kalian telah mengalami sirat?” tanya lagi. Mereka menjawab: “Tidak.” Kemudian penjaga surga itu bertanya: “Dengan apakah kalian memperoleh derajat-derajat ini?” Mereka menjawab: “Kami telah menyembah Allah secara rahasia di dunia, lalu Allah memasukkan kami ke surga secara rahasia di akhirat.

Takhrij Hadis:

Hadis ini telah diriwayatkan oleh Ibn Hibban dalam al-Majruhin dan al-Sullami dalam al-Arba‘in. Keduanya melalui Humayyid bin ‘Ali al-Qaysi dari Anas bin Malik. al-Daylami juga meriwayatkannya dalam Musnad al-Firdaws melalui al-Sullami.[1]

Hukum Hadis: Mawdu‘/Palsu.

Hadis ini telah disebutkan oleh al-Dhahabi dalam al-Mizan dan Ibn Hajar dalam al-Lisan. Keduanya dalam terjemah Humayyid al-Qaysi dengan mengutip kata-kata pen-da‘if-an Ibn Hibban: “Jika ia (Humayyid) tidak bermaksud untuk berbohong, maka ia tidak tahu apa yang ia katakan”. al-Hakim berpendapat bahwa Humayyid ini pendusta.[2] Maka Hadis ini dinilai palsu.


[1] Muhammad bin Hibban al-Tamimi, al-Majruhin min al-Muhaddithin wa al-Du‘afa’ wa al-Matrukin, Dar al-Wa‘i, Halab, 1397H/1977, jil. 1, hlm. 263; Muhammad bin ‘Abd Rahman al-Sakhawi, Takhrij al-Arba‘in al-Sullamiyyah, al-Maktabah al-Islamiyyah, Bayrut, 1988, hlm 108-109, h.n. 23; Shayruyah bin Shahradar al-Daylami, al-Firdaws Bima’thur al-Khitab @ Musnad al-Firdaws, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Bayrut, 1986, jil. 1, hlm. 255, h.n. 990.

[2] al-Dhahabi, Mizan al-I‘tidal, jil. 1 hlm. 614; Ahmad bin ‘Ali bin Hajar al-‘Asqallani, Lisan al-Mizan, Mu’assasah al-A‘lami, Bayrut, 1987, jil. 2, hlm. 365-366.