Hadis no. 16


مَنْ أَسْرَجَ فِي مَسْجِدٍ مِنْ مَسَاجِدِ اللهِ تَعَالَى فِي رَمَضَانَ كَانَ لَهُ نُوْرًا فِي قَبْرِهِ وَكُتِبَ لَهُ ثَوَابَ الْمُصَلِّيْنَ فيِ ذَلِكَ الْمَسْجِدِ، وَصَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ، وَاسْتَغْفَرَ لَهُ حَمَلَةُ الْعَرْشِ مَا دَامَ ذَلِكَ فِي الْمَسْجِدِ

“Siapa memasang lampu pada salah satu masjid Allah pada bulan Ramadan, maka ia akan memperoleh cahaya dalam kuburnya, dan ditetapkan baginya pahala orang-orang yang melakukan shalat di dalam masjid itu, didoakan oleh para malaikat, dan dimohonkan ampun oleh para pemikul ‘Arash selama lampu itu masih berada di dalam masjid.”

Takhrij Hadis:

Hadis ini seperti yang diisyaratkan oleh al-Sakhawi dan al-Suyuti diriwayatkan oleh Ibn Abu Usamah dalam Musnad-nya, Abu al-Shaykh dalam Thawab al-A‘mal dan Salim al-Razi dalam al-Targhib, semuanya dari Anas bin Malik. Hanya saja dalam lafaz yang mereka sebutkan, juga lafaz yang disebutkan oleh al-Qurtubi dalam Tafsir-nya, semuanya tidak menyebutkan kata-kata  في رمضان .[1] Tambahan ini bisa jadi karena ada dua kemungkinan: Pertama, sebagai tafsiran, yang berarti idraj. Ini tidak berpengaruh dalam hukum Hadis. Kedua, penambahan dengan sengaja, ini berarti ziyadah. Ini akan menyebabkan Hadis dinilai palsu dan penambahan tersebut datang dari sumber yang tidak mu‘tamad. Sebab, jika ia datang dari sumber yang mu‘tamad, kita dapat membandingkan sanad-nya, apakah penambahan itu datang dari perawi yang thiqah, maka akan diterima, atau dari yang lemah, maka akan ditolak, atau dari yang dituduh sebagai pendusta, maka akan menjadi Hadis palsu.

Hukum Hadis: Mawdu‘/Palsu.

al-Shakhawi, al-‘Ajluni dan Ibn Tahir menilai Hadis ini (tanpa ada kata-kata في رمضان) dengan sanad-nya da‘if.[2] Sedangkan hukum Hadis dengan penambahan kata-kata tersebut seperti yang terdapat dalam kitab Durrah al-Nasihin ini adalah palsu.


[1] al-Sakhawi, al-Maqasid al-Hasanah, hlm. 396-397, h.n. 1059; ‘Abd al-Rahman bin Abu Bakar al-Suyuti, al-Durr al-Manthur fi al-Tafsir bi al-Ma’thur, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Bayrut, 1990, jil. 1, hlm. 352, jil. 3, hlm. 394; ‘Abd Allah bin Muhammad bin Ahmad al-Qurtubi, Tafsir al-Qurtubi al-Musamma bi al-Jami‘ Liahkam al-Qur’an, Dar al-Kutub al-‘Arabi, Bayrut, 1967, jil. 12, hlm. 275.

[2] al-Sakhawi, al-Maqasid al-Hasanah, hlm. 396-397, h.n. 1059; Muhammad bin Tahir al-Maqdisi al-Qaysarani,  Tadhkirah al-Mawdu‘at, Tah. ‘Imad al-Din Ahmad Haydar, Mu’assasah al-Kutub al-Thaqafiyyah, Bayrut, 1985, hlm. 37; Isma‘il bin Muhammad al-‘Ajluni, Kashf al-Khafa’ wa Muzil al-Ilbas ‘Amma Ishtahar min al-Ahadith ‘ala Alsinah al-Nas, Dar Ihya’ al-Turath al-‘Arabi, Bayrut, 1351H/1930, jil. 2, hlm. 226, h.n. 2371; al-Shawkani, al-Fawa’id, hlm. 26.