Kritik atas Schacht


Di antara tokoh yang menaruh perhatian pada teori e silentio Schacht adalah M.M.Azami dan Zafar Ishaq Anshari.

  • Menurut Azami, Schacht hanya mengeluarkan teori yang hanya berdasarkan asumsi belaka, bahkan asumsi itu dinilai tidak berdasar dan juga tidak ilmiah.
  • Penilaian Azami tersebut didasarkan pada argumen Schacht sendiri yang dinilai tidak konsisten, karena menurut Azami, Schacht berargumen:
    1. Dua generasi sebelum Syafi’i, referensi kepada hadis Nabi adalah pengecualian.
    2. Semua mazhab fiqh klasik memberikan perlawanan kuat terhadap hadis-hadis Nabi.
  • Dari argumen tersebut, Schacht sendiri menyatakan bahwa suatu hadis pernah digunakan sebagai argumen hokum.
  • Jadi argumen e silentio yang digunakan Schacht disalahkan oleh Schacht sendiri.
  • Selain itu ada beberapa poin yang ditawarkan Azami yang perlu dibuktikan untuk meneliti argumen Schacht dengan obyektif, yaitu:
    1. Bahwa jika hadis-hadis tertentu tidak disebutkan oleh ulama terdahulu, terbukti adanya pengabaian ulama terhadap hadis tersebut.
    2. Bahwa semua karya ulama masa awal telah dicetak dan tidak ada yang hilang, sehingga ditemukan semua kompilasi mereka.
    3. Bahwa pengabaian satu orang ulama terhadap hadis tertentu cukup sebagai bukti bahwa suatu hadis tidak ada.
    4. Bahwa ilmu pengetahuan yang diketahui oleh satu orang ulama pada masa tertentu pasti telah diketahui oleh semua ulama yang sezaman dalam cabang ilmu pengetahuan tersebut.
    5. Bahwa ketika seorang ulama menulis suatu obyek, dia menggunakan semua bukti yang ada pada masa itu.
  • Dari analisa tersebut, Schacht telah gagal untuk membuktikan poin-poin di atas.
  • Selain itu, Azami juga menyimpulkan bahwa Schacht tidak memahami tradisi yang berkembang di kalangan ulam pada waktu, karena mereka terbiasa menghilangkan nama-nama tertentu bahkan sumber bahwa teks tersebut adalah hadis, mereka melakukan hal tersebut karena mereka faham apa yang harus disebutkan dan mana yang tidak perlu dicantumkan.