Riwayat Mukhtalit


Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelum ini, ikhtilat terjadi pada usia akhir seorang perawi. Jika seorang yang berusia 80 tahun, lalu beliau terindikasi pikun pada usia 78 tahun. Apakah semua riwayat beliau tidak diterima, padahal beliau mulai meriwayatkan hadis pada usia 35 tahun.

Jika menggunakan kaedah jarh wa ta’dil, mereka adalah orang yang dha’if, maka riwayatnya juga dha’if. Namun jika menggunakan kaedah ilmu ‘ilal, mereka dha’if bukan sejak awal, akan tetapi pada dua tahun terakhir. Karena itu hadsinya hanya didha’ifkan pada periwayatan di dua tahun terakhir saja.

Untuk memilah periwayatan mereka yang mukhtalit, para ulama mencari tahu kapan perawi ini terindikasi ikhtilat. Kemudian, siapa saja yang meriwayatkan dari beliau setelah kejadian ini? Maka, mereka yang meriwayatkan sebelum ikhtilat riwayatnya dapat diterima dan bisa dishahihkan, sedangkan mereka yang meriwayatkannya setelah ikhtilat maka riwayatnya lemah.