Di antara tokoh yang menaruh perhatian pada teori e silentio Schacht adalah M.M.Azami dan Zafar Ishaq Anshari.
- Menurut Azami, Schacht hanya mengeluarkan teori yang hanya berdasarkan asumsi belaka, bahkan asumsi itu dinilai tidak berdasar dan juga tidak ilmiah.
- Penilaian Azami tersebut didasarkan pada argumen Schacht sendiri yang dinilai tidak konsisten, karena menurut Azami, Schacht berargumen:
- Dua generasi sebelum Syafi’i, referensi kepada hadis Nabi adalah pengecualian.
- Semua mazhab fiqh klasik memberikan perlawanan kuat terhadap hadis-hadis Nabi.
- Dari argumen tersebut, Schacht sendiri menyatakan bahwa suatu hadis pernah digunakan sebagai argumen hokum.
- Jadi argumen e silentio yang digunakan Schacht disalahkan oleh Schacht sendiri.
- Selain itu ada beberapa poin yang ditawarkan Azami yang perlu dibuktikan untuk meneliti argumen Schacht dengan obyektif, yaitu:
- Bahwa jika hadis-hadis tertentu tidak disebutkan oleh ulama terdahulu, terbukti adanya pengabaian ulama terhadap hadis tersebut.
- Bahwa semua karya ulama masa awal telah dicetak dan tidak ada yang hilang, sehingga ditemukan semua kompilasi mereka.
- Bahwa pengabaian satu orang ulama terhadap hadis tertentu cukup sebagai bukti bahwa suatu hadis tidak ada.
- Bahwa ilmu pengetahuan yang diketahui oleh satu orang ulama pada masa tertentu pasti telah diketahui oleh semua ulama yang sezaman dalam cabang ilmu pengetahuan tersebut.
- Bahwa ketika seorang ulama menulis suatu obyek, dia menggunakan semua bukti yang ada pada masa itu.
- Dari analisa tersebut, Schacht telah gagal untuk membuktikan poin-poin di atas.
- Selain itu, Azami juga menyimpulkan bahwa Schacht tidak memahami tradisi yang berkembang di kalangan ulam pada waktu, karena mereka terbiasa menghilangkan nama-nama tertentu bahkan sumber bahwa teks tersebut adalah hadis, mereka melakukan hal tersebut karena mereka faham apa yang harus disebutkan dan mana yang tidak perlu dicantumkan.