إِنَّ صُحُفَ إِبرَاهِيم َعَلَيهِ السّلَامُ أُنزِلَت لَيلَةَ أَوَّلِ شَهرِ رَمَضَانَ، وَالتَورَاةُ لِسِتِّ لَيَالٍ مِن رَمَضَانَ بَعدَ سَبعِمِائَةِ عَامٍ مِن صُحُفِ إِبرَاهِيمَ عَلَيهِ السَّلَامُ، وَالزَّبُورُ لِإِثنَي عَشَرَ لَيلَةً مِنهُ خَلَت مِن بَعدِ التَّورَاةِ بِخَمسِمِائِةِ عَامٍ، وَالإِنجِيلُ لِثِمِانِيَ عَشَرةَ مِنهُ بَعدَ الزَّبُورِ بِأَلفٍ وَمِائَتَي سَنَةٍ، وَالفُرقَانُ لِسَبعٍ وَعِشرِينَ مِنهُ بَعدَ الإِنجِيلِ بِسِتِّمِائَةٍ وَعِشرِينَ سَنَةٍ
“ sesungguhnya Suhuf (lembaran-lembaran) Ibrahim diturunkan pada malam pertama bulan Ramadan, sedang Taurat diturunkan pada malam keenam bulan Ramadan 700 tahun setelah Suhuf Ibrahim. Kemudian Zabur diturunkan pada malam kedua belas Ramadan 500 tahun setelah Taurat. Injil diturunkan pada malam kedelapan belas bulan Ramadan 1200 tahun sesudah Zabur. Sedang al-Furqan diturunkan pada malam keduapuluh tujuh bulan Ramadan, 620 tahun sesudah Injil.”
Takhrij Hadis:
Hadis dengan lafaz seperti ini belum ditemukan. Yang dapat ditemukan adalah Hadis lafaz Hadis ke 2. Perbedaan antara kedua lafaz ini adalah adanya penambahan keterangan masa diturunkannya kitab-kitab itu, yaitu kata-kata “setelah 700 tahun dari lembaran Ibrahim, setelah 500 tahun, dan Injil setelah 620 tahun.” Ahmad, al-Baihaqi, al-Asfahani, al-Qurtubi, al-Haythami, al-Suyuti dan al-Munawi[1] yang menyebutkan Hadis ini dengan lafaz Hadis ke 2, tidak ada seorangpun dari mereka yang menyebutkan atau mengisyaratkan adanya riwayat lain, meskipun ia da‘if, seperti lafaz ini. Padahal Hadis ini sangat penting dalam menjelaskan Hadis pertama. Ini menunjukkan dua kemungkinan; pertama, sebenarnya mereka mengetahui kualitas Hadis ini palsu, tetapi mereka menyamarkannya dengan tidak menyebutkan kualitas kesahihannya. Kedua, mereka tidak mengetahui adanya riwayat yang lain. Hal ini menyebabkan Hadis ini la yu‘raf lah asl (tidak diketahui sumber asalnya). Maka Hadis dengan matan seperti ini adalah palsu.
Hukum Hadis: Mawdu‘/Palsu.
Hadis ini dapat dinilai palsu dengan adanya penambahan redaksi. Akan tetapi jika tidak ada penambahan keterangan masa di atas, maka ia akan menjadi hasan seperti Hadis ke 2.
[1] Lihat Ahmad, Musnad, jil. 4, hlm. 107; al-Bayhaqi, al-Sunan al-Kubra, Kitab al-Jizyah, Bab Dhikr Kutub Anzalaha Allah; al-Bayhaqi, al-Asma’ wa al-Sifat, hlm. 243; al-Asfahani, al-Targhib, jil. 2, hlm. 378, h.n. 1818; al-Haythami, Majma‘ al-Zawa’id, jil. 1, hlm. 197.