Syarat-syarat dalam Jarh wa al-Ta’dil


Dalam Jarh wa al-Ta’dil ada beberapa hal yang harus dipenuhi, kriteria tersebut dibagi lagi menjadi beberapa poin, yaitu:

  1. Syarat orang yang menjarh dan orang yang menta’dil:
    • Mempunyai ilmu, wira’, taqwa, dan jujur
    • Mengetahui sebab-sebab jarh dan ta’dil
    • Mengetahui penggunaan bahasa arab dengan benar
  2. Adab (tata krama) orang yang menjarh dan yang menta’dil:
    • Menta’dil untuk kepentingan agama (tazkiyah)
    • Tidak boleh menjarh melebihi kebutuhan
    • Tidak boleh menyingkat hanya pada tataran jarh semata
    • Tidak boleh menjarh orang yang tidak butuh untuk di jarh.
  3. Syarat diterimanya jarh dan ta’dil:
    • Jarh wa al-Ta’dil harus berasal dari orang yang memenuhi syarat sebagai jarih dan mu’addil (kritikus).
    • Jarh tidak diterima kecuali terperinci atau jelas sebabnya, sedangkan ta’dil tidak harus jelas.
    • Diterima jarh dengan cara yang global dan tidak terperinci bagi orang yang tidak menerima ta’dil. Hal ini seperti yang diikuti Ibn Hajar.
    • Jarh selamat dari hal-hal yang mencegah diterimanya.
  4. Penetapan (diterimanya) jarh wa al-ta’dil:
    • Ditetapkan dua orang ahli jarh wa ta’dil (kritikus).
    • Ada penetapan di antara ahli riwayat bahwa si Fulan adalah tsiqat.
  5. Pertentangan antara jarh dan ta’dil, jika itu terjadi, maka ada kaidah: jarh didahulukan atas ta’dil tetapi dengan syarat:
    • Jika jarh terperinci dan jelas serta memenuhi beberapa syarat.
    • Orang yang menjarh adalah orang yang segolongan dengan yang dijarh.
    • Orang yang menta’dil tidak menjelaskan bahwa jarh ditolak dari seorang rawi.
  6. Hal-hal yang tidak disyaratkan dalam jarh wa al-ta’dil:
    • Laki-laki dan merdeka.
    • Dua laki-laki.