Hadis no. 24


إِنَّ اللهَ فيِ كُلِّ سَاعَةٍ مِن رَمَضَانَ يَعتِقُ سِتَمِائَةِ أَلفِ رَقَبَةٍ مِنَ النَّارِ مِمَّن استَوجَبَ العَذَابَ إِلَى لَيلَةِ القَدرِ، وَفِي لَيلَةِ القَدرِ يَعتِقُ بِعَدَدِ مَن أَعتَقَ مِن أَوَّلِ شَهرٍ، وَفِي يَومِ الفِطرِ يَعتِقُ بِعَدَدِ مَن أَعتَقَ مِن أَوَّلِ الشَّهرِ إِلَى يَومِ الفِطرِ.

Sesungguhnya Allah pada setiap saat bulan Ramadan membebaskan 600 ribu orang dari neraka di antara mereka yang sepatutnya mendapat siksa, sampai tiba Malam Qadar. Sedang pada Malam Qadar, Dia membebaskan sebanyak orang yang dibebaskan sejak awal bulan. Dan pada Hari Idul Fitri, Dia membebaskan sebanyak orang yang dibebaskan sejak awal bulan sampai Hari Idul Fitri.

Takhrij Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh Ibn Hibban dalam al-Majruhin dari Anas bin Malik melalui al-Aruz bin Ghalib. al-Baihaqi juga telah meriwayatkannya dalam Shu‘ab al-Iman dari Hasan al-Basri secara mursal tanpa melalui al-Aruz di atas.[1]

Hukum Hadis: Da‘if.

Hadis ini dinilai palsu oleh Abu Hatim, Ibn al-Jawzi, Ibn ‘Arraq dan al-Shawkani, karena diriwayatkan melalui al-Aruz bin Ghalib. Menurut Abu Hatim, tidak boleh ber-hujjah dengan al-Aruz kalau ia sendirian. Menurut al-Bukhari, ia adalah orang yang munkar al-Hadith.[2]

al-Suyuti menolak penilaian Hadis ini sebagai palsu, karena al-Aruz menurut Ibn ‘Adiy hanya meriwayatkan beberapa Hadis yang tidak terjaga, dengan harapan ia tidak bermasalah. Ini berarti ia bukan pendusta. Selain itu, kata al-Suyuti, Hadis ini mempunyai beberapa shawahid. Antara lain Hadis al-Baihaqi di atas.[3]

Penulis setuju untuk tidak menggolongkan Hadis ini sebagai palsu, sebab ia mempunyai banyak shawahid. Meskipun shahid Hadis al-Baihaqi di atas lemah, karena Hadisnya mursal, tetapi masih ada lagi beberapa shawahid lain yang disebutkan oleh al-Suyuti yang menandakan bahwa Hadis ini mempunyai asal. Maka ia tidak boleh dinilai palsu, meski dapat dikategorikan Hadis da‘if atau sangat da‘if.


[1] Ibn Hibban, al-Majruhin, jil. 1, hlm. 178; al-Bayhaqi, Shu‘ab al-Iman, jil. 3, hlm. 303, h.n. 3604.

[2] Ibn al-Jawzi, al-Mawdu‘at, jil. 2, hlm. 191; ‘Ali bin Muhammad bin ‘Arraq al-Kinani, Tanzih al-Shari‘ah ‘an al-Ahadith al-Shani‘ah al-Mawdu‘ah, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Bayrut, 1981, jil. 2, hlm. 146; al-Shawkani, al-Fawa’id al-Majmu‘ah, hlm. 89-90.

[3] al-Suyuti, al-La’ali, jil. 2, hlm 11.