Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan dalam menerima hadis/sebuah riwayat. Cara tertentu dinilai berbeda keabsahan dan kekuatannya dengan cara yang lain. Semua bersandar pada kemungkinan adanya kesalahan mendengar atau merekamnya dalam tulisan.
Cara menerima hadis adalah:
- Mendengar sendiri dari perkataan gurunya (السماع من لفظ الشيخ), baik secara dikte atau bukan, baik dari hafalannya maupun dibaca dari tulisannya. Metode sama’ ini dinilai paling tinggi karena lebih meyakinkan tentang terjadinya riwayat.
Adapun lafadz yang biasa digunakan adalah:- أخبراني, أخبرنا (seseorang telah mengabarkan padaku/kami)
- حدثني, حدثنا (seseorang telah bercerita kepadaku/kami)
- سمعت, سمعنا (seseorang telah mendengar, kami telah mendengar)
- Murid membaca hadis di depan gurunya ((القراءة علي الشيخ, baik ia sendiri yang menyampaikan atau yang mendengar yang meriwayatkan, di antara lafadznya adalah:
- قرأت عليه (saya telah membaca dihadapannya).
- قرأ علي فلان وأنا أسمع (dibacakan oleh seseorang di hadapannya (guru) sedang saya mendengarkannya).
- حدثنا او أخبرنا قرأة عليه (telah mengabarkan padaku secara pembacaan di hadapannya).
- Ijazah, yaitu pemberian izin dari seseorang kepada orang lain untuk meriwayatkan hadis darinya atau dari kitab-kitabnya. Ijazah ini ada beberapa macam, yaitu:
- Izin untuk meriwayatkan suatu yang tertentu kepada orang tertentu, seperti dengan lafal:
اجزت لك رواية الكتاب الفلاني عني - Izin untuk meriwayatkan sesuatu yang tidak tertentu kepada orang tertentu, seperti dengan lafal:
اجزت لك جميع مسموعاتي او مروياتي - Izin untuk meriwayatkan sesuatu yang tidak tertentu kepada orang yang tidak tertentu, seperti dengan lafal:
اجزت لك للمسلمين جميع مسموعاتي
- Izin untuk meriwayatkan suatu yang tertentu kepada orang tertentu, seperti dengan lafal:
- Munawalah, yaitu seorang guru memberikan sebuah naskah asli kepada muridnya atau salinan yang sudah dikoreksinya untuk diriwayatkan, ada dua macam:
- Diberi ijazah, lafal periwayatannya:
انبأني, انبأنا - Tidak diberi ijazah, lafal periwayatannya:
ناولني, ناولنا
- Diberi ijazah, lafal periwayatannya:
- Mukatabah, yaitu seorang guru yang menulis sendiri atau menyuruh orang lain untuk menulis beberapa hadis kepada orang di tempat lain atau yang ada di hadapannya. Di sini juga ada dua:
- Dibarengi ijazah, contoh lafal periwayatannya:
أجزت لك ما كتبته اليك - Tidak dibarengi ijazah, contoh lafal periwayatannya:
قال: حدثنا فلان , حدثني فلان كتابة, أخبراني فلان كتابة, كتب الي فلان
- Dibarengi ijazah, contoh lafal periwayatannya:
- Wijadah, yaitu memperoleh tulisan hadis orang lain yang tidak diriwayatkan dengan sama’, qira’a maupun selainnya dari pemilik hadis atau pemilik tulisan tersebut, contoh lafal periwayatannya:
- قرأت بخط فلان
- وجدت بخط فلان, حدثنا فلان
- Wishoyah, yaitu pesan seseorang dikala akan meninggal atau bepergian dengan sebuah kitab atau tulisan supaya diriwayatkan. Lafalnya:
اوصي الي فلان بكتاب قال فيه حدثنا الي اخره - I’lam, yaitu pemberitahuan guru kepada muridnya bahwa hadis yang diriwayatkannya adalah riwayatnya sendiri yang diterima dari seorang guru dengan tidak mengatakan (menyuruh) agar si murid meriwayatkannya. Lafalnya:
أعلامني فلان قال حدثا