Ketika hadis baru diklasifikasikan dan ditentukan nilai otentitasnya, dan itu terjadi secara sistimatis, berterusan dan langsung dibukukan pada awal abad ke-3, maka apa yang diterima oleh para penulis kitab hadis tadi adalah berupa kabar.
Kabar, atau berita, mempunyai dua kemungkinan: Benar atau bohong.
Kebenaran kabar yang tidak dapat dilihat dengan mata seperti perkataan Nabi saw /hadis tergantung dari sumber berita.
Sumber berita tersebut apakah dapat dipercaya atau tidak.
Konsep penilaian ini, masih digunakan semua orang hingga kini dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Contoh: ketika kita datang ke kantor, bukankah kita sering bertanya kepada satpam yang menjaga kantor: Apakah bos sudah datang?
Jika kita percaya kepada kejujuran si Satpam, maka berita yang disampaikan akan kita nilai benar. Jika sebaliknya, maka penilaian kita terhadap kabar/berita/hadis yang disampaikan adalah terbalik juga.
Penilaian kita terhadap kejujuran dan ketidakjujurannya Satpam adalah hasil analisa kita terhadap kejadian yang selama ini kita lihat atau dengar.