Point-point Pemikiran Ignaz Goldziher
- Hadis tidak lebih sekedar catatan atas kemajuan yang dicapai Islam di bidang agama, sejarah dan sosial pada abad pertama dan kedua hijrah; hampir tidak mungkin untuk meyakinkan bahwa hadis dapat dinyatakan sebagai asli dari Muhammad atau generasi sahabat Rasul.
- Perbedaan hadis dan sunnah dipertahankan. Hadis bermakna suatu disiplin ilmu teoritis dan sunnah adalah kopendium aturan-aturan praksis. Satu-satunya kesamaan sifat antara keduanya adalah bahwa keduanya berakar secara turun temurun.
- Sunnah atau disebut adat kebiasaan adalah kebiasaan-kebiasaan yang muncul dalam ibadah dan hukum yang diakui sebagai tata cara kaum muslim pertama yang dipandang berwenang dan telah dipraktekkan. Sedangkan hadis adalah bentuk yang memberikan pernyataan tata cara tersebut.
- Sunnah merupakan revisi atas adat istiadat yang terjadi masa lalu, walaupun tidak menguatkan dalam arti keseluruhan. Bukan saja hukum dan adat kebiasaan, tetapi doktrin politik dan teologi pun mengambil bentuknya dalam hadis, apa saja yang dihasilkan Islam sendiri ataupun yang dipinjam dari luar diberi wadah dalam hadis. Bagian-bagian dari perjanjian lama dan baru, kata-kata rabbi, kutipan injil, doktrin-doktrin Yunani, bahkan do’a pun ada. Untuk semua itu pintu dibuka oleh Islam dan tampil kembali sebagai ucapan-ucapan Nabi.
- Seperti digambarkan M.M. Azami bahwa Goldziher mengatakan gambaran masyarakat Muslim abad pertama:
- Orang-orang Islam berperang dengan baju Islam.
- Orang-orang Islam ternyata tidak mengetahui tata cara shalat.
- Masyarakat Islam ternyata bodoh sekali.
- Bangsa Arab saat itu belum sempurna pemikirannya.
- Ada orang menyangka sedang membaca al-Qur’an, padahal ia hanya bersyair.
- Sudah ada gerakan memalsukan hadis sejak dini dalam sejarah Islam.
- Untuk menetapkan keshahihan suatu hadis tidak hanya ditentukan oleh kajian sanad hadis, tetapi juga perlu kritik matan hadis.
- Hadis sebagai corpus yang berisikan perkataan, perbuatan, dan taqrir Nabi saw jika dilihat dari sejarah perkembangan yang kerapkali berbaur dengan kepentingan politik, maka akan sulit meyakinkan bahwa otentisitas hadis dapat dipertanggungjawabkan. Ia lebih cenderung pada “sikap hati-hati yang skeptis daripada kepercayaan yang optimis” (skeptical caution rather than optimistic trust).
- Beberapa alasan yang menyebabkan Goldziher meragukan keshahihan hadis Nabi;
- Pertama, koleksi hadis belakangan tidak meyebutkan sumber tertulisnya dan memakai istilah-istilah isnad yang lebih mengimplikasikan periwayatan lisan daripada periwayatan tertulis.
- Kedua, adanya hadis-hadis yang kontradiktif satu sama lain.
- Ketiga, perkembangan hadis secara massal sebagaimana terdapat dalam koleksi hadis belakangan tidak termuat dalam koleksi hadis yang lebih awal.
- Keempat, para sahabat kecil lebih banyak mengetahui Nabi, dalam arti mereka lebih banyak meriwayatkan hadis dari pada para sahabat besar.