Hadis no. 22


 

أُعطِيَت أُمَّتِي خَمسَةَ أَشيَاءَ لَم تُعطَ لِأَحَدٍ قَبلَهُم: الأَوَّلُ إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيلَةٍ مِن رَمَضَانَ يَنظُرُ اللهُ إِلَيهِم بِالرَّحمَةِ، وَمَن يَنظُرُ اللهُ إِلَيهِ باِلرَّحمَةِ لَايُعَذِّبُهُ بَعدَهُ أَبَدًا. وَالثَّانِي يَأمُرُ اللهُ الملَائِكَةَ بِالإِستِغفَارِ لَهُم، وَالثَّالِثُ: أَنَّ رَائِحَةَ فَمِ الصَّائِمِ أَطيَبُ عِندَ اللهِ مِن رِيحِ المِسكِ، وَالرَّابِعُ: يَقُولُ اللهُ تَعَالَى لِلجَنَّةِ اتَّخِذِي زِينَتَكِ وَيَقُولُ: طُوبَى لِعِبَادِي المـُؤمِنِينَ هُم أَولِيَائِي، وَالخَامِسُ: يَغفِرُ اللهُ تَعَالَى لَهُم جَمِيعًا

Umatku dikarunia lima perkara yang tidak diberikan kepada seseorang yang hidup sebelum mereka. Pertama, apabila malam pertama bulan Ramadan tiba, maka Allah memandang mereka dengan kasih sayang, dan siapa yang dipandang Allah dengan kasih sayang, maka Dia tidak akan menyiksanya sesudah itu untuk selama-lamanya. Kedua, Allah menyuruh para malaikat memohon ampunan untuk mereka. Ketiga, bau mulut orang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari pada minyak kasturi (misik). Keempat, Allah berkata kepada surga: “Berhiaslah engkau!,” dan berkata: “Berbahagialah hamba-hamba-Ku yang beriman. Mereka adalah kekasih-kekasih-Ku. Dan kelima, Allah mengampuni mereka semua.

Takhrij Hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bayhaqi dalam Fada’il al-Awqat dan Shu‘ab al-Iman; dan al-Asfahani dalam al-Targhib. Semuanya dari Jabir bin ‘Abdullah melalui Zayid bin al-Hawari. al-Baihaqi berkata: “Dia da‘if.”[1]

Hukum Hadis: Da‘if.

Hadis ini dinilai da‘if, karena sanad-nya da‘if, disebabkan da‘if-nya Jabir bin ‘Abdullah. Meskipun Hadis ini mempunyai shahid dari Hadis Abu Hurayrah yang diriwayatkan juga oleh Ahmad dalam al-Musnad, al-Bazzar dalam al-Musnad, al-Baihaqi dalam kedua kitab di atas, al-Tabarani dalam al-Mu‘jam al-Kabir serta al-Tahawi dalam Mushkil al-Athar, akan tetapi semua riwayat itu melalui Hisham bin Zayid Abu al-Miqdam yang dinilai da‘if dalam Hadis, seperti dijelaskan al-Bazzar dan al-Haythami.[2]


[1] al-Bayhaqi, Fada’il al-Awqat, hlm.143-144 h.n. 35; al-Bayhaqi, Shu‘ab al-Iman, jil. 2, hlm 5, h.n. 3603; al-Isfahani, al-Targhib, jil. 2, hlm. 379, h.n. 1820.

[2] Ahmad, Musnad, jil. 2, hlm. 292; Ali bin Abu Bakar al-Haythami, Kashf al-Astar ‘an Zawa’id al-Bazzar, Mu’assasah al-Risalah, Bayrut, 1979, jil. 1, hlm. 458; al-Bayhaqi, Fada’il al-Awqat, hlm. 145-146 h.n. 36; Shu‘ab al-Iman, jil.  2, hlm. 5, h.n. 3602; al-Haythami, Majma‘ al-Zawa’id, jil. 3, hlm. 140.